Somalangu Di Masa Kecilku (2)

Mulangan

Seperti tersebut dalam tulisan terdahulu, bekas pendopo dari rumah kediaman Syekh Abdul Kafi Tsani  setelah di pisahkan dari bangunan induknya , jadilah sebuah bangunan tersendiri berupa rumah limasan membujur dari barat  ketimur dengan ukuran kira kira 6.5 m x 12,5 meter dan dikenal dengan nama Mulangan. Rumah induknya berada di sebelah utaranya dan dulu di tinggali oleh Bapak saya, yaitu KH Mu’thy Abd Hayyi, bungsu dari Syekh Abd Kafi ats Tsani Wallahu yarham.

Syekh Abd Kafi Tsani wafat entah tahun berapa, tetapi Bapak masih kecil dan mbah Nyai wafat dua tahun kemudian. Sejak itu rumah itu kosong tak berpenghuni, karena Bapak sebagai satu2nya anak beliau yg belum mandiri masih kanak kanak dan ikut kakak sulungnya yaitu Syeikh Abd Rahman . kemudian setelah Bapak berumur 30 th dan nikah dengan Sibu (Ny Melik Isyarah Ummi Mauludiyah), barulah rumah dihuni lagi yaitu oleh Bapak dan Ibu (kami anak anak beliau memanggilnya Sibu).

Aslinya bagian dalam dari Mulangan berupa lantai tanah sepanjang pinggiran ruangan, dan di tengah tengahnya ada semacam amben besar terbuat dari beton dgn tegel jubin, seluas 4 x 10 meter.

Mulangan setelah direhab tahun 2010

Dizaman revolusi, Mulangan disamping sebagai tempat mengaji kesepuhan di pagi hari Jumat, dan tempat ngaji anak anak ba’da maghrib, juga di pergunakan untuk rapat AOI. Waktu itu ada dua macam rapat yg di kenal masyarakat di zaman AOI, yaitu rapat cabang (rapat yang diikuti oleh para pengurus cabang) dan rapat ranting (yg diikuti oleh seluruh perwakilan dari ranting ranting). Rapat cabang di lakukan di Mulangan dan rapat ranting dilakukan di masjid (karena diperlukan ruangan yang lebih luas). Konon ketika ada delegasi dari pemerintah pusat yaitu Bapak Mr Kasman Singodimejo {atau Isya Ansori?),  diterima oleh pimpinan pusat AOI juga di Mulangan situ.

PAC tragedy AOI, Sumebardi dlm keadaan vacuum tanpa Kiyai, kegiatan dakwah dilaksanakan apa adanya. Ibu  dengan di bantu anak perempuannya yaitu Yu Um ( Nama lengkapnya Um Hirroh, biasa dipanggil Bu Um, dan setelah dewasa di peristeri oleh KH Khalid Ridwan di Senepo Kutoarjo), mengajar ngaji anak anak perempuan dan perempuan dewasa di Mulangan. Kaum ibu belajar “batalan” sebuah istilah untuk pelajaran fiqih ibadah dgn hafalan diluar kepala , dan Aqoid yg diistilahkan belajar aqoid seket/ sipat rongpuluh. Sementara gadis2 dan remaja belajar turutan al quran, barzanji dan kitab kitab kecil sejenis sulam taufik.

Mas Tamim mengajar Al Quran kepada anak laki2 di masjid . Waktu itu mas Taimim masih bocah remaja dan di Sekolah di masukkan ke kelas dua SR, sementara di rumah masih ngaji juga kepada Ibu. Semasa kecil, kami  yakni kakak saya Mas Tamim dan mas Slamet dan kemudian saya, disamping masih ngaji kepada Sibu dan kemudian Bapak tetapi habis Magrib sudah mengajar teman teman sebaya , baik turutan (Baghdadiyah) maupun kemudian Al Quran. Baru setelah menginjak ke kitab kami dan teman teman belajar pada bapak. Anak laki laki yg pertama khatam al Quran, setelah tragedy AOI adalah Hadi dan Slamet Cacing yg sekarang sudah sukses berdagang di Lampung dgn nama H Saefuddin. Sedang murid Yu Um anak perempuan yg pertama kali khataman adalah Ipar. Kebetulan Ipar adalah anak Mbok Rejasengadi, murid pertama ibu dimasa ibu baru saja tinggal di Sumberadi dulu.

Yu Nyai Mahfudz ( Isteri KH mahfudz) dan Yu Ngakidah, (bungsu dari Syekh Abdurahman) juga mengajar kaum ibu di rumah beliau masing masing. Disamping itu Mbok Dulah Matori di Bojong juga mengajar para gadis, sedang mbokayu Nawawi di tengah  mengajar apal apalan (istilah lain dari Batalan) di daerah tengah. Sementara Pak Ali di tengahan mengajar apal apalan kaum bapak. Dilanggar juga ada pengajian untuk remaja putra.

Setelah Bapak pulang dari tahanan Ambarawa dan merehab rumah, maka anak anak perempuan tidak lagi ngaji di Mulangan tetapi di mester dirumah . Mester adalah nama amben besar pakai semen yg dipakai untuk ngaji dan jamaah kaum ibu di dalam rumah saya, ada juga mester seperti itu di Rumah Nyai Mahfudz ( dalem kidul ) dan Nyi Ngakidah (dalem kilen).

Sejak saat itu Mulangan di pakai untuk mengaji anak anak laki laki tiap malam, dan mengaji bapak bapak tiap jumat pagi hingga menjelang jumatan. Untuk pengajian Jumat pagi yg mengaji kebanyakan adalah Bapak bapak dari luar desa Sumbaradi, Khusus bulan Ramadhan, pengajian kesepuhan pindah ke masjid, Baik siang hari maupun bada tarweh, sedang Mulangan di pakai tadarusan pemuda . jaburan di sediakan secara bergilir oleh Kaum wetan dan Kaum kulon.

Rumah Para Kiyai

Setelah tragedy AOI, desa Sumberadi dalam keadaan porak poranda. Banyak bangunan terbakar habis.Pondok pesantren dan rumah para kiyainya jadi abu semuanya. Rumah peninggalan Syekh Abd Kafi Tsani yg ditinggali oleh Bapak, rumah Syekh Abd Rahman yg di tinggali oleh Yunda Hj Ghanimah, anak ketiga dari beliau, rumahnya kangmas Kidul dan kangmas lor (begitu biasa kami memanggil KH Mahfudz dan KH Thaifur). Semua ludes. Hanya ada satu rumah keluarga yg utuh, yaitu rumah Yu Ngakidah bungsu dari Syekh Abd rahman yg tinggal dirumah ayahandanya yang dulu beliau tinggali dengan isterinya yang kedua, dan memang agak jauh dari Masjid/pusat ketegangan)  Masjid sudah ada bagian yg hangus tetapi konon tidak jadi terbakar, mungkin untuk menghindari luka ummat islam seara keseluruhan kalau ada masjid yang terbakar. Rumah kami tinggal tersisa bagian dapur, yg masih ada atapnya ,tapi dinding sebelah baratnya habis terbakar sehingga menjadi terbuka, sementara rumah induk dan tempat perempuan mengaji tinggal puing puing penuh dengan pecahan genting dan kaca saja. Itulah keadaan sekitar tahun 1951, dan sepulang dari pengungsian  kami sementara tinggal di Mulangan, tepatnya di bagian timur dari mulangan yang di sekat dengan beketepe untuk tidur ibu dan 5 anak anak2nya, sementara bagian lainnya mulai dipakai ngaji lagi untuk anak anak perempuan. Setelah dinding bagian barat dari dapur yg terbuka ditutup dgn tabag anyaman bambu selesai, dapur itu kami jadikan rumah tinggal dan Mulangan kembali di  fungsikan sebagai tempat ngaji anak anak perempuan dan juga ibu ibu.

Para kiyai tidak ada yang di tempat. KH Mahfudz  syahid di Gunung Selok, Bapak ditahan di Ambarawa, KH Thaifur , KH Zamahsyari dan Gus Hanif bin KH Mahfudz di tahan di Nusakambangan. Pesantren sudah hancur, masjid sementara di pegang oleh Kaum Ahmad Siraj, (salah seorang santri di akhir zamannya Syekh Abd Kafi dan semasa Syekh Abdurahman). Kami biasa memanggilnya (Wa Kaum). Hal ini berlangsung hingga sekitar 3 tahun, dan Bapak yg pertama kali di keluarkan dari tahanan, oleh Kepala Desa diangkat  menjadi Kiyai secara resmi, dan memimpin kegiatan keagamaan di Masjid dan di desa Sumberadi. Sejak saat itu, kembali Sumberadi mempunyai kiyai lagi. Pengangkatan itu sangat wajar dan tidak ada yang protes. Minimal karena dua hal :

  • Putra putri Syekh Abd Kafi yg masih hidup hanya tinggal dua. Yaitu  KH Mu’thi Abd Hayyi (Bapak) dan Nyai Dulah Mukri. Nyai Dulah Mukri ( Dewi Maryam) tinggal bersama suaminya di Kebarongan Banyumas. Bapak adalah satu satunya anak laki laki syekh Abd Kafi yang masih hidup dan tinggal di Somalangu.
  • Syekh Abd Rahman yg menggantikan Syekh Abd Kafi Tsani sudah meninggal, dan KH Mahfudz yg menggantikannya juga syahid, sementara amak laki kh mahfudz dan adik adiknya juga tidak ada ditempat, kecuali Yu Ngakidah yg tinggal di Kemejing perempuan, dan mas Kumari tinggalnya di Wonoyoso Kebumen.

Oleh karena itu sangat wajarlah kalau kepala desa menetapkan bapak sebagai kiyai yang memegang imamah di masjid Somalangu.

Kepala Desa/Glondong

Kepala desa Sumberadi pada waktu itu bernama Sariyo Martoamijoyo  ? menurut satu versi punya kaitan erat dengan Syekh Abd Kafi Awwal sebagai ikal bakan Somalangu.

Kata sohibul hikayah, awal kisah bermula dari sebuah persidangan di Istana kerajaan Islam di Jawa. Satu saat Sultan menghadapi sebuah kemusykilan yang sulit untuk mengatasinya, sehingga diadakanlah pisowanan agung untuk membicarakannya dan diumumkan barang siapa dapat memberikan solusi yg rasional dan bisa diterima akan diberi hadiah sebuah kawasan (yang kemudian dikenal sebagai tanah Semlangu). Dibaris belakang ada seorang yang berbicara untuk diri sendiri, bahwa masalah itu sih tidak terlalu berat. Orang disebelahnya yg kebetulan mendengar berkata kalau bisa kenapa tidak disampaikan saja kan ada hadiahnya. Di Jawab  bahwa ia pergi dari Yaman kan karena ingin menghindari hal hal duniawi, kenapa disini harus mengurusi pemerintahan. Ringkas cerita atas usul orang yg disebelahnya, disepakati, bahwa solusi akan disampaikan, dan hadiahnya diterima dan dikelola berdua, orang yang dari Yaman akan mengurusi hal rohani, sementara yg disebelahnya akan mengurusi pemerintahannya. Ternyata setelah disampaikan usul solusi tersebut , sultan sangat berkenan dan hadiahpun diterima berdua. Orang yg dari Yaman yg kemudian menurunkan para ulama di Semlangu itulah Syekh Abd Kafi Awwal, sedang yg satu lagi itulah Syekh Among Raga, dan kepala desa Sumberadi di tahun 50 adalah keturunan Syekh Among Raga tersebut. Saya pernah klarifikasi kepada bapak kepala desa, tentang silsilahnya, beliau mengaku benar keturunan Syekh Among Raga. Tentang kisah asal usul Sekh Abd kafi ini sedikit berbeda dgn versi lain yg mengatakan bahwa hal solusi yg  diberikan oleh Syah Abd Kafi awal disampaikan kepada Raden Fattah/Sultan Demak. Kalau di kaitkan dengan logika maka Syekh Abd Kafi Awwal lebih tepat hidup di masa Sultan Agung dari pada dimasa Sultan Demak. Orang yang berpendapat bahwa Syekh Abd Kafi hidup dimasa Sultan Demak bahkan menjadi menantu Raden Fatah, punya argument yg kurang rasional, yaitu Syekh Abd Kafi Awal punya nama banyak, dan hidup sampai umur seratus limapuluh tahun, sehingga hidup sejak jaman Raden Fatah hingga zaman Sultan Agung. Kalau kebenaran sejarah ingin dicari maka segala sumber lebih lebih yang hanya berdasar dari mulut kemulut dan mirip dongeng atau legenda tentu  perlu dikritisi.Wallahu a’lam.

Pondok Semlangu

KH Thaifur  sepulang dari Nusakambangan, lalu merintis kembali pondok pesantren lama yg telah hancur dengan merehab rumah beliau dan juga merehab pondok yang ada di selatan halaman masjid. Kemudian memperbaiki pula panggung diatas kulah masjid yg konon di kulah masjid itu dulu sebelum menjadi kulah pernah dipergunakan sebagai tempat tinggal Syekh Abd Kafi Awal.

Madrasah diniyah pun dibuka, dengan mempergunakan srambi masjid sebagai tempat belajar, sedang santri banat dibangunkan madrasah di sebelah timur. Pada waktu itu pondok dan madrasah diniyah dibawah asuhan KH Thoifur, sedang imamah masjid dan pengajian tiap jumat dan tiap bulan Ramadhan ada pada kepemimpinan Bapak saya yaitu KH Mu’thy Abd Hayyi yg lebih di kenal dengan sebutan Mbah Ragil, karena beliau adalah bungsu dari Syekh Abd Kafi Tsani.

KH Mu’thi A Hayyi (mbah Ragil)

Hal ini berlangsung hingga Bapak meninggal bulan Agustus 1966. Selanjutnya karena Bapak  dulu menerima amanah untuk memegang imamah masjid dari Kepala desa, karena Bapak telah wafat maka  oleh kakak laki laki saya yang tertua, Muhammad faqihuddin ,mewakili keluarga, diserahkanlah imamah masjid  kepada KH Thaifur, karena beliau adalah keturunan Syekh Abd Kafi yg tertua yang masih ada. Sejak saat itulah kepemimpinan masjid dan pondok pesantren berada pada satu tangan yaitu KH Thaifur. Namun seingat saya waktu itu tidak ada nama Pesantren Alkafi ataupun al Kahfi, yg ada adalah pesantren Semlangu, sedang madrasah diniyah yg adapun bukan Al Kahfi/al Kafy tetapi al Iman  dan kemudian Mathla’ul Anwar dibawah kepemimpinan Den Dur ( Abdurahman anak dari Ny Hj Ghanimah binti Syekh Abdrahman). Sedang madrasah kulon yg tidak ber afiliasi dengan pondok pesantren Semlangu, juga punya nama lain.

Demikianlah sedikit tentang Somalangu waktu itu. Kini keadaannya tentu telah berbeda, ada pesantren Al falah, ada Al Kahfi musholla/ langgar pun sudah bertambah pula

Semarang, 5 September 2012

Pos ini dipublikasikan di Somalangu tanah kelahiranku. Tandai permalink.

8 Balasan ke Somalangu Di Masa Kecilku (2)

  1. Abdul Karim berkata:

    Assalamu’alaikum wr, wb.
    Sekedar nderek urun matur saja kyai. Memvisualkan Somalangu memang laksana bak memvisualkan seekor “gajah”. Artinya, banyak sudut pandang dan versi serta tergantung dari sudut mana si visualator itu mengambil. Bagi yang mengerti Somalangu, tidaklah ada yang menyangkal bahwa kyai adalah dzurriyah dari Syekh Abdul Kahfi/Kafi Tsani, sebagaimana mbah kyai Qomari Abdurrahman, romo kyai Thoefur dan juga Syekh Mahfudz As-Syahid. Saya sepakat dengan pernyataan kyai bahwa “Kalau kebenaran sejarah ingin dicari maka segala sumber lebih yang hanya berdasar dari mulut ke mulut dan mirip dongeng atau legenda tentu perlu dikritisi”.
    Sungguh menarik ikut menyimak rekaman serta analisa kyai tentang Semlangu, Somalangu atau bahkan terkadang ada yang menyebutnya dengan Somolangu. Apalagi ketika kyai mencoba menarik kisah Amongrasa dan Amongraga kedalam percaturan sejarah Somalangu tersebut. Dimana kyai untuk memperkuat keyakinannya mencoba mengajukan salah satu pengakuan ”mbah glondong Sariyo Martoamijoyo“ yang mengaku dirinya pada kyai bahwa dia masih merupakan keturunan Amongraga. Nuwun sewu kyai, apakah “mbah glondong” kalau dalam ilmu sanad termasuk rijal yang tsiqah..??
    Kalau pendapat saya kyai, menarik kisah yang terdapat dalam serat centhini kedalam sejarah Semlangu atau Somalangu adalah sesuatu yang terasa dipaksakan dan termasuk kisah yang kalau boleh saya pinjam istilah dari kyai kisah yang lebih hanya bersumber dari mulut ke mulut. Mengapa saya berpendapat begitu kyai? Sebab sepengetahuan saya semasa hidup romo kyai Thoefur dulu beliau tidak pernah menuturkan kisah bahwa apa yang ditulis dalam serat centhini tentang Amongrasa dan Amongraga itu terkait dengan sejarah Semlangu atau Somalangu. Bahkan ketika saya sowan ke mbah kyai Qomari di Wonoyoso, dan saya tanyakan tentang pendapat kyai ini soal Amongraga & Amongrasa beliau hanya menjawab pendek, “kulo malah tembe krungu niki”. Artinya, saya memaknai bahwa pendapat kyai itu bersifat subyektif dan hanya dari kyailah warna kisah Amongrasa & Amongraga sebagai sumber sejarah Semlangu itu berasal atau pertama tercetus.
    Kalau boleh menebak kyai, sepertinya penarikan tentang kisah Amongrasa & Amongraga oleh kyai menjadi sebagai bagian dari kisah somalangu adalah dalam rangka untuk pembenaran argumen kyai jika masa hidup dari Syekh Abdul Kahfi/Kafi Awwal di Somalangu itu terjadi pada dekade zaman Sultan Agung, bukan pada masa Raden Fatah, Demak. Sebab membaca tulisan kyai, saya memprediksi bahwa kyai sebenarnya telah pernah mendengar dari para dzurriyah Syekh Abdul Kahfi/Kafi Awwal yang lain bahwa beliau datuk kyai itu hidup pada era Raden Fatah, Demak bahkan menjadi menantunya. Dan setidaknya seperti itulah pendapat “Sawadul A’dzam” yang ada pada dzurriyyah Syekh Abdul Kahfi/Kafi Awwal. Namun menurut logika kyai pendapat itu tidak masuk akal, sehingga kyai mencoba membuat “madzhab” tersendiri.
    Untuk hal ini nyuwun sewu kepareng matur kyai, saya dulu pernah mendengar dari pengendikan romo kyai Thoefur dan juga mbah kyai Qomari bahwa Masjid Somalangu itu berdiri sebelum tahun 1000 Hijriyah. Tandanya adalah angka tulisan 1000 hijriyah yang terdapat pada mimbar masjid. Saya pernah tanya kepada ketua ta’mir masjid, bapak H Abdur Rasyid, bojong, Somalangu dimanakah angka tulisan 1000 hijriyah itu terdapat? Beliau menjawab, “dulu kurang lebih sekitar tahun 1975 -an saya dan kawan – kawan pemuda didawuhi romo kyai Thoefur dan gus Hanif untuk membenarkan mimbar khutbah yang sudah goyang – goyang. Nah dalam salah satu sudut mimbar tersebut kami menemukan pahatan angka tertulis 1000 Hijriyah. Saya lupa apakah pahatan itu terletak disudut kanan atau kiri, tapi yang saya ingat betul itu ada di bagian depan mimbar”.
    Nuwun sewu kyai, jika mimbar khutbah itu dibuat pada tahun 1000 hijriyah atau sekitar tahun 1591 M, maka secara logika saja pasti masjid Semlangu itu berdiri sebelum tahun 1591 M. Sedangkan Sultan Agung itu menurut catatan Keraton lahir pada tahun 1593 M. Dengan demikian maka pendapat yang menyatakan bahwa Syekh Abdul Kahfi/Kafi Awwal datang di Somalangu pada masa Sultan Agung justru adalah pendapat yang hanya dari mulut ke mulut. Yang benar dan logis sesuai dengan data otentik tentunya adalah bahwa beliau telah berada di Somalangu semenjak zaman Sultan Agung belum lahir. Demikian dulu matur saya pada kyai, jika ada kurang sopan santunnya mohon kyai berkenan memberikan maaf yang sebesar besarnya.
    Wassalamu’alaikum wr, wb.

    Ta’dzim saya
    Abdul Karim, Kebumen

  2. Manshur Alkaf berkata:

    Pak Abdul karim, terimakasih atas tanggapannya. Bahwa tulisan saya subyektif itu benar, dan sudah saya katakan dalam pengantar pembuatan blog saya. Tentang th 1000 h, yg pernah saya dengar dari KH Thoifur, adalah tertulis pada kitab Syekh Abd kafi awal yg disimpan di rumah K Makmur Tejasari, tetapi saya belum pernah membuktikannya. Tentang angka seribu pada mimbar apakah berupa Candra sangkala atau angka riel juga saya tidak pernah tahu. Tentang nama Syekh Amongraga kok terdapat nama yang sama pada figur di Serat Centini memang rasanya kurang masuk diakal. Tentang pengakuan pak Glondong sebagai keturunan Amongoraga memang tidak ada saksi.Rasa rasanya saya tidak mengaitkan dgn Syekh Amongraga dan Amongrasa yang di Centini, tetapi panjenengan yg mengopinikannya Saya juga tidak tanya apakah yg dimaksud Amongraga disitu sama dengan Amongraga di Centini atau orang lain Tentang ke tsiqahan Pak Glondong dan juga saya dan siapa saja juga perlu diteliti. Tentang arti sawadui a’dzam mangga terserah, Setiap pernyataan memang perlu dikritisi, dan bila perlu diragukan dulu sampai ada bukti.
    Pak Abdulkarim, saya senang atas tanggapan panjenengan, saya menulis bukan untuk dijadikan sumber penelitian, tetapi justru untuk di koreksi karena hanya berdasar ingatan yang subyektif saja. Wallahu a’lam
    .

  3. johan amru berkata:

    pak yai kulo bade tanglet…asmane nyai abdul kahfi tsani sinten geh?

  4. Nuryadi berkata:

    Saya mau tanya pak kyai?,dari mana asal usul syekh ibrahim(mbah sitontong),dan mbah kertayasa

  5. Nuryadi berkata:

    Mohon maaf,yang mau tahu biografi syekh abdul kahfi ats tsani,silahkan mampir di blog saya:pancanuryadi.blogspot.com

  6. galih berkata:

    nuwun sewu kyai, menawi wonten kulo badhe nyuwun fotonipun KH. Thoifur amargi beliau niku gurunipun mbah kulo, kulo sampun madosi dereng nemu…
    matur suwun

  7. nuim khayat berkata:

    Assalamualaikum, mohon informasinya apakah saat ini masih ada pondok pesantren utk putra d Somalangu? Nuwuun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s