Koreksi Koreksi Atas Hisab Hilal Awal Bulan Qomariyah. ( Sebuah Alternatif?)

pklngnSaya pernah menulis tentang sebuah kritik terhadap hisab modern, yg intinya, pengertian hilal harus dibedakan dengan pengertian qamar secara umum, dan koreksi tinggi hakiki qamar agar menjadi tinggi hakiki hilal dengan semi diameter harus ditinjau ulang.

Saya pernah membaca tulisan di FB, se olah olah penilaian atas semi diameter (s.d) sebagai alat koreksi ketinggian hilal terdapat 3 kubu. Tinggi hilal dipergunakan untuk mengurangi tinggi hakiki, untuk menambah tinggi hakiki, dan sd diabaikan saja.

Saya termasuk yang berbeda dengan pendapat pendapat itu. Menurut saya tinggi hakiki qomar  untuk menjadi tinggi hakiki hilal harus dikoreksi dulu dengan sesuatu yang merupakan gabungan antara semi diameter, tinggi hakiki qomar sendiri dan selisih azimuth matahari dan bulan.

Setelah saya membaca beberapa polemik tentang wujudul hilal, dan imkanurukyah, terpikir oleh saya , bahwa perlu juga dilakukan koreksi terhadap tahap  tahap koreksi ketinggian bulan (qamar) agar menjadi ketinggian hilal hakiki ataupun mar’i, yang dapat pula menampung aspirasi hisab imkanurrukyah, bagi para pemula ilmu hisab.

Untuk itu saya akan mencoba mengulasnya sebagai berikut.

Penghitungan hisab awal bulan, pada umumnya dilakukan tahap tahap yang sudah baku ditentukan lebih dulu tempat penghitungan,  data kordinat markaz ( tempat penghitungan ) serta data lainnya yg diperlukan, selanjunya dihitung saat Ijtima,saat matahari terbenam sore hai setelah ijtima pada lokasi bersangkutan, kemudian dihitung tinggi bulan hakiki pada saat matahari terbenam, Sampai disini saya rasa semua sepakat, namun selanjutnya ada beberapa hal yang perlu dibicarakan lebih dahulu.

Al Quran membedakan antara antara qamar dan hilal. Qamar bersama sama dengan matahari dinyatakan sebagai cara mengetahui bilangan tahun dan perhitungan perhitungan ( Yunus ayat 5 ). Ini berarti peredaran matahari maupun Qamar (bulan) dapat dipakai untuk perhitungan kalender  . Contoh bahwa kalender Syamsiah dan Qamariah sama sama dipakai  dan terdapat selisih sampai 9 th dalam kurun waktu 300 th dapat di lihat dalam cerita tentang Ashabul kahfi  (Al kahfi  25).

Hilal dipakai untuk perhitungan waktu ibadah terutama haji (Al Baqarah 189). Dimaklumi bahwa miqat zamani bagi ibadah haji adalah  sejak Syawal, sehingga satu Syawal pun harus ditandai dengan hilal, sementara banyak hadits yang menjelaskan tentang peranan hilal bagi ibadah shaum dan idul fitri, disamping itu ada hadits lain yg memerintahkan untuk mengamati hilal Sya’ban bagi ibadah Ramadhan.

Surat Yasin ayat 39  menyebutkan bahwa setelah bulan (qamar) beredar satu putaran dia kembali ke posisi awal yang di istilahkan dalam al Quran sebagai ‘urjunil qadim/mayang tua.  Tafsir klasik menyebutkan bahwa Bulan baru /hilal diserupakan dengan mayang tua karena tiga keserupaan, yaitu yaqirru, yataqawwashu dan yashfaru. Yang artinya, mengecil/meruncing, melengkung/membungkuk /membusur dan menguning.Itulah hilal.  Oleh karena itu dibedakan antara qamar telah wujud (wujudul qamar ) dengan hilal telah wujud (wujudul hilal).

Setelah terjadinya ijtima,  qamar dikatakan wujud , bila ketika matahari terbenam qamar masih diatas ufuk. Sedang hilal baru wujud kalau bagian qamar yg kena sinar matahari dan memantulkan cahayanya ke bumi, sudah ada dan berbentuk seperti urjunil qadim, yaitu melengkung, meruncing dan berwarna kuning. Menurut teori visibilitas, hal itu terjadi bila fraction illumination sudah mencapai satu persen dari bulatan bulan atau lebih.  Nah oleh karena itu sebelum ketinggian qamar dikoreksi agar menjadi ketinggian  hilal, dilihat dulu fraction illumination, kalau pada saat matahari terbenam FI belum sampai satu persen ( Untuk kasus tgl 8 Juli 2013. Fi pukul 12 GMT/19 WIB, adalah  0.00192 jadi baru mendekati 2 permil, atau 0.2 persen), maka hilal belum bisa di katakan wujud sehingga proses penghitungan harus dihentikan.

Apabila fraction illumination telah lebih dari 1 persen baru dilakukan langkah berikutnya, yaitu dicari ketinggian hakiki hilal, dengan melakukan koreksi dengan semi diameter bulan. Seandainya kebetulan saat itu matahari tepat dibawah bulan ( bulan dan matahari ber azimuth sama) tinggi hilal hakiki = tinggi hakiki qamar dikurangi semi diameter qamar.  Tetapi  kalau tidak, maka harus dihitung dulu azimut matahari dan azimuth bulan.  Dengan demikian dapat dibuat sebuah segitiga siku2 ( mestinya segi tiga siku pada segi tiga bola, tetapi karena kecilnya, maka segi tiga bidang datarpun cukup memadai ) dengan unsur unsurnya yaitu  sisi tegak sehi tiga dari titik pusat qamar sampai ufuk sebesar tinggi hakiki qamar, alas segitiga dari titik Azimuth qamar sampai titik azimuth matahari, sebesar selisih azimuth matahari dan azimuth qamar. Dengan demikian sudut pada puncak segitiga ( kita beri nama  sudut P ) dapat diketahui yaitu dengan tg P = selisih azimuth/tinggi qamar. Selanjutnya pada titik pusat bulatan qamar terdapat sebuah sudut yg besarnya sama dgn sudut P dan sisi  miringnya sama dgn semi diameter bulan.    Dapatlah dibuat ilustrasi dalam gambar seperti berikut ini .

 Foto0591

P-B = tinggi qamar

B = Azimuth qamar

M = Azimuth matahari

h  = hilal

B-M = selisih Azimuth Matahari dan qamar

PP-h = semi diameter qamar

P-h =selisih tinggi hilal dan tinggi  titik pusat qamar

H’-h= selisih Azimuth hilal dan Azimut itik pusat qamar.

Atas dasar gambar tersebut dapat dihitung tinggi dan azimuth hilal sbb.

Sudut MPB adalah tang MPB = garis BM/garis PB atau  tang MPB = selisih azimuth/tinggi qamar

Koreksi tinggi hilal = Cos MPB.X s.d ( dikurangkan dari tinggi Qamar )

Koreksi Azimuth hilal = Sin MPB X s.d  (dikurangkan atau ditambahkan kepada azimuth qamar )

Kemudian  terhadap tinggi hakiki hilal dilakukan koreksi koreksi berdasar Paralak, ( dikurangkan ) refraksi dan Deep di (tambahkan), Atau kalau yang  diukur adalah jarak zenith hilal, maka koreksi deep tidak di perlukan, langsung saja Jarak Zenith  hilal = 90 – tinggi hilal. Hal ini perlu saya sampaikan kalau kita perlu menghitung tinggi hilal dengan lokasi rukyat yg tidak ideal karena banyaknya hambatan di ufuk sebelah barat.

Inilah salah satu contoh urutan kegiatan melakukan koreksi tinggi qamar agar menjadi tinggi hilal, dengan menggunakan data dari Ephmeris, pada ijtima akhir Ramadhan 1434 H dengan markaz kota Purwokerto , ketinggian mata pengamat adalah 100 diatas permukaan laut.

Dengan kordinat lintang Purwokero  7;28 LS dan bujur      109;13 BT

Ijtima tgl 7 Agustus 2013. Pukul 4 50;51 WIB.

Deklinasi matahari 16;19;03.6

Gurub tgl  7 Agustus 2013  pukul 17;44;19

Tinggi qomar 4;07;29.5”

Fraction illumination saat ghurum matahari ( 0,4 persen ), meskipun saat itu belum lagi satu persen, tetapi karena di akhir hari itu sudah lebih dari 1 persen, maka penghitungan dilanjutkan.

Azimuth komar    279;02,23.81”

Azimuth matahari  286;03,07.21

Selisih azimuth 7;00;3.4”

Sudut  MPB sama dengan shift tan ( selisih azimuth/tinggi komar ) =59;41;32.15

Coreksi tinggi hilal cos MPB X.sd = 0;07.;32’.67’

Tinggi hakiki hilal = tinggi komar – coreksi tinggi hilal = 3;59;56.83’

Coreksi  Azimuth  hilal.  Sin MPB X.sd = 0;12;54.4’

Az hilal = Az komar +/- cor az hilal 9;15;18.21’

Horizontal paralak ( HP ) 0;54;52”

Paralak =cos h.X HP =  0;54;43.98”

Tinggi hakiki hilal  – paralaks = 3;59;56.83” – 0;54;43.98” = 3;05’12.85”

Refraksi  (ditambahkan)                                                        0;13’;42”

Tinggi hilal                                                                                                 3; 18;54.85”

Kalau yg dicari Jarak Zenithnya  maka 90 – 3;18;54.85 = 86;41’;05.15”

Deep tinggi mata 100 m = 0;17’;36”

Kalau yg dicari tinggi mar’i  maka tinggi diatas ditambah deep = 3;36’30,85”.

Tulisan ini sekedar partisipasi saya terhadap dunia ilmu falak dari seorang yang hanya bisa mengoperasikan kalkulator, dengan harapan kalau ada manfaatnya bisa disempurnakan lebih lanjut oleh siapa yang berminat.

Semarang , 15 Ramadhan 1434 H

Manshur Mu’thy A Hayyi

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

3 Balasan ke Koreksi Koreksi Atas Hisab Hilal Awal Bulan Qomariyah. ( Sebuah Alternatif?)

  1. Abi Hasya berkata:

    Joss… luar biasa… agar disampaikan ke forum diskusi2 hisab rukyah agar bisa diterima oleh para ahli dan akhirnya bisa dibakukan dlm keilmuan hisab rukyah…

  2. ayah_sophie berkata:

    masih belum paham tentang hilal mar’i dan hilal hakiki. di bagian lain, hasil hitungan Muhammadiyah untuk 7 Agustus 2013 tinggi bulan 3:54:11”. apakah benar yg dihitung Muhammadiyah tersebut piringan atas bulan?

    • Manshur Alkaf berkata:

      Setahu saya sejak dulu di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta,, demikian juga waktu saya mengajar di STAIN Purwokerto,memang diajarkan koreksi semi diameter ditambahkan, berarti hasilnya memang piringan atas, Tetapi apakah Muhamadiyyah menghitungnya begitu saya tidak tahu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s