Umrah Di Bulan Ramadhan.

Saya tidak pernah membayangkan bahwa pada satu saat mengalami  puasa di Arab Saudi, apa lagi bersama keluarga. Awal th 2012 saya berencana ingin Umrah sekeluarga dan setelah di tinjau dari berbagai pertimbangan di putuskan untuk  memilih program umrah tgl 18 mei selama 10 hari. Akan tetapi karena kemudian ada panggilan dinas untuk pribadi saya maka pelaksanaan Umrah ditunda sampai dengan tanggal 18 Juli  yang kemudian mundur lagi menjadi 21Juli yang berarti sudah masuk bulan Ramadhan.

Saya pikir  sama saja  antara ikut program umrah di bulan Ramadhan dengan lainnya, selain pahalanya yg gede,juga ada sedikit resiko berbagai  tantangan karena banyak kegiatan yg harus di sesuaikan dengan kondisi bulan Ramadhan.

Tetapi dalam kenyataan ternyata banyak juga dinamika yang perlu di sikapi secara agak serius,dan ada juga yang bisa di nikmati secara khusus. Hal hal seperti itulah yang ingin saya tulis disini.

Berbuka Puasa di Pesawat

Kami berangkat dari Bandara Sukarno Hatta,Ahad 22 Juli pukul 13 50. Lama perjalanan sekitar 9 jam, sehingga kami akan mendarat di Jeddah pukul    23 WIB atau pukul 19 waktu Saudi. Persoalan diantara para penumpang pesawat Batavia yg sebagian besar adalah jamaah Umroh mulai timbul ketika jarum jam di tangan sudah menunjukkan pukul 18 WIB, pada hal diluar pesawat, matahari tampak masih tinggi,dan menurut info dari awak pesawat ,  pesawat nanti akan mendarat di bandara King Abdul Aziz tepat saat disana matahari sedang terbenam pukul 19 SAS

Banyak yang baru menyadari, bahwa kalau bukanya mengikuti buka di Saudi Arabia adalah jam 19 SAS atau jam 23 WIB,padahal kami saur sekitar pukul 4 pagi,maka  berarti kami berpuasa selama (23 jam– 4 jam) atau 19 jam. Oleh karena itu ada diantara penumpang yg berpendapat bahwa mereka akan berbuka sesuai magrib tempat tadi saur,yaitu Semarang. Pramugara pun siap melayaninya karena memang sudah waktunya di sajikan makanan, sehingga banyak orang yang berbuka puasa pada pukul 18 WIB ataupukul 11 GMT,yang pada saat itu kita ada disekitar Iran, dan matahari masih sangat terik,dipertengahan antara titik zenith dan ufuk. Pemandangan yg sangat lucu,karena mereka merasa sedang berbuka puasa dalam puasa yang sempurna.

Terpikir oleh saya apa nanti ketika mereka pulang akan konsisten ,karena saurnya masih di Arab,maka bukanya nanti tunggu  magribnya Arab, yaitu sekitar pukul 19 SAS atau pukul 23 WIB sementara kita sudah ada di Indonesia?

Kami berencana berbuka puasa pada saat matahari gurub. Menjelang pesawat disclimbing/persiapan landing  terlihat sinar matahari masih sangat terang dan posisinya masih kelihatan tinggi, bayang bayang dijendela sangat mendatar,jadi dalam pikiran saya matahari kalau di lihat dari darat masih cukup tinggi . Apa nanti pada saat mendarat betul matahari sudah segera terbenam? Saya cukup panik, jangan jangan puasa masih ditambah lagi karena ternyata matahari masih belum terbenam. Ternyata ketika proses disclimbing berjalan,mataharipun ikut turun dengan cepatnya, dan saat saya melongok ke bawah, disana memang sudah gelap. Dan pada detik detik menjelang melandas,dari kokpit ada pemberitahuan,bahwa saat buka telah tiba. Saya jadi ingat matahari yg kala itu dari pesawat kelihatannya masih tinggi,adalah akibat dari kerendahan ufuk cukup besar akibat  dari tinggi mata dalam pesawat memang cukup tinggi. Ternyata secara fikih perlu ditelaah lebih lanjut,bagaimana berbuka puasa di pesawat,apakah sesuai jadwal di tempat tadi pesawat itu lepas landas / tempat jamaah sahur,atau sesuai magrib bagi daratan di bawah pesawat melintas ,atau bila matahari telah gurub secara nyata dilihat dari pesawat, atau menurut ufuk marinya pesawat atau bagaimana lagi.

Berbuka Bersama Di masjid Nabawi/ Masjidil Haram

Suasana menjelang magrib di Masjid Nabawi super sibuk Kegiatan di mulai seusai jamaah shalat asar. Beberapa pihak langsung menggelar plastic memanjang sesuai arah shaf. Lebar plastic sekitar 75 cm,dan panjangnya sesuai keinginan masing2.Plastik itu disiapkan untuk tempat meletakkan menu buka puasa yang akan disedekahkan kepada jamaah magrib. Selama petugas mempersiapkan menu,ada petugas lain yang menjaring orang orang yang akan diberi sedekah (Khusus di Madinah),yaitu jamaah yg sudah mulai berdatangan untuk shalat magrib. Biasanya menjelang magrib menu seluruhnya telah terata rapi.Menu standar adalah korma,air zamzam,yoghurt susu segar yg dibekukan, rempah penyedap sepotong roti (semacam roti tawar).Menu lain sebagai tambahan,tergantung selera .Ada  juga yang menyiapkan minuman jus, kahwah minuman dalam kemasan buah2an dll. Orang yg menunggu berbuka pun macam2, kebanyakan  asyik ngobrol atau diam saja, ada juga yang asyik membaca Al Quran dengan posisi tetap menghadap kiblat (meskipun menjadi membelakangi makanan siap saji ). Begitu adzan berkumandang langsung hidangan di serbu, umumnya dimulai dengan korma, meneguk zamzam, lalu menu lainnya. Lima menit kemudian, sudah ada petugas yg mulai mengambil sisa makanan (korma/roti yg tidak habis),lalu susu dan minuman cair yg tersisa. Beberapa saat kemuian sisa sampah berupa gelas monoyus, tisu dll digulung sekali gus dengan plastik alas  hidangan dan dimasukkan ke disposal bag/kantong sampah.  Semua berjalan sangat singkat dan efisien. Ketika berkumandang iqamah yakni sepuluh menit setelah adzan semua telah kembali rapi dan shaf pun telah siap untuk shalat berjamaah.

Salah stu menu buka di mjidil haram

Dua kekaguman sekaligus saya temukan disini, yaitu cepatnya proses pasca buka dan semangat kebersamaan untuk bersedekah dari semua pihak. Para jamaah yg kebetulan membawa bekal tidak2 segan segan untuk berbagi kepada teman2 yg duduk disebelahnya walau secara pribadi belum kenal dan walau hanya berupa beberapa biji kacang2an , dan sementara mereka tidak2 segan segan pula untuk menyantap sedekah dari orang  sebelum menyantap milik pribadi, sehingga setiap sedekah terposisikan sangat berpeluang menjadi sedekah pembuka puasa dari orang lain ( mungkin ini terilhami secara harfiah terhadap hadits nabi yg menjanjikan pahala cukup besar bagi mereka yg memberi sedekah untuk berbuka bagi orang lain yg berpuasa. Sayang saya tidak melihat mereka yang membaca doa berbuka puasa sebagaimana dituntunkan Rasulullah, yg ada di sekitar saya begitu adzan berkumandang langsung menyantap apa yang ada.

Jadwal Waktu Shalat

Hal lain yang menarik perhatian saya selama Umrah adalah bahwa di Madinah saya melihat jadwal waktu shalat yang tidak biasa seperti di Indonesia. Kalau di Indonesia jadwal waktu shalat biasanya terdiri atas waktu  waktu Subuh, Syuruk/terbit matahari, Dzuhur, Asar,Magrib dan Isya. Di Madinah subuh diganti Fajar, bagi saya hal itu tidak masalah, tetapi yang aneh adalah tidak ada waktu syuruk atau terbit matahari, tetapi di ganti dengan 15 menit setelah terbit matahari demikian istilahnya tertulis di dinding. Saya tidak tahu apa yang dimaksudkan, apakah itu berarti waktu Dhuha?  Kenapa tidak langsung Duha saja? Satu saat kepengin juga mencari tahu kenapa hal itu terjadi.

dua sistim waktu

Disamping itu di Madinah ada juga jadwal waktu shalat yang menggunakan dua sistim waktu, yaitu waktu zawali, penghitungan jam di mulai tengah malam seperti jam yang umumnya kita pakai, dan untuk Saudi Arabia berlaku waktu GMT di kurangi 3 jam. Kemudian ada juga yang menggunakan waktu ghurbi, yaitu permulaan penghitungan jam di mulai saat magrib. Disitu waktu magrib selalu jam 12, dan waktu  isya sekitar pukul 2. Di Madinah saya sengaja mencari jadwal waktu shalat seperti itu, karena dua tahun yang lalu anak saya yang juga ikut umrah dengan saya menanyakan sebuah Jam dinding dengan sistim itu yang bagi anak saya terasa aneh.

Ke unikan lain saya lihat pada Jadwal waktu shalat yang ada di Riyad, di Masjid milik Unibersitas Imam Ibnu Suud Al Islamiyah, disana jadwal waktu shalat yang terpampang di dinding Masjid bukan jadwal awal waktu,    tetapi jadawal iqamah. Misalnya, untuk Subuh iqamah di lakukan 20 menit setelah adzan, untuk dzuhur 10 menit setelah adzan dst. Adapun jadwal awal waktu hanya terdapat pada kalender harian yg terletak di meja dekat mihrab.

Polisi Bekerja

Di Masjidil Haram, di dalam masjid banyak polisi bertugas, dengan berbagai macam kegiatan. Ada yang mengamankan Imam ketika shalat fardhu, ada juga yang menjaga tempat tertentu agar selalu tersedia tempat yang bisa di pakai lewat orang yang mau keluar atau masuk masjid ataupun bergeser dari satu tempat ke tempat lain di dalam masjid, meskipun shalat tarwih sedang berlangsung, krena selalu saja ada orang yang lalu lalang , misalnya orang yang baru datang dalam keadaan berihram untuk umrah, yang tentunya ingin segera menyelesaikan umrahnya, akan cukup lama kalau menunggu tarwih selesai. Atau orang yang akan segera keluar dan tidak ikut tarwih karena bafru saja menyelesaikan umrahnya. Atau orang yang tadinya ikut shalat di daerah tempt tawaf, dengan bertambahnya orang yg bertawaf, maka mereka harus pindah shalatnya dsb. Di daerah yg lurus dengan pintu utama 9 misalnya pintu 79 seperti yang saya lihat) tempat yg dijadikan jalan di batasi dengan tali pembatas. Karena kilhatannya lapang selalu ada saja Bapak bapak yang ingin shalat di dalam tali batas mesti selalu di usir oleh polisi. Kalau polisi bergeser ke kanan, maka di sebelah kiri ada yg berdiri akan shalat, kalau polisi mengusir orang itu, maka di sebelah kiri sudah ada orang lain yang siap salat disitu. Saya yang sedang shalat di pinggir batas  selalu melihat hal seperti itu sehingga kelihatannya antara polisi dan jamaah seperti anak anak yang main gobag sodor dan saya ber kali kali sempat hampir tersenyum  ( ketahuan ketidak khusuannya, jadi malu). Hal ini berlangsung sampai tarwih hampir selesai.

Ada juga pemandangan wajar tapi unik. Polisi membuat pagar betis di luar pintu utama untuk membendung jamaah yang baru datang jangan masuk dulu, guna memberi kesempatan jamaah yang baru selesai shalat fardhu dzuhur keluar dari Masjid. Karena cuaca yang sangat panas, para polisi kepanasan, lalu ada polisi yang membagi bagi tisu. Sungguh pemandangan yang unik, ada satu pasukan polisi lebih dari satu peleton berdiri berjajar dalam dua shaf yang berhadapan , semuanya melap mukanya dengan tisu yang warnanya sama pemberian dari salah seorang diantara mereka.

Ada juga pemandangan yang cukup simpatik, menjelang waktu shalat di pintu masuk ada orang yang menyediakan tas kresek di sodakohkan kepada siapa saja yang mau masuk masjid dan memerlukan tas kresek untuk pembungkus sandal mereka. Sepele, bermanfaat dan banyak yang merasa tertolong.

Purwokerto,8 September 2012

HR Manshur Mu’thy A Hayyi

Pos ini dipublikasikan di kapita selekta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s