Ziarah. Seri Pertama. (5)

Keluar untuk ziarah

Di Indonesia, Ziarah sering di asosiasikan dengan ziarah kubur, sehingga sambil gurau ketika di umumkan bahwa hari ini acaranya adalah ziarah , ada yang nyeletuk apa kita perlu membawa Buku Surat Yasin?. Disini ziarah bisa diartikan kunjungan kerja, silaturahim dan bahkan wisata. Oleh karena itu obyek ziarah bisa macam macam, demikian juga pakaian yang sebaiknya di kenakan. Ziarah ke Museum tentu pakaiannya bebas, tetapi ziarah KBRI pakaiannya ala Indonesia, sehingga kami mengenakan batik dan peci hitam. Sementara ziarah ke mall , pusat HP , grosir minyak harum tentu pakaiannya lebih bebas lagi.

Pada kesempatan ini yang akan saya tulis sedikit yang saya dapat tentang berbagai ziarah dalam arti jalan jalan santai dan berbau rekreatif. Saya termasuk miskin dalam hal ini, karena saya termasuk pemalas dan sebagai nomor urut tertua yang ada dalam kelompok ini, perlu juga ”jaga kondisi/kesehatan fisik”. Apalagi kalau seperti kemarin ada kunjungan kerja, sekitar pukul 11 siang, suhu cukup panas 45 derajat selsius. Namun sekali sekali pernah juga saya jalan jalan bareng teman2.

Pertama keluar, cari rel gagal

Di hari pertama, saya keluar bareng teman teman  mau tukar rupiah menjadi real, karena itu keperluan paling penting. Waktu itu hari Selasa, yang  walau diantar sopir dan orang dari KBRI yang telah dijanjikan, tetapi pada awalnya  ada kesulitan tentang waktu, sehingga kami baru dapat keluar  menjelang pukul sebelas siang. Penukaran real ada sedikit hambatan, karena pada umumnya kami mengira money chenger tidak sebanyak di Madinah atau di Makkah. Bank yang melayani penukaran real dari rupiah tidak banyak dan ada prosedur tertentu . Belum sempat mendapat real, waktu telah menjelang shalat dzuhur, sehingga bank2 pun tutup. Akhirnya ada fasilitas kemudahan dari bapak dari KBRI yang akan mengusahakannya menjelang waktu asar. Kamipun pulang dengan sedikit foto foto di komplek pertokoan/pasar yang kami tidak tahu namanya.

Sore harinya setelah punya real, saya dan beberapa teman keluar asrama mencoba rmencari kartu SIM Arab dan oleh supir taksi saya diantar ke pusat HP disana. Tidak ada yang istimewa,  sayang saya tidak sempat berfoto sehingga tidak ada kenang kenangan disana. Kartu SIM ternyata tidak semurah di Indonesia. Kartu SIM termurah seharga 20 real (Rp 52 000,-) yang berisi pulsa sepuluh real.

Faisalian and kingdon towers

Dalam satu perjalanan, saya sempat juga mengambil foto bangunan yang menurut saya unik, saya kurang jelas ke unikannya, dan beberapa waktu kemudian saya baru tahu bahwa tempat itu ternyata merupakan sebuah monumen .

Ada  dua tower yang cukup tinggi, yang bernama Faisalian And Kingdom Towers. Konon dari sana dapat dilihat kota Riyadh secara keseluruhan. Kalau dapat mengunjunginya diwaktu Maghrib, maka bisa di lihat matahari saat terbenam. Terpikir juga saya bila dapat rukyat hilal disini. Sayang tidak ada teman yang tertarik dan saya tidak tahu bagaimana dan berapa harus bayar kalau ingin masuk dan mmenikmati senja dari sana. Tetapi saya baru menyadari ini setelah awal Rajab berlalu.

Bersama Bpk KPTA Aceh, dgn latar senjata tempo doeloe

Hari Kamis tgl 24 Mei kami satu rombongan sempat mengunjungi obyek wisata Museum Masmak, peninggalan raja sebelum dinasti Su’udy. Konon bangunan museum ini adalah bekas kerajaan tempo dulu. Tampak luar bangunan ini mirip sebuah benteng  yang kokoh. Pada dinding dindingnya terdapat banyak lobang, mungkin untuk mengintip musuh diluar, atau untuk meletakkan senjata lontar. Pojoknya terdapat menara pendek mirip benteng pada buah catur. Pada bagian dalam terdapat mushalla kecil, dan konon bekas rumah tamu yang masih terdapat kursi kursi yang indah. Ada juga ruang yg berisi layar monitor yg memperagakan berbagai  frahmen sejarah dan mungkin missi dan vissi pemerintah. Ada beberapa foto yang bernilai sejarah  seperti foto foto para ”Perintis kemerdekaan” atau foto para tokoh pro Ibnu Saaud ketika terjadi antara Ibnu Saud dan Syarif Husain. Saya jadi teringat  pada pakDe saya KH Abd Rahim bin KH Abd Kafi ( adik dari KH Abd Rahman bin Abd Kafy) yang yang gugur di Arab sebagai Prajurit pro Syarif Husain . Allahummaghfir lahu warhamhu.

Ada juga foto yg bernilai sejarah  dan budaya masa lalu, seperti situasi pasar sekitar tah 1950, kota lama dan barang barang rumah tangga, seperti pelita (sentir dan lampu teplok) berbagai bejana dan perlatan perang seperti, pedang, pistol senapan. Ada juga pelana onta. Saya tidak dapat bercerita lebih banyak, karena wisata ini tidak pakai pemandu.

Santai usi mengunjungi museum

Pemandangan diluar cukup indah, ada pusat pertokoan dan mall yg banyak menjual parfum dan bersebelahan dgn bank Ar Rajhi yang megah. Saya hanya sempat jalan jalan sebentar, karena target perjalanan harus dapat shalat dzuhur dirumah, namun sekdar kenang2 an ada juga sedikit kenagan foto fotodisana

.

Malam Jumat 31 Mei, kalau tidak salah malam Jumat Manis. Asrama di kost sepi ,disamping memang Kamis dan Jumat itu hari libur, kebetulan di Riyadh juga habis usai masa masa ujian, sehingga banyak Mahasiswa yang mudik. Ba’da Isya kami keluar menuju pasar raya semacam Tanah Abang di Jakarta. Ada juga jalanan yang macet. Kota Riyadh yang gemerlap, saya terlambat mengambil tustel, saya hanya sempat mengambil gambar yg tidak terlalu mewakili keramaian kota itu. Kami ke mal Al Haram ,saya lihat bagian yang memberikan diskon sampai 10 persen, banyak di serbu pengunjung. Saya sempat melihat beberapa wanita yang belanja tanpa menggunakan penutup muka. Konon kebanyakan dari Mesir.Yang bagi saya unik, di tempat penjualan mainan, ada mainan berupa ketapel/plintheng, tapi pelurunya lunak seperti kapas yg dibungkus kain. Saya bukan orang yang romantis , tetapi diam diam saya ingat juga sama anak isteri. Saya ingat isteri saya pernah menyatakan ingin beli minyak Zaitun saat umrah nanti. Saya mencoba mencarinya, ternyata ada dua macam, satu untuk perawatan kulit, satu untuk diminum. Saya beli yang untuk perawatan kulit. Saya mencoba melihat aneka kaos, karena anak saya kepengin beli kaos yang ada tulisan Arabnya. Di tempat kaos kaos saya hanya melihat kaos kaos seragam club sepak bola di Eropa, tidak ada kaos yg bertuliskan huruf Arab.

Siang harinya sehabis shalat Jumat rombongan rombongan makan siang di rumah Makan Indonesia ”Rindu alam” . Nikmat juga merasakan masakan Indonesia.Setelah itu acara disambung dengan Shopping di Madha, kawasan belanja yang ramai sekali. Kami sempat shalat asar dulu disana. Teman teman tidak banyak melakukan shopping. Beberapa diantaranya membeli tas jinjing untuk persiapan umroh, dan untuk dibawa masuk kabin pada saat pulang nanti, karena untuk mengurangi beban yang harus dibawa lewat begasi.

Di pasar ini banyak travel  yang menawarkan program umroh yaumiyah. Saya tidak beli apa apa, karena yang saya cari tidak ada. Mingkun harus di sambung dengan ziarah yang lain

Pos ini dipublikasikan di Somalangu tanah kelahiranku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s