Nonton Siaran Langsung Dari Masjidil Haram.

des0324Setelah berlangganan Telkomvision (bukan promo lo) , mana kala saya sedang berada dirumah (Sabtu Ahad),saya dapat melhat dan karenanya mencoba mengamati siaran langsung dari Masjidil Haram dan saya dapati beberapa hal yang menarik untuk diamati.
Televisi menayangkan Masjidil Haram dan lingkungan sekitarnya terus menerus selama 24 jam. Saya tidak tahu apakah acara tersebut life terus menerus apa hanya menjelang dan saat shalat fardhu, karena di pojok layar, kadang ada tulisan Mubasyir/ life kadang tidak. Pada saat tertentu (tetapi periodik) saya dapat melihat saat saat ada upaya mengosongkan tempat tempat tertentu, yaitu Hijir Ismail, tempat2 terdekat disekitar Ka’bah dan ruang yang cukup luas antara rukun Yamani dan rukun Hajar Aswad. Juga dapat dilihat bayang2 Ka’bah dan beberapa tiang di tempat terbuka , terutama penyangga cincin tempat thawaf (istilah saya saja) bagian yang menurut saya ada disebelah utara ka’bah. Dapat juga dilihat tanda waktu di pojok bawah layar , tanda waktu /jam digital kadang kadang juga jam raksasa yang berada di sebelah masjid. Masih banyak hal hal lain yang dapat diamati yang tidak relefan dengan tulisan ini. Dari hal hal tersebut, saya jadi ingin melihat dan mengamati untuk beberapa hal:
1.Peluang cium Hajar Aswad.
Biasanya dengan pengalamannya, para jamaah haji selalu menganjurkan kepada jamaah yang akan berangkat haji atau umrah, untuk berusaha mencium Hajar Aswad lewat jalur multazam, setelah merapat di dinding kabah, lalu pelahan lahan bergeser kekiri dan akhirnya sampai ke Hajar Aswad. Dari pengamatan lewat televisi kelihatannya ada peluang lain yang lebih aman. Setiap menjelang dzuhur ruang antara rukun Yamani dan rukun Hajar Aswad selalu dikosongkan hingga selesainya shalat dzuhur. Proses pengosongannya dilakukan dengan merentang tali dari rukun Yamani ke arah hajar aswad dengan membuat sudut lancip di rukun yamani. Antara ujung tali yang satunya dengan rukun hajar aswad dijaga oleh beberapa asykar, dan jamaah yang sudah terlanjur didalam tali tersebut dibiarkan berangsur angsur meninggalkan tempat itu sesuai arus tawaf, sementara tidak ada jamaah baru yang masuk kelingkungan itu. akhirnya yang tinggal di daerah tersebut menipis, dan sebelum habis tinggallah mereka yg merapat di dinding kabah seperti orang sedang antri mencium Hajar Aswad, dan asykarpun merapikan baris antrian tersebut dan malah mengatur mereka untuk mencium Hajar Aswad secara tertib.Beberapa kali situasi seperti itu tampak jelas di televise.Trik mencium Hajar Aswad seperti ini mungkin bisa dicoba.
2. Menguji arah Kiblat Indonesia.
Saya pernah menonton sesuatu di Yutube, yang antara lain menjelaskan tentang relief di Candi Borobudur,yang menceritakan tentang kisah Raja Bulqis dari Negeri Saba dan Nabi Sulaiman a.s. Naratornya menyebutkan bahwa dari rukun Syami di kabah, kalau dibuat garis lurus diagonal ke arah rukun Hajar Aswad, dan terus memanjang keluar, maka akan sampai ke Candi Borobudur. Pada mulanya saya langsung menganggapnya sebagai pernyataan yg mengada ada, tetapi kemudian terpikir oleh saya tidak mungkin orang tersebut berani membuat pernyataan kalau tidak punya dasar. Saya jadi ingin mencoba membuktikan dengan melihat bayang bayang kiblat saat matahari berkulminasi, untuk menguji benar tidaknya pernyataan tersebut. Setidak tidaknya mendekati tepat, karena semua data yang bisa diambil serba global, dan hanya berdasar pengamatan lewat layar televisi.
Mungkin dianggap mengada ada, tetapi sebenarnya dasar pemikirannya sangat sederhana. Untuk itu dapat dilihat dulu ilustrasi berikut ini

20140707_110825Kabah adalah sebuah kubus ditambah dengan hijir Ismail
Ry = rukun yamani rs = rukun syami, ri = rukun Iraqi dan = rha rukun hajar aswad.
Garis rha- ri’ adalah bayang dinding kabah saat matahari berkulminasi dibulan Desember dan itu adalah garis selatan utara.
Kalau dikatakan garis lurus yg menghubungkan rs dan rha bila diperpanjang terus akan sampai ke Borobudur, maka dapatlah dikatakan bahwa garis rha –rs , menunjuk arah azimuth yang sama dengan azimuth arah kiblatnya Candi Borobudur, atau katakanlah Indonesia, dan itu kira2 sebesar 295 dari utara searah dengan jarum jam atau 65 dari utara ke barat. Karena alas kabah menyerupai sebuah bujur sangkar, maka sudut rs-rha-ri sekitar 45. Kalau sudut ri-rha-ri’ bisa diperkirakan sebesar 20 (yaitu azimut Arah kiblat dikurangi sudut rs-rha-ri 45)), maka garis rha rs adalah searah karena merupakan kepanjangan dari arah kiblat Borobudur/Indonesia. Sudah tentu hanya perkiraan, karena alas kabah hanya diperkirakan merupakan sebuah bujur sangkar. Konon dalam kenyataan tidak persis berupa bujur sangkar dan sudut masing2 rukun juga tidak diketahui apakah betul2 sudut siku atau tidak.dan gambar sudut ri-rha-ri’ juga hanya perkiraan, bukan hasil foto dari atas persis. Saya pilih pengamatan atas bayang2 dinding antara hajar asad dengan rukun Iraqi, karena bagian disitulah yang paling sering tampak dilayar , dan mudah dikenali yaitu yang ada pintu kabahnya, dan dipilih bulan Desember agar bayang kabah kelihatan agak panjang, dan waaktu itu menimbulkan garis yg mirip garis daalam gambar ilustrasi.

3. Membetulkan jarum jam.
Pada saat menjelang kumandang adzan untuk shalat fardhu, tilawatil quran yang terus menerus mengumandang, berhenti, dan dilayar bagian bawah muncul tulisan saat saat menunggu adzan, dn muncul juga tanda waktu dalam bentuk digital .Tanda waktu itu tampak terus sampai shalat jamaah berlangsung. Sekali sekali muncul juga jam raksasa. Saya pernah mencoba mencocokkan jam tersebut ternyata sama dengan waktu WIB dikurangi 4 jam.
4. Mengkritisi jadwal waktu shalat/Adzan
Tentang hal ini, saya jadi teringat pada hal lain. Waktu saya Umrah tahun 2010 bersama anak, saya melihat jadwal waktu shalat yang ada di masjid Nabawi. Anak saya, mempertanyakan adanya angka angka yang aneh di dalam jadwal tersebut, karena menggunakan dua system waktu, yaitu waktu zawali seperti yang kita kenal di Indonesia, dan waktu ghurbi, yaitu perhitungan waktu dimulai dari saat magrib, sehingga awal magrib selalu di nyatakan sebagai jam 00 atau jam 12. Isya sekitar jam setengah delapan dst. Ketika saya umrah lagi di th 2012 dan kebetulan bulan Romadhon pembimbing dari biro umrah mengatakan bahwa waktu isya di Arab (Makkah atau Madinah) selalu satu setengah jam setelah magrib, dan husus di bulan Romadhan selalu dua jam. Dalam hati saya tidak pe caya, karena secara ilmu falak hal tersebut tidak mungkin. Saya foto jadwal waktu shalat yang ada di Masjid Nabawi, dan pada hari itu memang selisih waktu magrib dan isya disana memang dua jam. Persoalan yang mengganjal itu saya bawa ke Indonesia dan dalam hati saya ingin membuktikan benar tidaknya pernyataan pembimbing umrah tersebut walau belum saya ketahui bagaimana caranya.
Kemudian saya mencoba minta tolong pada family yang pergi haji di tahun berikutnya, untuk untuk menfoto jadwal tersebut , juga lewat facebook, saya dikirimi foto tersebut dar seorangan mukimin yang ada disana. Semuanya pada tanggal yang berbeda diluar bulan Ramadhan dan antara magrib dan isya selisihnya senantiasa satu setengah jam. Saya masih berfikir bagaimana mendapat foto jadwal di bulan Romadon satu lagi agar meyakinkan saya bahwa pernyataan kenalan saya yang menjadi pembimbing Umrah itu benar. Setelah televisi saya tersambung dengan siaran langsung dari Masjidil haram, saya tidak perlu lagi mencari teman yang akan umrah bulan ramadhan, cukup mengamati televise saja.Inilah diantara gambar2 itu.

desCopy of udin

Karena di Indonesia ada yang memulai puasa hari Sabtu 28 Juni 2014, maka pada Jumat Malam, saya menunggui televisi untuk melihat jadwal adzan magrib dan isya disana, dan apakah sudah mulai tarawih apa belum. Ternyata selisih adzan masih satu setengah jam, dan belum ada salat tarawih. Di pojok layar malah masih tertulis tanggal 28 Syaban 1435. Pada malam berikutnya Sabtu malam Ahad, selisih adzan masih tetap satu setengah jam, belum ada acara buka puasa tetapi kemudian sudah dilakukan tarawih bada isya. Malam berikutnya saya tidak bisa monitor televise, dan baru bisa meelihat teelefisi satu minggu kemudian, yaitu Jumat malam Sabtu tanggal 4 ke 5 Juli 2014. Adzan Magrib pukul 07 08 Waktu Saudi (WAS), dan Adzan Isya pukul 09 08 WAS. Selisihnya tepat dua jam.
Dengan demikian maka apa yang di sinyalir oleh teman saya tersebut benar, tetapi selisih yang selalu satu setengah jam antara adzan magrib dengan isya menjadi dua jam dibulan raamadhan, bukanlah sejak tanggal 1 Romadon( malam Ahad ), tetapi sejak sesudah tanggal satu yaitu mungkin tanggal dua Romadon. Secara matematis, ilmu falak model apapunyang selalu selisih setengah dan saja perubahan sampai setengah jam atau 30 menit secara drastic hanya dalam satu hari tidaklah mungkin, tetapi kenyataan di Masjidil haram telah terjadi dan itu adalah fakta.
Jadwal waktu shalat yg tetap selama satu bulan tidak mungkin, dan perubahan yg mendadak juga tidak mungkin. Terbukti dari jadwal waktu shalat/adzan untuk subuh, dzuhur dan Asar tidak ada yang seperti itu .
Yang mungkin adalah jadwal waktu (adzan) isya merupakan kebijaksanaan Masjid untuk mentolerir jamaah yang harus menyambung buka puasanya yang baru sekedar makan makanan ringan dan beberapa teguk air setelah masuk waktu magrib. Kebijaksanaan seperti ini di Jawa( Indonesia?) sebetulnya sering terjadi, tetapi bukan dengan merubah jadwal waktu shalat, hanya dengan menunda Adzan saja. Didaerah Kebumen yg banyak industry genteng, selalu agak mengakhirkan adzan Asar agar jamaahnya memadai. Di Semarang tempat saya tinggal Adzan Jum’ah diusahakan sedekat mungkin dengan pukul 12 agar karyawan pabrik dapat berjamaah shalat jumah dengan tenang.
Antara teoritisi dan praktisi ternyataa jauh berbeda. Ketika belajar ilmu falak selisih hitungan beberapa detik saja sudah dipermasalahkan dan dicari dimana penyebab perbedaan hasil hitungan itu, tetapi ujung ujungnya jadwal waktu shalat yang beredar justru yang sudah dibulatkan, dan oleh para pengguna dipakai secara luwes tergantung kearifan local, dan ternyata hal itu juga di praktekkan di Masjid alharam dan Masjid Nabawi (mungkin). Mungkin kita perlu hati hati, tidak bisa dengan mudahnya mengatakan waktu magrib belum habis karena belum berkumandang adzan Isya. Mungkinkah hal itu disebabkan pendapat, bahwa adzan bukanlah pertanda waktu shalat sudah masuk, tetapi ajakan untuk shalat ber jamaah.
Purwokerto,15 Ramadhan 1435 H/13 Juli 2014 M.

Manshur Mu’thy A Kafi$

Pos ini dipublikasikan di kapita selekta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s