Kuliah / Mukhadharah (6)

Kalau pada angkatan ke satu empat tahun yang lalu perkuliahan disampaikan dengan menggunakan jasa Penterjemah, maka untuk angkatan kedua kali ini, pada awal masa perkuliahan pun ditawarkan kalau kalau akan menggunakan jasa penterjemah, tetapi teman teman menyatakan tidak perlu. Pada awalnya saya menduga, bahwa kami agak sedikit sombong atau GR, tetapi saya yang sebenarnya sedikit minder ,kemudian  ternyata tidak terlalu sulit juga untuk mengikutinya, karena bahasa yang di pakai adalah bahasa Arab Fushah. Teman teman cukup agresip juga mengajukan berbagai pertanyaan. Di hari kedua sayapun sudah berani ikut ikut mengajukan pertanyaan tentang kontroversi yang terdapat pada wakaf nuqud, yang di Indonesia di kenal sebagai wakaf tunai. Menurut Pak Dosen pertanyaan saya itulah yang selalu menimbulkan ikhtilaf sampai sekarang.

Perkuliahan dibagi dua, perkuliahan resmi setiap hari Sabtu sampai Kami

Sebelum mukhadharah pahi

s, di kampus dan mukhadharah masai, seminggu tiga kali antara maghrib dn Isya, di Nadi Thullab dekat masjid.

Kecuali waktu pembukaan, ruang kuliah pagi bertempat di ruang peragaan/ peradilan semu. Disitu ada meja majlis hakim, ada meja mudda’i dan mudda’a alaih. Para peserta ( Musyarikin) duduk dikursi pengunjung. Pernah juga kami menggunakan laborat, yang masing meja dilengkap dengan komputer. Sebagian dosen ada yang menyajikan materi dengan dengan vokus.

Mukhadharah masai di Nadi Tullab ruangnya lebih terasa luks, arenanya berupa setengah lingkaran dengan kursi dan meja lipat.

Kami semua datang kira2 seperempat jam sebelum jam belajar. Sambil menunggu dosen, biasanya kami berfoto ria, dengan gayanya masing masing.

Para Hakim tinggi

Setelah Dosen datang kami pun mengikuti mukhadharah dengan tekun. Ditengah tengah keseriusan mukhadharah, ada juga yang iseng , mencari kekhasan masing masing dosen. Yang cukup terkenal adalah ada yang sangat sering mengucapkan kata aisy, ( ayyu syai’) mungkin maksudnya adalah kata ”apa” tapi bukan dimaksudkan sebagai pertanyaan. Ada juga yang bila pak Dosen masih belum menemukan kata yang tepat , maka beliau mengucapkan kata ”nuh”beberapa kali, dan kata teman2 yg pernah belajar di madinah kata nuh berarti ”annahu”.Ada juga yang setiap kali selesai menyampaikan satu topik, di akhiri dengan kata wadhih? Ada pula yang menggunakan kata Alaisa kadzalik? Untuk yang terakhir ini sampai ada teman yang menggunakannya sebagai judul tulisan tentang kesan masing masing peserta dalam buku yang diterbitkan di akhir pelatihan kelak.

 

Bersama salah seorang desen usai mukhadharah

Sejalan dengan agresivitas teman teman dalam mengajukan pertanyaan, kadang kadang ada juga yang keliru menggunakan istilah yang berlaku disana. Misalnya kata kata ’afwan yang diucapkan menjelang bertanya, sebagaimana kelaziman kita di Indonesia yg mohon maaf menjelang bertanya. Basa basi mohon maaf disana ternyata yang tepat adalah dengan kata bisamhatikum ya Syekh ….dst. Kata ’afwan adalah ucapan ucapan basa basi sebagai balasan atas ucapan terima kasih yang diajukan seseorang.

Saya terkesan atas sikap para dosen pada umumnya, terhadap pertanyaan yang kurang jelas. Beliau berusaha menformulasikan kembali maksud dari pertanyaan kami.Biasanya perkiraan beliau selalu tepat, dan  kalau sudah kami iyakan barulah beliau menjawabnya. Tetapi kalau pertanyaannya sudah jelas beliau langsung menjawab. Bahkan ada pertanyaan yg beliau puji karena keindahan bahasa yang dipergunakan oleh teman ketika bertanya.

Sabqul lisan atau keseleo lidah yang sering jadi bahan gurau teman teman, adalah ketika ada seorang teman yang mau bertanya pendapat dosen tentang satu masalah dengan mengunakan kata  ”kaifa ra’yukum” tetapi salah ucap sehingga berbunyi ”kaifa ra’sukum”. Ada juga yang membelanya dengan kata2 bahwa pada kata kaifa ra’sukum itu ada jumlah yag mahdzuf.

Waktu ada pemaparan materi Mawaris dan Dosen bertanya tentang sesuatu, sementara ada yang menjawab dengan mencuplik kalimat dalam sebuah kitab tentang mawarits dalam bentuk syiir, beliau beberapa kali beliau memujinya dengan kata ”ahsanta”, dan ternyata beliau sedang memegang kitab itu.

Para dosen selalu melayani setiap pertanyaan dengan penuh keterbukaan. Sebagai ilustrasi dapat dicontohkan, satu saat diskusi berlangsung sangat intens sampai pertanyaan agak keluar jalur sampai ada seorang teman yang mungkin ingin menegur teman lainnya, dengan cara bertanya kepada dosen, apa masih ada materi yang ingin beliau sampaikan, beliau menjawab bahwa sebenarnya masih ada, tetapi karena beliau menghormati para penanya maka beliau masih menjawabi pertanyaan yang diajukan. Lalu beliau melanjutkan pemaparan materi berikutnya.

Kesan lain dari sikap para dosen adalah, betapa tegasnya beliau menguraikan paparannya, atau jawaban atas pertanyaan yang diajukan, hampir semuanya, di akhir paparan/ jawabannya dengan rendah hati beliau menutupnya dengan kata wallahu a’lam.

Sesuatu yang mungkin lepas dari perhatian teman teman dan sekedar intermezo adalah ternyata ada  juga beberapa dosen yang dalam membaca shalawat di awal kuliahnya dengan lafadz ”sayyidina”.

Ada juga dosen yang sempat bergurau, ketika membuat ilustrasi mengenai berbagai akad di bank Syariah, bahwa  kalau beliau (Pak Dosen) mau pinjam uang di Bank untuk biaya nikah lagi tentu tidak bisa pinjam ke Bank dengan akad murabahah, mudharabah ataupun musyarakah. Solusinya antara lain bisa dengan akad tawarruq. Beliau mengatakan sebagaimana hakim di Indonesia maka beliau hanya punya isteri satu, karena termasuk min ’ulamail khaifin  ai yakhafuna min ’adamil ’adalah. Kontan suasana menjadi ramai.

Usai kuliah di lanjutkan dengan foto bersama. Karena ruangan sempit, diaturlah foto bersama, bergantian  untuk masing masing kelompok kerja.

Pada minggu pertama dan kedua kami semua masih keranjingan foto.  Ketika ada yang memulai foto bersama untuk teman2 yang berasal dari stu wilayah PTA, maka yang lain2 ikut. Ada foto bersama teman2 yang pernah bekerja di kalimantan Timur, mereka yang berasal dari satu angkatan waktumenjadi hakim dsb dsb. Yang unik adalah ada yang mengkhususkan diri mengambil foto mereka yang kebetulan sedang mengantuk  atau seperti mengantuk.

Riyadh, 7 Juni 2012

 

Pos ini dipublikasikan di kapita selekta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s