Shalat Jamaah Di Riyadh (3)

Masjid dilihat dari barat laut

Baru beberapa hari berada di Masjid para thullab di Jami’ah Imam di Riyadh, saya  menemukan beberapa kebiasaan yang tidak sama dengan kebiasaan shalat di Makkah maupun Madinah, selama kami beberapa kali disana waktu berhaji maupun Umrah

Pertama.

Shaf di belakang imam, ketika belum penuh terisi

Ada tempat bersandar bagi jamaah yang duduk di shaf awwal. Satu kondisi yang tidak saya jumpai di Indonesia, juga tidak ada di masjid Nabawi maupun masjid lain di Makkah maupun Madinah. Saya tidak berani menduga  bahwa disitu adalah tempat khusus bagi mereka yang layak menjadi Imam atau tempat VIP, karena kenyataannya siapa saja dapat shalat disitu dan tidak ada yang menegurnya.

.

Kedua

Imam dan jamaah di sekitarnya salalu wirid dengan jahar,  sendiri sendiri tapi dalam waktu yang bersamaan, wirid ’aqibaa kulli shalatin maktubatin dengan bacaan yg standar. Tidak berjamaah, tetapi sama sama mengucapkannya dengan jahar. Di Indoneia ada yang sendiri sendiri dan pelan2/sir, ada yang jahar dan berjamaah. Disini jahar tetapi sendiri sendiri.

Ketiga

Membaca doa aqiba shalatin maktubah sebisanya

Para jamaah sangat menghormati orang yang sedang shalat. Walau ada kesan selalu tergesa gesa, dan banyak jamaah yg seusai shalat langsung keluar dari masjid. Saya mencoba memperhatikan mereka, dan mereka tidak pernah lewat dihadapan orang yang sedang shalat. Memang kesannya mereka dengan seenaknya melewati kita yang sedang khusyu membaca wirid atau sedang berdoa, tetapi mereka justru sedang berusaha untuk tidak lewat depan orang yg sedang shalat secara langsung.

Keempat

Se usai shalat jum’ah

Shalat selalu terdiri atas dua trip/kloter. Bagi jamaah yang terlambat dan tidak sempat masbuq ada shalat jamaah lagi   dishaf belakang . Tempat Imam ditandai dengan tanda tertentu , yaitu dengan diletakkannya  semacam tanda batas di depannya berupa papan yg ditegakkan berukuran sekitar 40 x 30 cm. Otomatis jamaah di depan yang akan keluar dari masjid tidak akan melewati kawasan tersebut.  Tanda seperti ini di Makkah pernah saya lihat juga waktu saya shalat di Pesantrennya Syekh Maliki , ketika waktu haji th 2004 saya menghadiri haflah disana yg dilanjutkan dengan shalat Isya. Ketika Jamaah sudah mengatur shaf, tanda itu diletakkan di  depan shaf. Imam kemudian mengambil posisi di arah tanda itu. Di Masjid Nabawi saya juga pernah melihatnya, tetapi bukan tanda untuk imam trip kedua, tanda itu  sekedar untuk menghormati guru / Syekh yang ikut berjamaah seusai mengajarkan Kitab di salah satu tiang masjid.

Dengan demikian para Jamaah yang masih di kamar dan mendengar shalat jamaah sudah di mulai tidak perlu kawatir ketinggalan jamaah karena selalu ada jamaah kloter kedua. Sudah tentu tidak termasuk waktu shalat Jumah.

Kelima

Mungkin karena di masjid ini jamaahnya hanyalah penghuni mabna2 yang terdiri atas unstur unsur sivitas akdemika , tidak ada jamaah yang musafir, maka disitu  tidak disediakan minum seperti di masjid Makkah  Mukaramah maupun di Masjid Nabawi di Madinah. Ketika saya shalat Juma’h di Masjid terbesar di Riyad , ternyata disitu disediakan juga minuman gratis, bukan Zamzam, tetapi air dalam kemasan biasa  yang telah dimasukkan kedlam kulkas. Dalam situasi diluar masjid cuacu di diatas 40 derajat selsius tentu air dingin dalam kemasan terasa sangat segar.

Riyadh , Jumat 11 Rajab 1433 H/ 25 Mei 2012.

Manshur bin Muthy Abd Hayyi bin Abd Kafi .

Pos ini dipublikasikan di Somalangu tanah kelahiranku. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s