Menyingkap “Kewalian” Para Ahli Falak.

Foto0000Budaya Jawa banyak menggunakan anggota tubuh sebagai alat ukur. Misalnya Pecak (panjang tapak kaki manusia), nyari  (lebar  jari  selain ibu jari) , Dim (lebar ibu jari) , Geblog  (lebar  tapak tangan dari pangkal ibu jari sampai tepi tapak tangan dibawah kelingking), Cengkang  (dari ujung ibu jari sampai ujung telunjuk bila jari jari direntangkan), kilan (dari ujung ibu jari sampai ujung  kelingking  bila  jari jari direntangkan ), Hasta ( dari siku sampai ujung  jari), Bahu ( dari bahu sampai ujung jari), Depa ( dari ujung  jari tangan kiri ke ujung jari tangan kanan bila tangan direntangkan), untuk ukuran tinggi disesuaikan dengan nama anggota tubuh kita,  bisa sedengkul, sepeturasan, sewudel, sedada, sededeg dan sededeg sepengawe.

Facebooker Bapak Joko Prasetiyo dari Kudus (maaf saya tidak tahu nama asli atau bukan) pandai mempermainkan  jarinya, yang bila di posisikan tertentu, bila bayang2 ibu jarinya dapat jatuh tepat pada ujung telunjuknya, maka jari tengah yg dilipat sudah mengarah ke arah kiblat.

Zaman saya kecil saya juga sering mendengar Ahli falak KH ‘Fulan’ diantara karomahnya adalah  dapat mengukur kedalaman sumur dan ketinggian sebuah gunung hanya dengan lidi. Diantara karomah Tuan Guru Hanafi Gobet , Ahli Falak dari Banjarmasin konon diceritakan dapat mengarahkan arah kiblat lewat  lengan baju jubbahnya

Saya pernah menulis dalam “Trik menjadi santri cerdas”, bahwa Bpk Drs KH Slamet Hambali MA dengan sangat cepat bisa menghitung angka (1995 misalnya) dibagi 30 hasilnya bersisa sekian . Sebelum dibuka rahasianya saya sempat  terkagum kagum, begitu cepat beliau melakukan perkalian dan pengurangan sekali gus. Mungkin kalau tidak diungkapkan rahasianya dan beliau hidup  pada awal tahun 1900 an , hal itu akan dianggapnya sebagai bagian dari karomah pertanda kewaliannya, atau memang karomah beneran.

Tukang kayu kampung mengenal rumus matematika terapan untuk mengukur  apakah  sudut rumah yang dibuatnya sudah betul betul siku siku , dengan tali yg dibuhul dengan rumus  3, 4 dan 5. Maksudnya 3 tali yang masing masing berukuran 3 satuan, 4 satuan dan 5 satuan (bisa jengkal, desi meter atau lainnya) , dan ujung ujung nya di disambungkan satu sama lain. Bila direntangkan  terciptalah segitiga siku siku. Ternyata ini bersesuaian rumus  segitiga siku siku yang berbunyi : Kwadrat  sisi miring sama dengan jumlah kwadrat sisi sisi lainnya. Artinya kalau  sebuah segitiga   yg salah satu sudutnya diapit oleh sisi2 yg panjangnya 3 meter dan 4 meter, dan sisi lainnya sepenjang  5 meter , maka segitiga itu adalah segitiga siku siku, karena  3 x 3+4×4=25. Akar 25 adalah 5.

Saya jadi teringat waktu belajar kepada Bapak Drs Abdurrahim (Pak Rahim) Wallahu yarham di Yogya dulu. Menjelang rukyat saya disuruh menyiapkan lidi dari bambu atau lainnya, untuk pengukur ketinggian hilal. Caranya  diukur dulu jarak antara mata kita dengan pangkal ibu jari tangan kita, bila posisi saya berdiri tegak dan tangan lurus  kedepan sementara  pangkal ibu jari diusahakan berada diantara mata  dan ufuk. Ukur berapa cm jarak antara mata sampai pangkal ibu jari, misalnya ketemu 50 cm. tentukan tinggi mar’i  hilal menurut ilmu hisab, misalnya 4 derajat.

Pegang pangkal lidi bagian bawah dengan tangan mengepal  lidi terselip diantara ibu jari dan jari lainnya yg melingkar, biarkan sisanya mencuat keatas , dan tandai pada lidi sedikit diatas genggaman tangan kita.  Tandai juga diatas tanda pertama tadi dengan jarak sebesar  tangen tinggi mar’i  X panjang tangan tersebut diatas . Hasilnya berapa senti meter dipergunakan untuk  ditandakan pada lidi tersebut sebagai tinggi hilal.  Tanda tanda ini tentu dapat di modifikasi  menjadi  garis pertanda ketinggian satu derajad dua derajat dan seterusnya, dan bisa pula dimodifikasi menjadi penanda beda antara azimuth matahari dan bulan.

Dengan demikian, kalau rukyat  berhasil kita dapat menentukan ketinggian hilal , selisih azimuthnya dgn azimuth matahari ,saat tenggelam pada saat hilal terlihat,

Dan dengan prinsip yang sama dan membolak balik rumus  tangens  tadi bisa juga untuk mengukur kedalam sumur  ,caranya adalah sebagai berikut

Ukur garis tengah sumur bagian atas, yg berarti juga garis tengah bagian dasar sumur dan kita beri nama Y.

Posisikan pangkal ibu jari di bibir sumur, dan posisikan mata dan pangkal ibu jari membuat satu garis yang merupakan perpanjangan dari tinggi sumur. Ukur jaraknya dan kita tandai dengan X

Arahkan pandangan  ke pinggir dasar  sumur bagian yang berseberangan dengan pinggir dibawah mata kita, bayangkan pada arah pandang itu ada garis hayali, lalu usahakan ujur lidi persis ada pada garis hayali tadi. Ukur panjang lidi dari ujung jari sampai bagian lidi yg bersentuhan dengan pangkal ibu jari kita, tandai dengan huruf  Y1.

Hitung kedalaman sumur dengan rumus kedalaman sumur = X/Y1 * Y

Hitungan yang sangat sederhana, sesederhana pelajaran mengukur ketinggian gunung bagi para Pandu/ Pramuka.

Selanjutnya untuk rukyat saya berpikir , bahwa lidi tidak lagi diperlukan, bisa diganti saja dengan telunjuk yang ditegakkan secara vertikal, sementara ibu jari yg dikembangkan difungsikan dan diselaraskan dengan ufuk , satu nyari disetarakan dengan satu derajat, satu dim setara dengan dua derajat.  Tidak persis benar memang, tetapi cukup memadai  , sekedar untuk melakukan rukyat secara tradisional tanpa alat modern. Apakah ini “rahasia karomah para wali” waktu itu. Wallahu a’lam bishshawab.

Semarang 15 Mei 2013 M/4 Jumadil akhir 1434 H

 Manshur Mu’thi A Hayyi

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

2 Balasan ke Menyingkap “Kewalian” Para Ahli Falak.

  1. ALIBORON berkata:

    Tulisan yang sangat menarik Pa Kyai. Kalau dari Banjarmasin riwayat kewalian ahli Falak disandarkan pada nama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary. Tertulis dalam cerita ketika membetulkan arah kiblat mesjid di Batavia beliau membuka lengah jubahnya sehingga nampaklah bayangan kabah itu. Memang kisah-kisah orang besar seringkali dibumbui hal2 bersifat supra natural

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s