Ziarah Seri Lanjutan (7)

Terdahulu telah saya tulis perjalanan saya yang semi rekreatif.  Untuk tidak menimbulkan salah persepsi dari teman teman di Indonesia, bahwa ziarah2 tersebut tidaklah merupakan acara khusus yang menghamburkan uang, kebanyakan adalah sekedar memanfaatkan waktu dan kendaraan yang telah tersedia setelah acara resmi. Sebagaimana di ketahui, hari Kamis dan Jumat adalah hari libur. Hari jumat kami diberi fasilitas mobil untuk melakukan shalat Jumat di Masjid yang punya arti khusus di Riyadh. Ba’da Jumat, sambil pulang kami bisa singgah di beberapa pusat belanja, dan pernah sekali sambil menunggu waktu Asar kami memanfaatkan makan di rumah makan Indonesia. Oleh karena itu pada kesempatan lain saya ingin juga menulis tentang berbagai hal yang saya temui di berbagai masjid waktu shalat jumat dan masjid lain yang saya jumpai selama disana.

Dengan bis inilah biasanya kami beraktifitas

Pada kesempatan ini saya ingin mencoba menulis, tentang berbagai ziarah lain, yang sebenarnya adalah berupa kunjungan resmi ke berbagai instansi terkait yang merupakan kunjungan kerja ”berkaitan” dengan mukhadarah .

inilah gedung mahkamah idari dari samping

Kunjungan pertama adalah ke Mahkamah Idari di Riyad. Mahkamah ini adalah mirip dengan Peradilan TUN di Indonesia , namun ada juga ke khususan lainnya, karena system hukum dan kelembagaannya di suatu negeri, tidak sama dengan negeri lainnya. Begitu mobil masuk di Teras Gedung, kami telah disambut oleh satu kelompok orang dengan menggunakan gamis putih, sorban Azizi warna merah, dengan Igal warna hitam. Isttilah ini adalah istilah saya saja, karena begitulah nama nama pakaian yang di ceritakan bapak saya 50 th yang lalu, sedang istilah yang sebenarnya saya tidak tahu dan belum pernah bertanya sampai sekarang. Kemudian kami dibagi 4 grup, masing masing mendapatkan penjelasan singkat tentang proses berperkara di situ, lengkap dengan instrumen yang di perlukan., Kemudian kami semua diterima di tempat pertemuan . Saya menangkap ada sedikit kekeliruan dalam penyambutan terhadap kami. Telah disiapkan kelengkapan penyambutan, yaitu pengasapan dengan dupa dari kayu Gaharu dan minuman khas ,qahwah (kopi Arab) yang rasanya seperti jamu. Tetapi ternyata hal itu terlambat di sajikan, sehingga acara sudah terlanjur berlangsung. Hanya beberapa orang yang sempat mendapat sajian minuman tersebut dan di asapi, acara yang hanya berisi penjelasan dan pengenalan mengenai system kelembagaan peradilan di Mamlakah sudah terlanjur selesai. Tetapi hidangan lain sudah sempat disajikan dan kami nikmati.

Hal lain yang dapat kami rasakan adalah fasilitas serba mewah dan  pelayanan disini sudah memanfaatkan vasilitas IT dengan baik.

Hari Selasa berikutnya kami di jamu oleh Mahkamah ’Ammah di Riyad. Kunjungan kerja kali ini berjalan mulus. Begitu sampai di tempat kita disambut dengan formil . setelah jabat tangan lalu semua yang hadir di beri minuman tradisional yakni qahwah, di asapi dengan asap kayu gaharu secara merata. Pimpinan memberikan ucapan selamat datang, sementara Bapak Farid , sekertaris Ditjen Badilag memperkenalkan seluruh peserta satu persatu secara lengkap. Sementara hidangan lainnya berjalan tanpa mengganggu acara secara keseluruhan. Setelah itu rombongan dibagi menjadi 3 grup untuk melihat praktek sidang . karena sidang yang ada bukan mengenai perkara hudud/qisas, maka sidang dilakukan dengan hakim tunggal. Akan tetapi saat itu hakim di dampingi oleh calon hakim yang sedang magang disitu. Seusai sidang dilanjutkan dengan tanya jawab antara rombongan dengan hakim disitu. Menjelang pamit dilakukan foto bersama dengan pimpinan Mahkamah.

Kunjungan berikutnya ke Wuzarahtul ’adl, atau Kementerian kehakiman. Disni acara berlangsung mulus dan megah, kami semua masing masing mendapat hadiah air zam zam 10 liter dan sebuah bingkisan, berisi, Sajadah, Kitab suci Alquran daan terjemahannya dan Korma. Pulang dari kunjungan bus menjadi sesak, karena bingkisannya cukup besar.

Kunjungan kerja ke Kejaksaan Agung sedikit mengalami ”kecelakaan’. Acara ziarah Selasa katanya ditiadakan diganti menjadi Selasa malam, tanpa di ketahui kemana tujuannya. Karena   acaranya malam, kami menduga bahwa acaranya bersipat santai, sehingga kami menggunakan baju batik.Ternyata acaranya sangat formil dengan acara penyambutan seperti yang lain tetapi di lanjutkan dengan pemaparan sekilas tentang kejaksaan agung di mamlakah, dengan menggunakan fokus, dan di akhiri dengan makan malam.  Disini kami sangat dimanjakan, karena seluruh hidangan yang ada diantar oleh petugas dan kami di sendokkan dari tempatnya kepiring kita masing masing. Sayang waktu itu kami tidak memakai pakaian lengkap, sehingga sedikit kurang PD.

Kunjungan berikutnya adalah ke KBRI. Kami disambut oleh Bapak Dubes, beberapa atase dan banyak staf, termasuk kepala sekolah Indonesia. Kebetulan saya semeja dengan atase kepolisian seorang kolonel yang kelihatannnya masih sangat muda dan saya sempat beramah tamah dengan beliau. Acaranya Indonesia banget, di awali dengan bacaan ayat suci al Quran, makan bersama dan dilanjutkan dengan sambutan sambutan. Bapak Dubes sempat memaparkan tentang banyaknya warga negara di Indonesia, yang bila dibandingkan dengan jumlah staf yang ada di kedubes di Riyad konjen di Jeddah, adalah satu berbanding 75000, sehingga perlindungan kepada mereka oleh kedubes/konjen merupakan sesuatu yang cukup tidak ringan. Disini kami bisa merasakan nikmatnya bregedel sop sambel dan lain lainnya dan bisa menjadi obat rindu, yang sudah hampir satu bulan meninggalkan kampung halaman.

Kunjungan terakhir adalah bukan ziarah, tetapi kami di jamu secara resmi oleh bpk rektor. Acaranya sangat mendadak. Senin siang dalam mukhadoroh terakhir diumumkan, bahwa Selasa malam bada magrib, kami akan diajak makan malam dengan Pimpinan Al Jamiah, karena selama ini belum pernah bertemu secara resmi, sedang menurut rencana kami akan berangkat umrah hari Rabu, dan seterusnya langsung pulang ke Tanah Air, maka Senin sore di programkan kegiatan mengirimkan buku yang kami beli lewat cargo. Ada juga yang sorenya akan wada’ (soping terakhir ke Badha) . Tiba tiba habis makan siang dan sedang istirahat di kamar masing masing jam 14, kami digedor untuk segera berpakaian lengkap karena saat itu sudah ditunggu oleh Bapak rektor ( Mudirul Jamiah) , untuk bertemu secara resmi. Kami kalang kabut, tetapi tidak sampai 10 menit kami sudah siap dan meluncur menuju tempat rektor. Setelah secara resmi kami di terima oleh beliau, maka diantara sambutannya disebutkan bahwa insya allah besok ada hadiah dari Jamiah yang dapat dipergunakan untuk umrah lusanya. Dijanjikan juga semoga tahun depan kami semua dapat menunaikan ibadah haji. Ucapan Amin pun mneggemuruh . Ketika pimpinan Rombongan menginformasikan, bahwa peserta telah membuat laporan  yang juga meliputi terjemahan seluruh perkuliahan ke dalam bahasa Indonesia dan mohon kiranya dapat dicetak oleh Aljamiah untuk dibagikan kepada 4000 hakim di Indonesia, maka beliau mengatakan bahwa akan segera di cetak sebanyak 5000 eksemplar. Legalah kami semua, karena ke seriusan kami selama sebulan ini , ternyata mendapat respons yang positip dari Al Jamiah. Kami tinggal menunggu hadiah apakah gerangan yang akan kami terima besok. Mudah2an berupa syahadah/ sertifikat dan lain lainnya.

Riyadh, Selasa 12 Juni 2012

 

Pos ini dipublikasikan di kapita selekta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s