Belajar Jadi Nakoda. (mencari kordinat satu tempat dilaut)

aku2Semasa saya bekerja di Kalimantan dulu, pesawat terbang belum sebanyak sekarang, beberapa kali saya melakukan perjalanan dengan kapal. Perjalanan pertama dari Surabaya ke Balikpapan dengan kapal barang selama tiga malam dua hari. Dikerjai oleh calo dan mabuk laut terus menerus. Pernah juga dari Tanah Grogot ke Samarinda, diawali dgn menelusuri Sei Kandilo, sampai ke Balikpapan, ganti angkot ( orang orang Balikpapan menyebutnya taksi kota) menuju Handil, disambung lagi dengan speadbout ke Samarinda , total perjalanan 18 jam lebih. Mulai bisa menikmati berlayar dilaut adalah ketika membawa anak anak grup kasidah ke Tanjung Aru. Waktu itu saya mencoba memegang kemudi, karena terlalu kepinggir akhirnya kandas ke gundukan pasir dibawah permukaan air. Lalu rame rame didorong  ke tengah, padahal konon di dalam air banyak binatang yg bernama bulu babi yg beracun itu.

Yang sangat berkesan dan saya memperoleh sesuatu yang berhubungan dengan ilmu Falak adalah waktu saya mengikuti rombongan kafilah MTQ Kab Pasir (sekarang Paser) menuju Tanjung Redep Kab Berau. Rombongan cukup besar, karena disamping membawa Qari dan Qariah, juga membawa Grup Kasidah/Rebana yg juga diperlombakan disana. Kami Carter sebuah kapal  yang biasanya di pergunakan untuk mensuplei bahan bakar bagi rambu rambu/suar yg tersebar di laut /pulau kecil mapun pantai.

Saya sering berada di ruang kemudi, dimana antara Nakoda dan mualim I bergantian selalu berada di situ. Saya tertarik melihat nakoda sesekali, mengarahkan teropongnya ke laut lepas, kemudian mencoret coret kertas di meja nakoda. Ternyata disitu ada kompas besar, teropong , peta laut dalam aneka ukuran, dan mistar dobel serta pensil. Setelah saya tanya ini itu, saya mendapatkan hal hal sebagai berikut :

Ketika kapal mulai pelayarannya (walau bukan kapal layar sehingga otomatis tampa layar)  menyusur sungai menuju muara, yg dicermati adalah peta besar (berarti sekalanya kecil?) disitu ada kedalaman laut di sekitar muara sungai (kandilo) secara terinci tiap jam, gunanya adalah  untuk memperhitungkan ketika kapal sampai ke Muara Pasir ( nama muara sungai kandilo)  kedalaman laut memungkinkan kapal lewat dengan aman. Data dalam peta itu diambil dari Almanak nautika. Saya baru sadar bahwa ternyata  data yg disediakan oleh penyusun Alamanak nautika bukan hanya untuk kami para peminat ilmu Hisab, tetapi juga bagi para pelaut. Walau menurut perhitungan ketika kami sampai di muara, kedalaman air sudah aman, tetapi untuk keamanan dari kemungkinan kandas, maka para awak kapal tetap melakukan pengukuran kedalaman air secara manual. Tadinya saya bingung bagaimana mengukur kedalaman air itu, ternyata sangat sederhana, yaitu dengan menurunkan tali yg diberi bandul pemberat, dan pada tiap meter ada tandanya, sehingga ketika bandul tali sudah sampai ke dasar laut,dari tanda yg ada pada bagian tali yg ada di permukaan air itu dapat diketahui berapa kedalaman air saat itu di tempat itu. Satu Pengalaman baru bagi saya.

Ketika kapal sudah keluar dari muara sungai dan menuju laut lepas, maka peta yg di perhatikan adalah peta yg lebih luas, yg menggambarkan keadaan seluruh bagian selatan dari pantai timur Kalimantan  dan laut yg akan diarunginya.

Kegiatan yang dilakukan adalah menentukan rute perjalanan menuju tujuan, kemudian mengarahkan haluan kearah yg akan dituju, dan membuat prediksi  kapal akan berjalan lurus  untuk beberapa waktu, dengan kecepatan maksimal. Untuk itu harus diperkirakan lebih dulu posisi kapal saat itu kedalam peta. Lalu teropong diarahkan ke arah rambu laut misalnya ujung sebuah tanjung ( bisa juga berupa  bukit atau pulau kecil atau lainnya).  Dari kompas bisa diketahui azimut rambu tersebut. Kemudian pada peta dibuat garis azimuth tsb., dimulai dari rambu tersebut ke arah yg berlawanan dgn azimuth rambu tadi. Lalu dibidik rambu lain yg berbeda arah dengan rambu pertama, dan dibuat pula garis  azimuth pula. Pada titik temu dari dua garis azimuth dalam peta itulah posisi kapal kita saat itu. Kemudian dari titik kordinat posisi kapal itu, dibuat garis ke arah mana kapal akan dituju, yg dapat diarungi lurus untuk jarak tertentu yg tanpa melewati penghalang  semacam bukit karang di dalam laut atau pulau atau lainnya. Berdasar skala pada peta itu dapat diketahui berapa mil kapal itu dapat berjalan lurus, dan dgn memperhitungkan kecepatan kapal , dapat ditentukan perkiraan berapa jam jarak itu dapat ditempuh, empat jam misalnya. Haluan kapalpun dapat diarahkan kesana, kecepatan diatur oleh jurus mesin, Nakoda atau mualim yg bertugas tinggal memonitornya .Saya mengambil kesimpulan sendiri, bahwa bila dalam bagian pinggir peta itu ada keterangan tentang kordinat baik lintang maupun bujurnya, maka  posisi kapal itupun dapat diketahui lintang dan bujurnya melalui interpolasi. Menjelang akhir jangka waktu tersebut, harus dilakukan cek  posisi terakhir, karena dimungkinkan terdapat penyimpangan, baik karena dorongan arus dari belakang yg berarti kecepat bertambah, arus air dari depan yg dapat mengurangi laju kecepatan kapal, maupun arus dari samping, yg dapat membelokkan arah kapal.

Satu saat di Selat Bali dgn keluarga

Satu saat di Selat Bali dgn keluarga

Pengukuran posisi kapal dilakukan seperti terdahulu, dari hasilnya dapat ditentukan apakah kapal masih harus berjalan lurus atau sudah harus berbelok, sesuai rute yg telah ditentukan . Demikanlah pengukuran pengukuran dilakukan berulang ulang sampai akhirnya kapal masuk ke Sungai yg menuju Tanjung redep.

Saya pernah diam diam mencoba praktek melakukan pengukuran sendiri, ketika mualim /nakoda lengah. Ketika saya menggerakkan mistar dobel dengan gaya seperti yg dilakukan oleh Mualim, ternyata peta dibawahnya robek sedikit.  Saya diam diam ngloyor pergi takut ketahuan.

Saya merasakan , hal itu sangat bermanfaat bagi menentukan kordinat satu tempat dengan menggunakan peta  untuk desa atau kampung yg tidak ada tabel yg menyebut kordinatnya. Maklum saat itu belum ada GPS. Ternyata kemudian ketika saya mengikuti pelatihan  pada MABIMS dua th 2001, Ketika Bpk Nabhan Mas putra mengajarkan cara mencari kordinat  satu tempat dengan menggunakan peta, meskipun caranya berbeda, bagi saya sudah tidak begitu asing lagi.

Pada perjalanan lain waktu saya dari Banjarmasin menuju Semarang dengan menggunakan kapal penumpang di bulan Ramadhan. Menurut informasi kapal akan berlayar sekitar 16 jam. Setelah saya ketahui jam berapa kapal akan berangkat , dan dengan prediksi kapal akan berjalan lurus dari Banjarmasin ke Semarang, maka dengan peta saya dapat perkirakan kira sekitar magrib kapal akan berada pada kordinat sekian, dan dari kordinat itu dengan bantuan Buku Pedoman waktu salat sepanjang masa karangan Bapak Saaduddin Jambek , dapatlah saya tentukan waktu magrib jam sekian. Lalu menjelang jam tersebut saya ngajak teman saya Drs Suadi Aef ( sekarang sudah meninggal) untuk memantau saat terbenamnya matahari. Subhanallah, ternyata matahari terbenam tepat sesuai dengan hitungan saya. Saya kagum dengan Bapak Saaduddin jambek, yg waktu itu belum jamannya kalkulator apa lagi programeble ataupun komputer, sehingga yakin beliau menghitung hanya dengan bantuan daptar logaritma. Yang lucu ketika kemudian saya mengajak untuk berbuka puasa, teman saya tadi bertanya, apakah menurut jadwal magrib sudah tiba?  Saya jawab lho akhir puasa kan ketika matahari terbenam, dan baru saja kita menyaksikan terbenamnya matahari. Apa kita masih memerlukan jadwal? Kamipun tertawa dan segera berbuka puasa. Saya teringat ini semua ketika baru baru ini membaca status di fb ketika ada sesorang yg ingin membuat skripsi tentang rosdul ka’bah dalam kapal yg sedang berjalan.

Semarang 29 januari 2013.

Manshur Mu’thy A Kaafy

Pos ini dipublikasikan di kapita selekta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s