Wilayatul Hukmi Dan Waliyul Amri.(dharuri Bi Syaukah)

Membaca doa aqiba shalatin maktubah sebisanya

Mengikuti acara sidang Itsbat kementerian Agama lewat televisi, saya jadi teringat akhir tahun 1976 awal 1977, ketika saya harus menyelesaikan skripsi di fak Syariah IAIN(sekarang UIN)Sunan Kalijaga Yogyakarta . Skripsi saya, waktu itu berjudul Pengaruh Perbedaan Mathla dalam penentuan Awal dan Akhir Ramadhan menurut Syariat Islam, di bawah bimbingan Bapak Drs Abd Rahim. Judul itu sebenarnya judul alternatip,  Sebelumnya saya sudah punya judul yg juga sudah disetujui  Fakultas, yaitu  “Transformasi seks menurut syariat Islam. Tetapi karena harus mewawancarai dokter dari Singapura yg telah melakukan operasi  penggantian kelamin atas Fifian Rubiyanti, saya angkat tangan dan berganti judul , dan saya ambil judul diatas tentang ilmu falak yg jarang diminati orang. Judul itu di ilhami oleh Perintah Menteri Agama ad interim (Mendagri Amir Mahmud) kpd jajaran Dep Agama untuk meninjau ulang penetapannya tentang Idul Adha yang kala itu kebetulan berbeda dengan Idul Adha di Saudi Arabia. Pak Rahim sebagai pembimbing  senang dgn judul saya tersebut, karena kebetulan beliau akan menjadi utusan  Pemeintah RI (dep Agama) untuk suatu musyawarah tentang ilmu falak di Turki (kalau tidak salah) dan skripsi saya relevan dengan tugas beliau itu .  Walau skripsi saya tentang ilmu falak, tetapi hitungannya sedikit sekali, yaitu membuat  garis yang melewati wilayah wilayah dimuka bumi (dalam hal ini kebetulan melewati wilayah Indonesia ), yang matahari terbenam dan bulan terbenam  bersamaan .  Di sebelah timur garis itu bulan terbenam lebih dulu dari matahari, sedang disebelah barat garis, bulan terbenam setelah matahari terbenam.  Garis itulah yang saya beri nama garis batas mathla’. Sehingga ketika Pak Nur (Drs Nourouzzaman Ashshiddieqie) sebagai Penguji menanyakan  apakah rukyat satu kota berlaku bagi kota lain, saya interupsi dgn minta maaf  bahwa pengertian mathla bagi saya tidak identik dgn satu kota, bisa saja kalau garis mathla itu kebetulan melewati sungai Code,  maka antara kampus IAIN dengan pusat kota Yogya berbeda mathla’. Setelah beliau merobah pertanyaannya,    barulah tanya jawab berlangsung, dan  saya berusaha menjawabnya semampu saya.

Waktu itu saya berpendapat, bahwa rukyat satu tempat berlaku  untuk wilayah lain di sebelah barat dari tempat rukyat terjadi ( sesuai pendapat ahli fiqih Syafi’iyah), namun untuk ke timur  berlaku hanya sampai garis batas mathla’. Bila satu negara terbelah oleh garis mathla’, di pastikan di sebelah barat garis tidak akan dapat berhasil melihat hilal , sehingga secara keseluruhan dari negara itu harus istikmal, dengan alasan di sebelah timur memang hilal belum wujud, sedang disebelah barat , rukyat masih belum bisa dilihat.

Saya juga mengartikan Ghumma, bukan saja mendung, tetapi semua hal yg menghalangi terinderanya hilal. Baik itu berupa sahab, kecilnya penampakan hilal, maupun lainnya. Hadits tentang bulan  bisa 29 hari dan bisa juga 30 hari, bukan hanya berlaku antar waktu ( bulan ini 29 hari, bulan berikutnya 30 hari . tetapi bisa juga antar tempat  (dibelahan yg satu 29 hari dan dibelahan lainnya 30 hari) pada bulan yang sama.

Dalam  melakukan perhitungan  untuk pembuatan garis mathla’ tadi, saya mempergunakan data sunset dan moonset pada Almanak nautika.  Dengan mempergunakan interpolasi, saya tentukan beberapa titik pada lintang dan bujur tertentu dimana sunset dan moonset bersamaan, kemudian titik itu dihubungkan jadilah garis mathla. Sangat sederhana dan mudah menghitungnya.

Waktu itu saya merasa hebat, karena berani membantah pendapat fiqih Pak hasbi (Prof Hasby Ass Shiddieqie) padahal diantara pengujinya adalah bapak Nouruzaman putra beliau.

Saya tidak menduga, bahwa masalah seperti itu sampai sekarang ternyata masih tetap hangat (dan bisa jadi panas di akar rumput ),  hal yg dulu saya anggap wajar wajar saja menjadi masalah yg kontroversi , bahkan terbawa ke ranah politik dengan dipertanyakannya kewenangan pemerintah untuk menetapkan hal ini. Tahun 2000 an ketika saya mengikuti pelatihan hisab rukyat MABIMS angkatan kedua, Bapak  Susignan selaku salah satu nara sumber memberikan materi tentang garis batas tanggal atau garis dengan ketinggin nol. Itu ternyata adalah garis yang dulu saya sebut dengan garis mathla’. Garis ini juga yang jadi menu utama bagi mata ujian Falak bagi calon hakim. Dinamakan dengan Garis dengan ketinggian (matahari dan bulan) nol , agar netral, dan dinamai garis batas tanggal bagi penganut hisab wujudul hilal.  Waktu itu Pak Susignan ketika ngobrol diluar acara pelatihan, mengatakan kira2 teori wujudul hilal oleh Muhamadiyah di Indonesia dan yang juga berkembang di Malaysia (kalau tidak salah di Malaysia dikembangkan oleh Elyas), mana yang lebih dahulu. Saya menjawab Kalau di Malaysia yang konon teori ini bermula di th 1979, maka di Indonesia ( IAIN Suka ) sebelum th 1976 saya sudah diberi materi itu oleh Pak Rahim  dan pak Jambek. Tetapi waktu itu Pak Rahim belum aktif di Muhammadiyah, dan tokoh falak di Muhamadiyah adalah masih Pak Wardan.

Saya pikir mungkin karena itukah, maka hisab wujudul hilal selalu menggunakan semi diameter   untuk menambah ketinggian hilal, yaitu karena yg dihitung adalah terbenamnya moon, sebagaimana kalau menghitung terbenamnya matahari (sunset)  matahari dikatakan terbenam kalau piringan sebelah atas juga sudah tenggelam. Tidak diperhitungkan bahwa hilal bukanlah keseluruhan dari moon,tetapi sebagian dari moon yg memantulkan cahaya matahari ke bumi, sehingga bagian itulah yg seharusnya dihitung, dan dalam kasus bulan baru  tentu bukan bagian atas dari bulan.

Sepertinya skripsi saya waktu itu agak rancu, karena jadinya hanya membahas apakah hasil rukyat dapat berlaku melewati garis mathla’ tetapi saya tetap menyesal, bahwa saya tidak lagi punya sisa dokumen pribadi, karena dua kopi arisp saya satu dipinjam mahasiswi yg berasal dari Malaysia dan tidak pernah kembali, dan satunya dipinjam keponakan saya yg bertugas di Sultra, dan ketika pulang hanya mengatakan tidak terbawa pulang entah dimana. Entahlah apakah di Arsip Fak Syari’ah atau di arsip para dosen masih ada atau tidak.

Waktu itu saya berpendapat, metode apapun yang dipergunakan untuk menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawwal , baik itu Hisab dengan segala jenisnya, dan juga Rukyat  maupun istikmal, selalu berpotensi untuk terjadi perbedaan, padahal kebersamaan dituntut oleh hadits yg menegaskan bahwa puasa, beridul fitri maupun beridul adha, dilakukan pada saat orang banyak beri puasa , beridul fitri dan ber idul adha. Kebersamaan itu adalah dalam satu wilayah tertentu, karena kebersamaan  secara internasional akan berakibat salah satu dari dua hal. Bersama dalam nama harinya, tetapi berbeda waktunya, dan bersama saat berpuasa, tapi berbeda nama harinya.  Pak Drs Abd Rahim waktu itu menggambarkannya dengan indah, yaitu bersama disini dalam arti bagaikan ayam jantan berkokok bersama sama di saat fajar,tapi nyatanya bagaikan air yang mengalir dari timur ke barat, padahal daerah yang paling barat justru di ujung timur.  Satu satunya solusi yg bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiyah adalah lewat konsep wilayatul hukmi, dan untuk Indonesia bila kebetulan terkena oleh garis itu, maka di istikmalkan, dengan alasan di sebelah timur garis hilal memang belum wujud, sedang disebelah baratnya karena rukyatul hilal masih terkendala ghumma dalam arti luas. Konsep wilayatul hukmi tentu harus di laksanakan oleh pemegang urusan ummat yaitu penguasa, dan atau institusi yg mendapat limpahan kekuasaan tauliyah dari kepala negara.

Kalau sekarang di permasalahkan dapatkah Kepala Negara RI dapat disebut ulil amri, pada sekitar th 1953 pun telah dibicarakan oleh para ulama Indonesia. Pernah ada salah paham bahwa gelar waliyul amri dharuri bisyaukah adalah pemberian gelar oleh NU kepada Bung Karno, tetapi sebenarnya tidak. Gelar itu diberikan kepada Kepala Negara RI oleh alim ulama Indonesia, dan pada mulanya ulama dari NU berpendapat bahwa di Indonesia yg tepat adalah waliyul amri dharuri Dzu Syaukah, Tetapi dibantah oleh Ulama dari Sumatera barat dan bukan dari NU ( kalau tidak Perti, ya Alwasliyah) bahwa waliyul amri dharuri dzu syaukah adalah gelar bagi penguasa yg kafir, sedang bila penguasanya Muslim tapi tidak memenuhi syarat sebagai waliul a’dham, maka statusnya adalah waliyul amri dhoruri bisyaukah. Itulah yang kemudian jadi kesepakatan para ulama. Secara intern ulama NU banyak yg tidak puas, kemudian mereka menyelenggarakan bahtsul masail, dan hasilnya menguatkan kesepakatan para ulama tersebut. Dalam prakteknya dengan kewenangannya Kepala Negara waktu itu Bung Karno, kemudian Pak Harto dan Presiden Presiden seterusnya mereka telah melimpahkan kewenangannya itu kepada Menteri Agama, dan Menteri Agama melaksanakannya dengan melibatkan banyak  kalangan melalui sidang itsbat.

Oleh sebab itu, kalau saat ini hal itu dipermasalahkan lagi  dengan alasan  Pemerintah sekarang korupt atau dinegara lain ada institusi lain seperti Dewan Fatwa dsb., saya kira tidaklah tepat, karena masing masing negara tentu mempunyai perangkatnya masing masing yang berbeda sesuai dengan konstitusi masing masing negara dan tidak bertentangan dengan syari’ah.

Itulah sedikit nostalgia ,mengenang skripsi saya sendiri  yang sekarang sudah tidak tentu rimbanya, dengan sedikit komentar sehubungan dengan apa yang saksikan melalui televisi atas sidang Itsbat beberapa waktu yang lalu.

Semarang 21 Ramadhan 1434 H

Manshur Mu’thi A Hayyi

Pos ini dipublikasikan di kapita selekta. Tandai permalink.

3 Balasan ke Wilayatul Hukmi Dan Waliyul Amri.(dharuri Bi Syaukah)

  1. Abi Hasya berkata:

    alhamdulillah…luar biasa Ustadz… semoga byk manfaat & hikmah dr tulisan ini…

  2. Buat Pak Mansyur dan keluarga Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir batin..sedikit menyampaikan harapan dari saya yang awam, semoga ada sesuatu dasar yang kuat dan dapat diterima oleh semua pihak pada permasalahan penentuan waktu di indonesia khususnya..amien,

  3. Yasin berkata:

    Jazakumullah khairan katsira

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s