Kritik Terhadap “Hisab Modern”.

Saya pernah bertanya kepada beberapa ahli falak, tentang perlu tidaknya menjadikan semi diameter (s.d) bulan sebagai salah satu unsur pengkoreksi ketinggian hilal (bulan baru). Jawabnya ber beda beda. Kepada saya juga ada beberapa teman yang menanyakan hal itu, dan kepada mereka saya jawab sesuai pendapat orang yang berbeda beda itu.

Disamping itu, sekitar tahun 1980/1981 saya pernah menjadi mustami’ dalam sebuah seminar kecil2an yg diselenggarakan oleh Ditbinbapera/BHR? , yang waktu itu hasilnya dirumuskan kalau tidak salah oleh Pak Darsa (dulu dari BMG) pak Wahyu ( sekarang Dirjen Badilag Mahkamah Agung) dan Pak Rahim (Almarhum Drs Abd Rahim tokoh Falak kita) yaitu rumus koreksi hilal berdasar semi diameter bulan.

Atas dasar itu , saya ingin sedikit urun rembug berupa sebuah kritik terhadap Hisab modern. Tulisan ini tidak ilmiah, karena saya bukan ilmuwan, oleh sebab itu seandainya ada yang menganggapnya relevan untuk dibahas, semoga ada yang terilhami dan mengembangkannya sebagai karya ilmiah.

Kita maklumi bersama, ilmu hisab (termasuk hisab modern) yang sering menimbulkan kontroversi adalah hisab awal bulan, yang intinya adalah menghitung ketinggian hilal (bulan baru) disatu tempat. Hilal menurut buku Almanak Hiasab Rukyat yg diterbitkan oleh Ditjen Badilag MA th 2007 adalah bulan sabit yang nampak pada beberapa saat setelah ijtima’ .

Terhadap bulan sebagai benda langit orang Arab mengenal penamaan yang berbeda beda sesuai rupa semu bulan. Ada Hilal, ada pula Badar. Sedang Qamar adalah untuk nama bulan untuk seluruh keadaan. Oleh karena itu yang harus di hisab ketinggiannya bukan bulan dalam arti qamar secara utuh , tetapi bagian dari qamar yang memantulkan cahaya matahari ke bumi yang secara teoritis bisa bagian pinggir kiri kanan atau bawah, tetapi yang jelas tentu bukan bagian atas (timur). Kalau misalnya pada saat matahari tenggelam diketahui tinggi Qamar adalah 0°14’ 0” diatas ufuk misalnya, dan bagian qamar yg bercahaya adalah bagian bawah dari qamar karena kebetulan azimuth matahari dan bulan sama tetapi tidak sedang gerhana, dan bila semi diameter bulan saat itu adalah 0°16’ 0” misalnya, maka bagian yg bercahaya tersebut berarti masih dibawah ufuk sebesar 0°02’ 0”. Kalau bagian ini yang bernama hilal, maka dalam kasus ini qamar sudah wujud tetapi hilal belum wujud. Atau dengan kata lain tinggi hilal tidak identik dengan tinggi qamar.

Selama ini memang kita telah lakukan koreksi terhadap tinggi hilal, dari tinggi hakiki ke tinggi mar’i dengan rumus tinggi mar’i = tinggi hakiki +paralak,+sd+ref+dip. Ini yang perlu dikaji ulang, yakni mengenai sd (semidiameter/jari jari bulan) apa sudah tepat kalau juga ditambahkan.

Waktu kita menghitung tinggi matahari saat terbenam (juga saat terbit) memang yang diperhitungkan adalah piringan matahari sebelah atas , karena matahari baru dikatakan terbenam kalau seluruh bagian matahari (yang semuanya bersinar) sudah terbenam semua dan sebaliknya matahari sudah dikatakan terbit, begitu ada sedikit saja yang muncul dari ufuk.

Lain halnya dengan qamar atau hilal , yang dicari adalah ketinggian qamar atau hilal, bukan saat qamar terbenam atau terbit. Oleh karenanya penggunaan semi diamater sebagai komponen yg diperlukan untuk koreksi, haruslah berbeda. Dalam hal qamar sudah ada diatas ufuk, yang diperlukan cukup asal titik pusat qamarnya saja, tanpa perlu dikoreksi dengan semi diameter. maka tidaklah perlu dilakukan koreksi dengan semi diameter, tetapi ini harus dikatakan sebagai tinggi qamar, bukan tinggi hilal.

Kalau yang mau dicari tinggi hilalnya, maka semi diameter harus diperhitungkan, tetapi yang jelas tidak ditambahkan kepada tinggi hakiki, karena bagian bulan yang memantulkan cahaya (yang menghadap ke matahari) tentu bukan bagian atas, karena matahari sudah atau baru saja tenggelam yang berarti diarah bawah bulan, bisa tepat dibawahnya, mungkin dibawah agak kesamping kanan atau kiri.

Hal ini tentu sangat dipengaruhi posisi bulan/qomar dan matahari pada saat itu. Dengan diketahui selisih azimuth bulan dan matahari saat matahari terbenam, dapat diketahui selisih azimuth keduanya. Dengan data itu, data tinggi hilal hakiki dan data sd bulan, maka dapat diketahui selisih ketinggian titik pusat bulan dengan bagian tengah dari pinggir bulan yg bercahaya. Bagi ahli goneometti untuk mengihtungnya tentu tidak susah yakni dengan ukur sudut segitga bola.

Pada sekitar th 1980/1981 hal ini pernah di seminar pada satu rapat kerja Hisab Rukyah di Cipete Jakarta yang di selenggarakan oleh Ditbinbaperais Dep Agama. Hasil perhitungan tadi dikurangkan dari tinggi hakiki bulan. Entah kenapa pada masa masa berikutnya tidak lagi dibicarakan orang, termasuk oleh para pegiat hisab rukyat. Saya yakin dalam hal ini Bapak Dirjen Badilag ( Bapak Drs Wahyu Widiana MA) masih ingat itu karena beliau dan Pak Darsa adalah termasuk team perumus waktu itu, dan rasanya pernah diterbitkan oleh Ditbinbapera pada sekitar tahun 1981.

Dengan demikian ada tiga hal dalam hisab modern, yang perlu dikritisi yaitu :

  1. Istilah tinggi hilal yang rancu dan dianggap sama dengan tinggi qamar.
  2. Koreksi tinggi hilal dengan menggunakan semi diameter bulan sebagai penambah ketinggian hilal, perlu diperbaiki, mestinya tinggi komar bisa menjadi tinggi hilal , dengan koreksi yang dihitung dengan rumus tertentu yang diantara faktornya adalah semi diameter bulan.
  3. Rumus tertentu tersebut telah pernah dirumuskan oleh Badan Hisab Rukyat sekitar tahun 1980, dan saat ini perlu dikaji ulang lagi.

Demikian tulisan ini saya buat dengan tidak sempurna, mudah2an ada yang mau menyempurnakannya.

Alhamdulillah saya selesaikan tulisan ini di Riyadh pada hari Sabtu 19 Mei 2012. bersamaan dengan 28 Jumaditsani 1433 H

– Manshur Mu’thi A Kafy –

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kritik Terhadap “Hisab Modern”.

  1. ALIBORON berkata:

    Kyai Guru, kebetulan masalah ini ditanyakan oleh sdr saya Abu Raihan (murid dari Murid dari Kyai Guru yaitu Abdul Basith (alm) di FB saya. Saya menjelaskan masalah ini berada dalam ranah khilafiyah. Secara pribadi saya menganut koreksi sd tidak perlu, tapi jika ada yang berbeda karena paradigma fiqh hisab-rukyat yang berbeda tentu kita menghargai. Mohon Penjelasan Kyai.Guru.

  2. ALIBORON berkata:

    Pendapat Kyai guru ini sangat ilmiyah

  3. Iwan Gunawan berkata:

    Saya sepakat sekali. Hilal bukanlah qomar. Hilal adalah sebagian kecil dari cahaya matahari yang diterima bulan terpantul ke arah pengamat di permukaan bumi saat maghrib. Di permukaan bulan tidak ada hilal. Seumur hidupnya separuh dari permukaan bulan selalu tersinari oleh matahari. Saat sebagian kecil sinarnya memantul menuju bumi, mata kita menangkapnya sebagai hilal. Jadi hilal hanyalah image yang ada di dalam mata pengamat.
    Jika hanya sedikit bagian atas qomar yang berada di atas ufuk, mata kita tentu tidak akan bisa melihat hilal karena hilal terhalang oleh bumi. Ini menyelisihi hadits yang menyatakan MELIHAT hilal.
    Pertanyaannya adalah berapa tinggi hilal yang memberi sinar pantul ke mata kita ? Usul saya kita merujuk ke data rukyah yang ada. Dari sekian banyak data, kita ambil yang terkecil menjadi kriteria saat melakukan hisab. Apabila kemudian hari ditemukan angka yang lebih kecil, kriteria direvisi. Saat ini rekor dunia pengamatan hilal termuda dipegang oleh Thierry Legault dengan sudut elongasi matahari-bumi-bulan besarnya 4.55 derajat. Jika suatu saat tertentu azimut bulan sama dengan azimut matahari maka sudut ini sama dengan tinggi bulan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s