SOMALANGU DI MASA KECILKU (3) ( DOLANAN )

Foto0000Tulisan ini adalah kelanjutan dari serial tulisan saya tentang desa Sumberadi dimasa kecilku, oleh karena itu agar nyambung, sebaiknya dibaca juga terlebih dahulu tulisan di blog ini yang berjudul ‘ Somalangu di masa kecilku (1)’ dan ‘Somalangu dimasa kecilku (2)’.
Kenapa kali ini saya tulis tentang dolanan, karena dolanan adalah bagian dari budaya lokal, yang kadang kadang sarat nilai nilai, terutama bagi yang bisa mendalaminya. Dolanan di Sumberadi , kampung halamanku mungkin saat ini sudah punah , kalau mereka yang berumur 35 tahun ditanya tentang itu, mungkin sudah tidak ada yang mengenalnya, tetapi pada masanya dolanan juga bisa menjadi sarana hiburan, pendidikan ,pergaulan dan pewarisan nilai nilai sosial yang ada. Saya ingin tulis hal ini, semoga ada penggali budaya lokal bisa menggali lebih lanjut. Tulisan ini saya buat apa adanya, tanpa opini, tafsir apalagi analisa dan pendalaman nilai2 yang terkandung didalamnya ( kalau ada ).
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Somalangu tanah kelahiranku | 1 Komentar

Nonton Siaran Langsung Dari Masjidil Haram.

des0324Setelah berlangganan Telkomvision (bukan promo lo) , mana kala saya sedang berada dirumah (Sabtu Ahad),saya dapat melhat dan karenanya mencoba mengamati siaran langsung dari Masjidil Haram dan saya dapati beberapa hal yang menarik untuk diamati.
Televisi menayangkan Masjidil Haram dan lingkungan sekitarnya terus menerus selama 24 jam. Saya tidak tahu apakah acara tersebut life terus menerus apa hanya menjelang dan saat shalat fardhu, karena di pojok layar, kadang ada tulisan Mubasyir/ life kadang tidak. Pada saat tertentu (tetapi periodik) saya dapat melihat saat saat ada upaya mengosongkan tempat tempat tertentu, yaitu Hijir Ismail, tempat2 terdekat disekitar Ka’bah dan ruang yang cukup luas antara rukun Yamani dan rukun Hajar Aswad. Juga dapat dilihat bayang2 Ka’bah dan beberapa tiang di tempat terbuka , terutama penyangga cincin tempat thawaf (istilah saya saja) bagian yang menurut saya ada disebelah utara ka’bah. Dapat juga dilihat tanda waktu di pojok bawah layar , tanda waktu /jam digital kadang kadang juga jam raksasa yang berada di sebelah masjid. Masih banyak hal hal lain yang dapat diamati yang tidak relefan dengan tulisan ini. Dari hal hal tersebut, saya jadi ingin melihat dan mengamati untuk beberapa hal: Baca lebih lanjut

Dipublikasi di kapita selekta | Meninggalkan komentar

Istiwaain ( Yang Disempurnakan ? ) ( Sekedar catatan kecil )

Pada tanggal 5 Desember 2013 saya menghadiri Seminar Nasional tentang Istawaain ( Penemuan Bpk Drs Slamet Hambali MSi) sebagai alat pengukur arah Kiblat. Kedatangan saya sebagai tamu yang datang tidak dijemput dan pulang tak diantar, semata mata karena melihat pengumuman di Facebook.  Alat ini sangat sederhana karena hanya seperti Bencet/ Jidar biasa yang ditambah dengan satu tongkat lagi di salah satu pinggir lingkaran yg ditandai dengan angka 0 awal dari deretan angka sejumlah 360 yg melingkar di pinggir alas istiwaain sebagai lambang dari derajat2 lingkaran, berguna sebagai alat untuk membidik matahari, sementara tongkat utamanya tetap dan merupakan titik pusat lingkaran dari alas itsiwaain, dan ditambah dengan satu helai benang yg terikat longgar pada tongkat  utama dan dapat digerak gerakkan guna diarahkan ke azimuth Kiblat.

Cara penggunaannya juga sederhana, yaitu dengan membidik matahari ditempat yang telah ditentukan untuk menentukan azimuthnya, yaitu dengan meletakkan istiwaain sedemikian rupa sehingga bayang2 dari tongkat yg dipinggir mengarah tepat ke tongkat utama yg ditengah lingkaran. Bayang2 itulah adalah kebalikan dari azimuth Matahari saat itu, arahnya bisa dihitung dengan data dan rumus yang ada berapa besar azimuth matahari pada saat itu. Sebelumnya telah dihitung terlebih dahulu azimuth arah kiblat di tempat itu. Kemudian hitung pula selisih antara azimuth arah kiblat dan azimuth matahari. Arahkan benang dengan ditarik lurus2 ke arah selisih tersebut, itulah arah kiblat di tempat itu. Alat itu dilengkapi dengan beberapa perhitungan, yaitu perhitungan arah kiblat  dan perhitungan azimuth matahari disatu saat pada saat dilakukan pengukuran, kemudian selisih kedua azimuth tersebut. Sudah barang tentu untuk itu diperlukan data pendukung.

Setelah mendengar berbagai penjelasan dari pemakalah dan nara sumber lainnya, dan juga mendengar usul saran, pertanyaan2 dari audiens dan tanggapan dari nara sumber, saya  menangkap beberapa kesan yaitu : Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Falak | 1 Komentar

Wilayatul Hukmi Dan Waliyul Amri.(dharuri Bi Syaukah)

Membaca doa aqiba shalatin maktubah sebisanya

Mengikuti acara sidang Itsbat kementerian Agama lewat televisi, saya jadi teringat akhir tahun 1976 awal 1977, ketika saya harus menyelesaikan skripsi di fak Syariah IAIN(sekarang UIN)Sunan Kalijaga Yogyakarta . Skripsi saya, waktu itu berjudul Pengaruh Perbedaan Mathla dalam penentuan Awal dan Akhir Ramadhan menurut Syariat Islam, di bawah bimbingan Bapak Drs Abd Rahim. Judul itu sebenarnya judul alternatip,  Sebelumnya saya sudah punya judul yg juga sudah disetujui  Fakultas, yaitu  “Transformasi seks menurut syariat Islam. Tetapi karena harus mewawancarai dokter dari Singapura yg telah melakukan operasi  penggantian kelamin atas Fifian Rubiyanti, saya angkat tangan dan berganti judul , dan saya ambil judul diatas tentang ilmu falak yg jarang diminati orang. Judul itu di ilhami oleh Perintah Menteri Agama ad interim (Mendagri Amir Mahmud) kpd jajaran Dep Agama untuk meninjau ulang penetapannya tentang Idul Adha yang kala itu kebetulan berbeda dengan Idul Adha di Saudi Arabia. Pak Rahim sebagai pembimbing  senang dgn judul saya tersebut, karena kebetulan beliau akan menjadi utusan  Pemeintah RI (dep Agama) untuk suatu musyawarah tentang ilmu falak di Turki (kalau tidak salah) dan skripsi saya relevan dengan tugas beliau itu .  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di kapita selekta | 3 Komentar

Koreksi Koreksi Atas Hisab Hilal Awal Bulan Qomariyah. ( Sebuah Alternatif?)

pklngnSaya pernah menulis tentang sebuah kritik terhadap hisab modern, yg intinya, pengertian hilal harus dibedakan dengan pengertian qamar secara umum, dan koreksi tinggi hakiki qamar agar menjadi tinggi hakiki hilal dengan semi diameter harus ditinjau ulang.

Saya pernah membaca tulisan di FB, se olah olah penilaian atas semi diameter (s.d) sebagai alat koreksi ketinggian hilal terdapat 3 kubu. Tinggi hilal dipergunakan untuk mengurangi tinggi hakiki, untuk menambah tinggi hakiki, dan sd diabaikan saja.

Saya termasuk yang berbeda dengan pendapat pendapat itu. Menurut saya tinggi hakiki qomar  untuk menjadi tinggi hakiki hilal harus dikoreksi dulu dengan sesuatu yang merupakan gabungan antara semi diameter, tinggi hakiki qomar sendiri dan selisih azimuth matahari dan bulan.

Setelah saya membaca beberapa polemik tentang wujudul hilal, dan imkanurukyah, terpikir oleh saya , bahwa perlu juga dilakukan koreksi terhadap tahap  tahap koreksi ketinggian bulan (qamar) agar menjadi ketinggian hilal hakiki ataupun mar’i, yang dapat pula menampung aspirasi hisab imkanurrukyah, bagi para pemula ilmu hisab. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Falak | 3 Komentar

Menjenguk Bencet/ Jidar di Masjid Agung Demak Jawa Tengah.

001Di masjid Agung Demak, dihalaman sebelah utara ada bencet yang alhamdulillah saya sempat memotonya sekedar untuk kenang kenangan. Saya pernah juga mengambil foto bencet yg sudah dimusiumkan di Musium Kabah di Makah Almukaromah, tepatnya di arah perjalanan ke Masjid Hudaibiyah dan peternakan unta.
Kesan pertama, mungkin Bencet itu sudah merupakan bagian dari cagar budaya masjid, sehingga walau sudah rusak2(pecah pecah bagian alas datarnya ) tetapi masih tetap dipertahankan. Kemudian ada juga kesan kurang terpelihara dan hampir tidak ada yang memperhatikannya. Berbeda dengan Bencet lain yg pernah saya lihat, bidang datarnya berupa lingkaran bundar, yg titik pusat dimana tongkat istiwa ditancapkan berada agak jauh ketepi barat, sehingga bagian timurnya lebih luas. Banyak informasi ditandai disana. Sedikit berbeda pula adalah, kalau ditempat lain, tongkat istiwa berbentuk bulat panjang, tetapi disini seperti balok, yang alasnya merupakan bujur sangkar, dan panjangnya tujuh kali sisi bujursangkar
Setelah sampai di rumah saya coba cermati, saya lihat beberapa garis penting, antara lain garis/kotak petunjuk awal musim sesuai pranoto mongso. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Falak | Meninggalkan komentar

Menelusuri Sejarah Berdirinya NU di Kebumen

Pengantar

M2081S-1029Tulisan ini agak menyimpang dari tujuan awal saya membuat blog, awalnya akan saya kirim ke websitenya PCNU Kebumen yang pernah memuat tulisan tentang sejarah PCNU Kebumen, tetapi karena kelihatannyawebsite PCNU sementara kelihatan jarang di update dan tulisan ini sudah terlanjur saya tulis , maka biarlah saya muat di blog saya sendiri, mudah2an ada Nahdhiyin Kebumen yang membacanya

Menelusuri Sejarah Berdirinya NU di Kebumen

Cabang NU Kabupaten Kebumen yang dirintis sekitar tahun 1936 dengan diprakarsai oleh ulama besar di Kebumen KH Ahmad Nasokha Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso, Bumirejo Kebumen. Bukti sejarah berdirinya Cabang NU ditandai piagam pendirian yang ditandatangani oleh KH Mahfudz Sidiq dan Haji Aziz Dijar, selaku ketua dan sekretaris PB NU. Awal pendirian PCNU Kebumen sekretariatnya di Pondok pesantren Salafiyah Wonoyoso. Adapun susunan pengurus pertama (1936 – 1942) adalah Ketua I KH Affandi, Ketua II : KH Abu Jar’i dan sekretarisnya H. Ashari.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di kapita selekta, Uncategorized | 6 Komentar