Rashadul Ka’bah Di Riyadh. (4)

Beberapa bulan yang lalu saya punya rencana ingin ‘umrah, setelah pilih pilih tanggal, saya mendapatkan tanggal yang cukup baik, yaitu program ‘umrah sebelas hari, berangkat tanggal 18 Mei 2012,  pulang tanggal 29 mei. Saya katakan tanggal yang baik, karena hari itu adalah harpitnas, alias cuti bersama, sehingga saya dapat 4 hari libur termasuk Sabtu dan Ahad, dan minggu berikutnya ada dua hari libur lagi yaitu Sabtu dan Ahad, maka saya tinggal memerlukan 7 hari untuk cuti, pas sesuai jatah cuti tahun ini

Disamping itu , tanggal   28 Mei, satu hari sebelum hari terakhir perjalanan ‘umrah adalah hari rashdul ka’bah untuk seluruh dunia, karena pada hari itu matahari melintas persis diatas ka’bah, sehingga pada saat itu di belahan bumi yang sedang mengalami siang hari , bila menghadap matahari otomatis juga mengahadap ka’bah (azimuthnya). Hari yang cukup istimewa bagi para pendemen/pemerhati ilmu falak.

Oleh karena itu saya pernah curhat di fb, betapa senangnya kalau di saat matahari melintasi ka’bah saya dapat mengamatinya dari Hijir Ismail. Ada beberapa teman yang merespon curhat saya ini dengan positip.

Mujur tak dapat di raih malang tak dapat di tolak

Tadinya persiapan untuk umrah, jadnya persiapan lat ek syariah + umrah Insya Allah

Setelah persiapan untuk ‘umrah bersama keluarga siap semua termasuk suntik meningitis , paspor pun sudah saya sampaikan kepada biro perjalanan penyelenggara ‘umrah, dan tinggal menunggu perhitungan biaya keberangkatan dari Purwokerto ke Semarang karena waktu masih setengah bulan lagi, tiba tiba ada perintah dari Badilag MARI, bahwa saya harus segera menyerahkan kembali Paspor untuk segera di kirim ke Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta guna segera diurus visanya di tiket pesawat terbang ke Riyadh untuk mengikuti pelatihan ekonomi Syari’ah di Jamiah Imam di sana.Terpaksa dengan kalang kabut kami mengcensel perjalanan ‘umrah beserta keluarga, dan mengutamakan kepentingan dinas yang insya Allah ada program ‘umrahnya juga walau tidak tepat pada hari rashdul ka’bah. Kalaupun tidak bisa mengamati rashdul ka’bah dari Hijir Ismail, mudah2an dapat melakukannya dari Riyadh. Karena itu saya tetap menyiapkan kompas dan GPS yang saya pinjam dari BHR/Kemenag Kab Banyumas.

Mencari batery untuk mengisi GPS

Dari GPS saya dapat peroleh data bahwa untuk Riyadh ( mabna tempat saya tinggal) kordinatnya adalah sebagai berikut : Lintang utara 24° 49: bujur timur :46 42

Dari data itu dengan menggunakan data ephemeris di ketahui bahwa arah kiblatnya adalah  -63° 05’ atau 243° 05’ sementara  awal dzuhur  pada hari Senin 28 Mei 2012 pukul 11 53 sedang di Makkah matahari berkulminasi pada pukul 12 20 , atau 27 menit  kemudi an.  Menurut kompas yang ada di GPS, tampak jelas bahwa jarum menunjukkan ke angka 30° kurang sedikit, kalau di lihat dari barat arah keselatan, sehingga kalau itu dapat diartikan sebagai 26°55’ menit dapat dikatakan tepat. Ketika saya gunakan kompas untuk mengukur arah kiblat di dalam masjid, rasanya mrnjadi sedikit berbeda, jarum kompas disana menunjukkan angka 238°, yang kalau dihitung dari barat menjadi 32° , padahal seharusnya hanya hanya 26°55’ menit saja selisih yng dalam kompas tampak jelas sekali.

Hasil pencarian GPS disamping masjid

Oleh karena itu saya penasaran , sehingga pada hari Senin tanggal 28 Mei ini saya mencoba melihat bayang pada pukul 12 20, saat matahari persis melintasi ka’bah. Untuk itu karena mendesaknya waktu saya memilih tidak melakukan shalat ba’diyah seusai shalat Zhuhur langsung mencoba mencari bayang bayang matahari. Dari beberapa tiang bangunan yang ada di pinggir masjid dan sekitarnya, saya lihat seluruh bayang bayangnya telah lurus ke arah kiblat persis.

Penelitian saya ini sungguh tidak Valid, karena tiang2 yang ada tidak saya ukur lagi apakah benar berdiri tegak vertical terhadap alasnya yang betul betul datar, dan juga bayang bayang yg terjadi pada 27 menit setelah matahari berkulminasi masih terlalu pendek untuk digunakan sebagai bahan penelitian. Tetapi saya masih lebih percaya terhadap bayang bayang yang tidak hanya satu buah , dibanding kompas yang kita ketahui memang harus dikoreksi kalau akan mengetahui utara sejati sebagai acuan untuk menentukan azimuth arah kiblat.

Saya merasa sedikit puas karena tidak lupa melakukan pengamatan ini, sekedar obat kecewa karena belum juga sempat mengamati matahari berkulminasi diatas ka’bah dari Hijir Ismail, tetapi masih tetap berharap bisa melakukannya di bulan Ramadhan nanti saat ‘umrah beserta keluarga, insya Allah dan mudah mudahan. Sementara pada ‘umrah di akhir pelatihan ekonomi syar’iyah ini saya ingin dapat mengukur kordinat masjid nabawi , Quba maupun kiblatian, serta arah kiblatnya , dengan GPS dan kompas saja. Sekali lagi Insya Allah dan mudah mudahan.

Riyadh , Selasa 29 Mei 2012.

HR Manshur bin Mu’thy Abd Hayyi bin Abd Kafy

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s