Terkesima (Belajar Ngotak Atik)

Salah satu tulisan saya mendapat komentar yg mengatakan bahwa si pekomentar merasa terkesima ketika dibagian akhir tulisan saya tiba tiba berbelok arah. Terhadap komentar itu saya jadi ikut terkesima dalam dua hal.
Pertama karena saya tidak menyangka, bahwa anak kalimat pendek dan terselip dibagian akhir tulisan kami yang berjudul Mencari Arah barat di “Muzdalifah” sempat juga dibaca dan mendapat perhatian serta menyebabkan pembacanya terkesima.
Kedua saya tiba tiba menemukan satu kalimat yg tepat untuk mengungkapkan perasaan yang beberapa kali saya alami sepanjang saya belajar ilmu hisab. Dulu saya menganggapnya sebagai terkejut, tetapi sekarang telah menemukan kata yang lebih tepat yaitu terkesima. Saya memang pernah beberapa kali terkesima oleh sesuatu yg tiba tiba ada dihadapan saya , berkaitan dengan ilmu hisab/ Falak yang waktu itu sedang saya pelajari. Dari pada terbuang sayang, beberapa keterkesimaan saya itu ingin saya tuliskan disini.

1 Mencari rumus tahun baru Imlek

Beberapa tahun yang lalu ada tiga peristiwa tahun baru terjadi hampir bersamaan, semuanya terjadi di bulan Januari atau sangat dekat dengan bulan Januari, yaitu tahun baru Miladiyah, tahun baru Hijriyah dan tahun baru Imlek. Hal ini di kemukakan oleh ketua Rw di kampung saya, yang kebetulan beretnik Tiong Hoa. Beliau berbicara panjang lebar tentang asal usul tahun baru Imlek dikaitkan permulaan musim semi di Tiongkok sana. Ketika saya tanyakan bagaimana cara menentukan secara tepat kapan jatuhnya tahun baru Imlek, beliau tidak bisa menjawab , tetapi berjanji akan memberi saya berbagai bacaan yang berkaitan dengan tahun baru imlek.
Beberapa hari kemudian saya diberi beberapa bacaan semacam tabloid yang membahas tahun baru Imlek, tetapi tidak ada yang tegas menjawab pertanyaan saya tadi. Saya waktu itu belum kenal internet, jadi saya cepat putus asa, dan tidak lagi berusaha mencarinya, padahal sebenarnya saya memerlukannya terutama untuk memprediksi hari libur pada kalender yg biasanya saya konsep tiap tahun untuk di cetak pada sebuah pondok pesantren.
Pada satu saat saya tidak sengaja membaca baca Kitab Badiatul mitsal, buku kecil yang konon sebagai rujukan dari kitab Khulashatul wafiyahnya Bapak KH Zubair Umar, dan Buku Ijtimak hakikinya K R Wardan Diponingrat. Saya terkejut dan terkesima karena yang saya cari ada jawabannya disitu. Dibagian awal kitab itu tertulis dengan jelas bahwa tahun baru imlek terjadi pada bulan mati (ijtimak) yang terdekat dengan tanggal 6 Pebruari. Sangat mudah dan sederhana cara menentukannya, dan buku itu sudah saya miliki cukup lama , tidak perlu susah susah mencarinya . Tidak kalah terkejutnya bapak Ketua RW ketika saya mengatakan hal itu, bahwa rumus penentuan tahun baru Imlek ada dalam kitab kecil karangan Ulama dari Jombang ditahun seribu sembilan ratus sekian.Belaiu kagum atas apa yang saya temukan itu.

2. Mathali’ththawasuth

Sekitar tahun 2000 saya mendapat perintah dari Ketua PTA Semarang, untuk mengikuti pelatihan hisab tingkat MABIMS II. (MABIMS adalah suatu kerja sama antara menteri Agama Negara Brunai, Indonesia,Malaysia dan Singapura).Saya sangat senang, karena bayangan saya pesertanya dari Negara Negara tetangga. Kenyataannya semuanya peserta domestic, tetapi saya tetap senang, karena saya dapat belajar hisab untuk berbagai system. Salah satu sesinya adalah mempelajari ijtima hakiki karangan Bapak KR Wardan Diponingrat.
Sebelumnya saya memang sudah mempunyai buku beliau itu, tetapi belum pernah mempelajarinya secara khusus karena istilah2nya banyak singkatan dengan huruf biasa tetapi bahasa Arab, seperti sbk bln untuk sabak bulan dsb. Kalau tidak salah, narasumbernya adalah Bapak Muslih dari STAIN Pekalongan. Cara mempelajarinya dengan mencocokan hitungan yang sudah jadi dengan berbagai table data yang tersedia, dan untuk mencari sesuatu angka dan bagaimana caranya dilihat dari buku petunjuk yang ada.
Pada suatu saat ketika pengkajian berlangsung, tiba tiba mengalami jalan buntu, karena muncul angka tidak dikenal dari mana asal usulnya (kalau tidak keliru tentang mathali’utawasuth). Hampir saja terhadap angka tersebut akan dipending dulu. Karena saya melihat banyak istilah yang sama dengan istilah yang ada pada kitab khulashatul wafiyah, maka saya coba coba mencarinya disana. Saya mencarinyapun hanya dengan berspekulasi, karena selama ini dua kitab itu seolah olah ada pada ujung kutub yang berbeda.
Ijtima Hakiki ditulis dengan bahasa Indonesia huruf latin, standar penghitungannya adalah Yogyakarta dan dengan penanggalan Miladiyah. Untuk menghitung Ijtimak, terlebih dulu diadakan pemindahan dari Hijri ke Miladi dengan perbandingan tarikh. Buku Ijtima Hakiki yang mengembangkannya adalah Tokoh Muhammadiyah dari Yogyakarta, yaitu Bapak KR Wardan Diponingrat. Sementara Khulashah wafiyah ditulis dalam bahasa dan dengan huruf Arab, standar penghitungannya adalah Makkah dan langsung dengan penanggalan Hijriyah, dengan waktu ghurbi. Bila menghitung ijtimak di Semarang misalnya, dilakukan sisipan tabel dengan memperhatikan selisih bujur kota dengan Makkah serta memindahkan dari waktu ghurby ke waktu zawali. Buku ini ditulis oleh Tokoh Nahdhatul Ulama dari pantura Jawa Tengah , yang juga pernah menjadi ketua MIT Solo.
Namun tiba tiba saya menemukan jawabannya, dan ketika saya mencoba mencari dengan tabel koreksi koreksi pada Khulashah maupun Buku Ijtimak hakiki, hasilnya ketemu, sama dan sesuai dengan hitungan yang dijadikan acuan pokok kajian. Ketika hal itu saya sampaikan pada Narasumber, setelah diperhatikan sebentar lalu diambil alih dan kajian berikutnya berjalan lancar tanpa hambatan sampai akhir sesi. Itulah ketersiaan saya yang kedua, dan ketika pada kesempatan lain saya kemukakan kepada Pak Rahim, jawabannya ternyata memang buku buku itu berasal dari satu induk yaitu buku Badiatul mitsal, Hanya KH Zubair menimbanya lewat makkah, sedang KRT Wardan lewat Mesir.

3. Rumus Nisfu qaushinnahar .

Dalam kitab durusul falakiyah disebutkan, untuk mencari seperdua siang, diperlukan data mail awal lisysyams/deklinasi matahari dan ’Ardhulbalad/lintang tempat . Caranya melalui tahap tahap yang berliku, yaitu dicari dulu bu’dul quthur, lalu asal muthlaq. Baru kemudian dari bu’dul quthur dan asal muthlaq dicari nishful fudhlah, baru kemudian qausinnahar ( untuk istilah istilah tadi maaf saya tidak jelaskan disini). Pada pokoknya hitungan tadi dilakukan dengan menggunakan daptar logaritma, ataupun rubu’mujayyab dan semua fungsi goneometri diurai lewat fungsi Sinus. Sehingga untuk menghitung setengah busur siang saja jalannya cukup berliku yang kurang lebihnya begini :
Dengan data mail syams/deklinasi matahari (δ) dan ‘Ardhul balad/lintang tempat (φ) maka ilakjukanlah perhitunga sebagai berikut.
1. Dicari bu’dul quthur, dengan rumus Log sin Bu’dul quthur = log sin δ +log sin φ yang kalau menggunakan kalkulator bisa berubah menjadi : sin bu’dul quthur = sin δ x sin φ.
2. Dicari Asal Muthlak dengan rumus ; Log sin Asal muthlak =Log sin tamamul mail (complement dari δ ) + log sin tamamul ‘ardh (complement dari φ ). Dengan kalkulator, sin tamamul mail, bisa ditulis dengan sin (90-mail), dan selanjutnya menjadi cos mail. Demikian juga sin tamamul ‘ardh
3. Dicari Nisful fudlah dengan rumus Log sin Nisful fudlah =log sin Bu’dul quthur – log sin Asal muthlak. Dengan kalkulator bisa diubah menjadi Sin nisful f udlah = sin Bu’dul quthur /sin Asal muthlak
4. Nisfhu qaushinnahar( seperdua busur siang) = 90 + nisful fudhlah apabila δ dan φ searah (sama sama positip atau sama sama negative ) , dan 90 -nishful fudhlah bila δ dan φ berlainan arah (satu negative yang lain positip).
Dari rumus rumus tersebut saya mencoba otak atik sebagai berikut :
Karena Sin Nishful fudlah = sin Bu’dul quthur/sin asal muthlak, bararti = (sin δ x sin φ)/( cos δ x cos φ ) yg juga berarti =tg δ x tg φ (karena sin / cos = tangent) , dan karena nanti hasilnya adalah dipergunakan untuk mengurangi atau menambah sudut 90 derajat, maka rumus sin nishful fudhlah bisa diganti menjadi cos nishfu qausinnahar. Dengan memperhatikan tanda tanda negatip (selatan) maupun positip (utara) pada mail syams maupun ardhul balad, maka tiba tiba rumus itu menjadi Cos tO – φ tg. tg δ persis seperti rumus setengah busur siang pada hisab modern. Kembali saya terkesima oleh kesimpulan saya sendiri pada waktu itu.
Sampai saat ini saya tetap tidak bisa menjelaskan secara ilmiyah, tetapi saya hanya dapat memahaminya saja. Saya tetap senang dan bersyukur dapat menyimpulkan seperti itu, mengingat latar pendidikan saya dulu yang jauh dari hiruk pikuknya ilmu aljabar, ilmu ukur dan semisalnya.

Mungkin pembaca akan terkesima ketika sampai akhir tulisan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan gambar di bagian awal tulisan ini. Gambar itu adalah gambar monument falak di Jeddah yang saya ambil ketika saya haji tahun 2004 yang lalu. Waktu itu saya “terkesima” karena menurut saya monument falak kok cuma seperti itu

Wallahu a’lam.
Yogyakarta, 10 januari 2012.

Pos ini dipublikasikan di anekdot dan tag , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Terkesima (Belajar Ngotak Atik)

  1. Syamsul Qodri El-Falaky berkata:

    Mungkin “Ngelmu Iku Thinemune Kanthi Laku”, perlu diganti ” Ngelmu iku angele nek durung ketemu”.

  2. Nggih kinten-kinten ngatenlah. Nek aliran Ilmu Falak nggih ngaten, menawi rumusipun dereng kepanggih, utawi mboten pas, jian, krahos angel sanget, nanging nek sampun kepanggih mak plong, ternyata Ilmu Falak punika paling gampang. Enggih mbok lah ?. Dados mboten ngangge laku, nek ngagem laku malah tambah angel. Cobi panjenengan nglakoken kados jadwal sulam nayyiroen ingkang ngangge huruf jumal, misalipun 26^40’38” (kawin^ma’lih”), tambah sulit mbok pak Mansur ?. [Sekedar Guyon Falakiyyah]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s