Somalangu Di Masa Kecilku (1)

Tanah Kelahiran
Kali ini saya tidak akan menulis hal yang berkaitan dengan ilmu falak, tetapi sisi lain dari maksud saya membuat blog ini, yakni mengenang tanah kelahiran saya Somalangu (masuyarakat lebih akrab menyebutnya dengan Semlang), Sumberadi Kebumen Jawa tengah. Tulisan ini dibuat semata mata berdasar ingatan saya , yang mulai saya tulis sesudah tahun 2008 dimana saya telah melewati umur 60 tahun, sehingga akan sangat subyektif . Dimaksud dengan masa kecilku adalah dari saya dapat mengingat sesuatu hingga sekitar tahun 70 dimana saat itu saya sudah kuliah di IAIN , sehingga masa kecil disini termasuk masa remaja.
Sumberadi adalah sebuah desa yang terletak 5 km ketimur dari pusat kota Kebumen membujur panjang dari pinggir kota Kebumen (Kembaran ) arah ke timur, namun yang ada penduduknya hanya dipinggir timur, sementara dibarat hanya berupa sawah yang cukup luas.
Konon desa Sumberadi adalah gabungan dari tiga desa masa lalu, yaitu Semlangu Wetan, Semlangu Kulon dan Kemejing, akan tetapi dalam kenyataan secara geografis tidak ada pemisahan antara tiga bekas desa tersebut, walau dalam kehidupan sehari hari kami merasakan adanya istilah kulonan, Kemejing, wetanan Kauman, Jembrang, Balong Sitontong, Dukuh, Bojong, Karang Kalong, Plered dsb .

Disamping ada daerah permukiman dan persawahan, ada juga semacam hutan/papringan yang tidak ada pemukimnya, yaitu daerah pinggir sungai disekeliling desa dan daerah sekitar kali mati di tengah desa. Ada juga bukit kecil dan sekitarnya yang merupakan tanah milik desa dan dipergunakan untuk pesareyan ( Lemah Lanang) dan tempat menggembala ternak , serta mencari kayu bakar secara bebas. Pesareyan Lemah Lanang adalah milik bersama antara desa Sumberadi dan desa disebelah utaranya, yaitu Candimulyo. Sumberadi juga punya pesareyan lain yaitu Bundel disebelah barat dan Cungkub didaerah Bojong.
Ada tiga sungai yang mengitari desa Sumberadi, Di sebelah barat ada dua sungai yang bergabung di utara desa yaitu Kuwarasan dan kali Bakung, lalu mengalir lewat barat desa dan menjadi pembatas antara Sumberadi dan Kalireja. Sungai Kedungbener mengalir dari utara lewat sebelah timur desa ,kemudian berbelok ke barat di selatan desa, lalu bertemu dengan gabungan kali kuwarasan dan bakung, di barat desa, lalu belok ke selatan, dan terus ke laut, yang sebelumnya bergabung pula dengan kali Lukulo jauh di dekat laut selatan sana. Di utara tempuran/pertemuan kali Kedungbener dan Kewarasan /Bakung ada Candi, yang terletak di pekarangan Yu Ngakidah, bungsu dari Pak De Syeikh Abdurokhman dengan isteri yang kedua. Kami tidak pada tahu umur serta sipat candi tersebut.
Jalan di desa berupa angka delapan, ditimur laut terus keluar desa menuju arah Bandung Sruni, Krakal dst, sedang di baratdaya ada jalan keluar desa menuju Kalirejo dan Kebumen, atau ke Kedungbener. Untuk ke kota Kebumen jalan teraman adalah lewat Kalirejo, walau disebelah barat brug pathuk jalan sering longsor. Lewat kedung bener kurang aman, karena di Karangpotong disamping jalan sering rusak, keamanan kurang terjamin , dan delman (kemudian juga becak) jarang yang mau lewat situ. Lewat utara ada kendala di brug/wot Sigedang / kali Kewarasan, karena sejak brug itu rusak, hanya tersedia wot dan konon di wot Sigedang tersebut angker. Ke Wonosari, stasiun terdekat di arah tenggara bisa lewat timur dengan wot Karang Sengon, atau getek atau lewat plered yang harus menyeberangi sungai. Bisa juga dengan menyeberangi kedung di selatan desa, tapi disitu konon ada penunggunya yang bernama Sarasuta.
Masjid hanya ada satu sebagai imam dimasa kecilku di pegang oleh Bapak, KH Mu’thy A khayyi, bungsu dari Mbah Syeikh Abdul Kafi II . Kami tinggal dirumah bekas rumah Syeikh Abdul kafi tersebut, dan diantara rumah dan Masjid ada bangunan yng konon dulu adalah mbale (pendopo) dan tempat Mbah Syekh mengajar, dan bangunan tersebut dinamai Mulangan , yaitu tempat Embah mulang.

Muangan setelah dipugar th 2008

Mulangan setelah dipugar th 2008

Sampai wafatnya bapak meneruskan tradisi Simbah mengajarkan kitab Usul (ilmu kalam) yang lima bis, ditambah Minhajul Abidin dan Kitab Sanusi ( Ummul Barahin liddasuki ) setiap hari Jumat dari jam sembilan pagi sampai menjelang jumatan. Kitab kitab tersebut diulang ulang pengajarannya, begitu selesai dimulai lagi dari awal secara terus menerus. Kitab itu beliau baca juga setiap hari dibulan puasa di Masjid sepanjang siang hari dan ba’da tarwih. Biasanya tgl 25 Romadlan sudah khatam.

Ada juga langgar di sebelah barat milik warga Kauman, yaitu anak cucu KH Sapingi salah seorang ulama di Semlangu. Sezaman dengan Syeikh Abdul kafi II., Di Semlangu ada 3 tokoh agama , Yaitu Mbah syeikh Abdul Kafi II, KH Sapingi dan Kaji Jamil. Mereka tidak ada hubungan nasab, tetapi sudah seperti saudara, sehingga cucu Syeikh Abdul Kafi biasa manggil Kangmas/Kakang, kepada cucu Kaji Jamil, dan saya sebagai cucu Syeikh Abdul Kafi juga sering dipanggil lik oleh para buyut K Sapingi maupun kaji Jamil.
Tidak ada langgar lain, tetapi ada beberapa tempat ngaji selain di masjid dan langgar tersebut. Untuk anak2 perempuan dan ibu ibu, mereka ngaji kepada ibu di rumah, kepada Nyai Mahfudz dan kepada Yu Ngakidah dirumah masing2. Rumah rumah tersebut juga dipakai untuk sholat lima waktu berjamaah oleh ibu ibu dan anak anak, setelah ngaji anak anak juga pada tidur dirumah. Di Bojong juga ada tempat ngaji anak anak, dirumah Dulah Matori, sedang ibu ibu ada juga yang ngaji di rumah Yu Nawawi dan bapak2 di rumah Pak Ali ( si Ali) di tengah.
Sekolah hanya ada SD ( SRN ) di utara, yang bangunannya hanya satu rumah yang berisi dua local saja, sedang untuk kelas lainnya, menggunakan mbale(pendopo)nya orang, yaitu mbalenya pak Jaka, Bu Muhinah, dan pak Glondong. Ketika bangunan yang ada rusak berat dan belum di bangun yang baru, juga pernah menggunakan mbalenya Pak Congkog wetan. Pernah juga menggunakan bale rumah pak Carik di Bojong.
Ingatan saya pertama waktu kecil tidak di Sumberadi tapi di desa Wareng Kec Butuh Kabupaten Purworejo. Waktu itu di rumah Embah saya Mantan Glondong Wareng, Bapak tiba tiba dijemput oleh tentara dengan oplet, konon bapak ditangkap dan kemudian ditahan di Purworejo, pindah ke Magelang , Ambarawa, kembali ke Magelang dan Purworejo, selama 27 bulan. Setelah besar baru saya tahu dari cerita Sibu (demikian saya biasa memanggil Ibu saya), bahwa di Kebumen terjadi dua kali geger ,yaitu geger Landa dan geger AOI. Geger Landa adalah peristiwa kless kedua 19 Desember 1948.
Karena Sumberadi adalah pusat perjuangan rakyat Kebumen dan sekitarnya yang tergabung dalam organisasi Angkatan Oemat Islam (AOI) dan ketuanya (dengan gelar Rama Pusat) adalah Kakak Sepupu saya KH Mahfudz Abd Rahman, maka kami semua ikut bergeser menjauhi jalan besar untuk bergerilya. Kami ngungsi arah ke utara dgn berjalan kaki dimasa aman 2 jam, yaitu ke daerah Silekor/Tlagawulung. Ini berlangsung hampir satu tahun. Beberapa waktu kemudian, setelah ada pengakuan kemerdekaan oleh Belanda, timbul konflik antara AOI dengan pemerintah, terutama sayap militernya, dan AOI dianggap memberontak, lalu diserbu, AOI tidak menyerang, tetapi juga tidak menyerah tetapi menyingkir, Pada mulanya kami sekeluarga mengikuti gerak tentara AOI, tetapi kemudian yang bukan tentara termasuk kami memisahkan diri dari tentara AOI, dan kami sembunyi /ngungsi ke Wareng tempat Embah, yaitu bapaknya Sibu. Entah berapa bulan akhirnya Bapak ketahuan tentara lalu ditangkap karena sebagai pamannya Romo Pusat, Bapak dianggap sebagai penasihat, dan memang rapat rapat diselenggarakan di Mulangan, walau sebenarnya Bapak berada diluar struktur. Peristiwa tertangkapnya bapak itulah awal2 saya punya memori. Kemudian setelah bapak tertangkap, maka Sibu mengambil sikap untuk kembali ke Sumberadi, sehingga kami pulang ke Sumberadi hanya terdiri dari Sibu dengan 5 orang anak, yaitu Mas Muhamad, Yu Um, Mas Tamim, Mas Slamet dan saya, seperti seorang janda dengan lima anak yang masih kecil kecil.

Ibuku (Ny Melik Isyarah Ummi Mauludiyah)

Mula mula kami pulang dari pengungsian menuju rumah Mbokayu Majalil, seorang dukun bayi yang seperti anak angkatnya Bpk/Sibu, tetapi usianya hampir sama. Dan sebagian perkakas dapur kami memang dititipkan dirumah Dukun Majalil tersebut. Dia tinggal disebelah barat desa, secara geografis lebih pantas masuk desa Sumberadi (Kemejing) tetapi secara administratip masuk wilayah Kalireja. Dari rumah Mbokayu Majalil Sibu meninjau rumah yang hancur porak poranda, terbakar akibat perang. Karena bagian dapur yang masih ada sisa atapnya belum dibersihkan kami beberapa hari tinggal dirumah mbokayu Majalil, kemudian setelah Mulangan disekat dengan beketepe kami tinggal di Mulangan. Pak Glondong dan pak Carik (kakak beradik) sebagai penguasa memberikan nasihat dan pengarahan/pembinaan seperlunya kepada kami. Untuk selanjutnya Pak Glondong bersikap kembali bersikap hormat kepada Ibu , bahkan kepada saya (bocah umur tiga tahun) tetap memanggil Kangmas, mungkin karena merasa sebagai keturunan Syeh Among Rogo memang harus seperti itu kepada keturunan Syekh Abd Kafi I. Demikian juga Pak Carik yang berikutnya Pak Krigo putra pak Glondong juga bersikap seperti layaknya keturunan Syekh Among raga)
Kami tinggal di Mulangan dibalik sekat beketepe, sedang sebagian Mulangan tetap dipakai ngaji dan jamaah kaum ibu, baik para gadis maupun ibu ibu. Sibu kalau masak di bagian dapur rumah yang sebagian atap nya masih utuh tetapi sebelah barat tanpa dinding, sehingga kalau masak bisa berebut dengan ayam yang sedang saba. Bagian mester tempat jamaah ibu ibu dahulu jadi halaman, sedang bagian rumah utama yang merupakan peninggalan Syeikh Abd kafi II rata dengan tanah, kecuali tembok keliling yang masih berdiri sebagai saksi bisu. Disitu bertumpuk wingka dan beling dan tumbuh tumbuhan liar. Tetapi Sibu tetap gembira, karena sudah tidak ngungsi lagi , walau di rumah yang porak poranda. Saya terpengaruh dan merasa gembira, apalagi diberi mainan oleh mbokayu Sanudin dan San Rois, berupa terbang dan orek orek, mainan buatan beliau untuk dijual menjelang lebaran nanti. Saya berjalan hilir mudik diatas reruntuhan atap itu, untungnya tidak kecocog.

Kesenian tidak banyak jenisnya. Ada tiga kelompok seni Rodad, di Wetanan, Kemejing dan Kauman. Juga ada tiga tiga kelompok seni Selawatan Jawa, yaitu kelompok wetanan, Dukuh dan Kemejing, sementara di Jembrang ada seni ketinggreng.
Semuanya termasuk musik perkusi, yang mengiringi puji pujian, selawat yang bersumber dari Barzanji dan Syaraful Anam. Bedanya kalau Rodad iramanya keras dan disertai gerakan gerakan fisik , dinyanyikan dengan suara tidak terlalu tinggi, sedang Slawatan Jawa, vokalisnya melengking lengking (ngelik) dengan irama musik perkusinya mirip gamelan Jawa. Kalau Kethinggreng, mirip Rodad, tetapi dengan tambahan bedug sebagai basnya. Pentas wajibnya adalah saat Muludan. Slawatan jawa pentas tanggal dua belas Rabiul awwal pagi setelah membaca barzanji, Kelompok wetanan di masjid, kelompok Dukuh di Glondongan sedang kelompok kulonan di Rumah Pak Congkog kulon, sementara di Jembarang ketinggrengan. Rodad pentasnya di malam hari di tempat pengajian anak kanak, setalah dibacakan Barzanji. Biasanya dilakukan juga acara gambusan dan dzikir Syaman. Gambusan disini bukan jenis musik yg pakai Gambus, tetapi jenis tari tarian, yang setelah saya besar saya baru tahu bahwa ternyata gambusan ini sama dengan tari Jepen di kalimantan. Rodad juga sering di pakai untuk mengiringi acara sunatan(khitan). Kesenian kesenian tersebut juga sering pentas kalau ada orang punya hajad, baik mantu, khitanan/ Sepitan dan lain lain, bahkan salah satu iramanya ada yang diberi nama Sepitan, yakni yang biasa dipergunakan untuk mengiringi acara Sunatan.
Itulah sedikit keadaan desa Somalangu, sekitar tahun 50 an, sebagai awal dari tulisan tulisan saya entang Somalangu seri berikutnya Insya Allah.

Yogyakarta,18 Desember 2011

Pos ini dipublikasikan di Somalangu tanah kelahiranku. Tandai permalink.

18 Balasan ke Somalangu Di Masa Kecilku (1)

  1. Mengapa harus nahwu dan fiqih Nahwu dipercaya sebagai kunci untuk memahami berbagai jenis ilmu dari kitab kitab yang ada.

  2. agus ramadhan asli wong kradenan ambal ..sekarang tinggal di surabaya berkata:

    suwun banget atas tulisannya pak,..jadi lebih tahu tentang sejarah somalangu si era 50an,..kapan ya somalangu jadi mercusuar perkembangan islam di banyumas n kedu selatan…! taukah bapak bahwa Mbah Romo Pusat atau Syaikh Mahfud Abdurrahman menurut gus afifuddin masih sugeng n tinggal si syihr hadramaut sekarang,…

  3. Manshur Alkaf berkata:

    Pak Agus Ramadhan, maturnuwun atas perhatiannya. Tentang Romo Pusat, beliau adalah kakak sepupu saya tetapi waktu peristiwa geger tersebut saya, walau sudah lahir tetapi belum tahu apa apa (kira kira baru berusia dua tahun).. Kalau toh masih sugeng, kira2 sudah berapa umurnya ya, mungkin sudah seratus tahun lebih. Ada saksi mata yang berkata kepada saya yg mengaku meilhat proses gugurnya beliau tetapi saksi mata tersebut sekarang sudah meninggal. Mungkin kalau dikatakan beliau masih hidup berkaitan dengan salah satu ayat al quran yg terjemahannnya kira kira begini : “Jangan kau katakan matim orang yang terbunuh di jalan Allah, dst.”. Tetapi itu bukan dunia saya dan saya tidak dapat berkomentar lebih lanjut. Yang jelas Bu Nyai Mahfudz (Istri Romo Pusat)selama sugengnya setahu saya selalu ngekholi suaminya pada pertengahan bulan Besar

    • agus ramadhan bin abdul razak bin syamhudi bin abdul mu'id kradenan ambal kebumen berkata:

      ketika saya masih duduk di aliyah skitar tahun 96-97 sbelum lengsernya pak harto,..sya menghadiri haulnya mbah mahfudz abdurrahman di pon-pes al-kahfi somalangu di depan daleme gus afifuddin,..dan ketika ada perwakilan shohibul bait melakukan sambutan,..beliaunya menyinggung kenapa gus afif tak mau mengikuti acara haul pdahal perwakilan keluarga besar sudah sowan ke gus afif…ini membuat pikiran saya bingung,..tapi 15an tahun kemudian yaitu sekitar tahun 2009,..sya membaca di facebooknya putra gus afif yakni gus okan atau aslinya kalo gak salah gus faukhan bahwa gus afif pernah di dawuhi oleh mertuanya yaitu mbah mad watucongol untuk mencari kakeknya yang sekrang masih sugeng dan mendirikan pon-pes di tanah nenek moyangnya yaitu di syihr hadhramaut yaman..dan gus afif pun akhirnya bertemu dengan kakeknya yang ketika itu masih sehat walaupun umurnya sudah sangat sepuh,.. mungkin itulah alasan mengapa gus afif tak mau mengahauli mbah romo pusat mahfud.abdurrahman

  4. Badhe nderek blajar sejarah…..

  5. rusnadi berkata:

    punten saya ga tau banyak tentang sejarah kebumen tapi saya pengen tau lebih banyak dan saya sangat suka dengan sejarah apa lagi dari sumber yang merupakan pelaku sejarah itu sendiri, pastinya sangat akurat dan bisa dipercaya, jadi saya berharap dan menunggu kisah berikutnya, saya ucapakan banyak terima kasih pada bapak.

  6. agus ramadhan bin abdul razzaq kradenan ambal kebumen berkata:

    kahfi salam nggo mbah rub,lek man,lek uthi,lek nas..lek agus sehat2 bae..

  7. Aang berkata:

    Matur nuwun akan sejarahnya,saya adalah salah satu murid dari kiya ahmad fauzy/kasija,dusun poris desa:cibogo kec:padaheran kab:ciamis jawa barat,beliau adalah murid romo tefur,dan adik beliau menikah dngan putra mbok roro ngakidah yng bungsu.

  8. supri berkata:

    asslamualikum wr wb…ceritanya pikin saya penasaran saya tunggu kisah selanjutnya….Pak Manshur Alkaf…kebetulan kakek saya alm.. termasuk santri dari Somalangu….terimakasih..

  9. Abbie Love Umie berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb….. izin bertanya pak. pak di daerah saya Adipala – Cilacap, Tepatnya Gunung selok. Desa Karang Benda ada satu makam yang di percaya adalah makam Mbah Yekh Mahfudz Abdurrahman atau biasa di sebut Mbah Somalangu. Banyak peziarah dari berbagai daerah sering ziarah ke makam itu… bagaimana menurut bapak tentang makam itu ?

    • Manshur Alkaf berkata:

      Mas Abie, Alaikum salam, wr wb.
      Saya percaya bahwa itu betul makam beliau, tetapi waktu kejadian umur saya baru sekitar 2 th, dan keluarga saya tidak ikut sampai kesitu, Ada yg percaya bahwa yg dikubur disitu hanya pakaiannya saja, se olah olah jasad beliau. Waktu itu gus hanif (abahnya gus Afif) masih remaja. Peristiwa mengapa sampai disitu sebenarnya saksi hidup masih ada yaitu para putri KH Mahfudz Abdurahman

  10. hartadi berkata:

    Assalamu’alaikum wr.wb! nyuwun sewu. kalau boleh tahu sungai yg d sebelah timur desa semlangu sejak jaman dahulu namanya sudah sungai kedungbener. padahal setahu saya kedungbener hanyalah nama grumbul kecil di dekat rel kereta api dan masuknya desa wonosari

    • Masnhur Mu'thy berkata:

      Mas Hartadi, Betul Kedungbener juga nama Grumbul, Tetapi menurut Atlas nama sungai itu juga Kedungbener. Orang Semlangu ya biasanya menyebut sungai yg di timur desa ya hanya kali wetan saja. Demikian juga istilah Somalangu, dulu orang banyak bilangnya ya Semlangu bukan Somalangu.

  11. Maturnuwun nderek belajar sejarah lokal mumpung ada waktu saya adalah tetangga mas wahib kulone let 1 rumah di wonoyoso

  12. DIDIK PURWANTO, ST berkata:

    sewun pak de…aku putune almarhum mbah romdiyah, siki nang sumatra,tulung sampekna karo warga smlangu nek ana kesalahan alm. pak achsin wis seda setahun sing kepungkur nek ana salah njaluk pangapurane abeh atas namane klg besar ku ya pakde, mungkin nganggo komunikasi kie sing ndeleng tulisanku, sedurunge njaluk pangapurane kabeh, terkadang aku kangen kelairanku arep niliki nang smlangu tapi waktu sing nggawe urung bisa nemukna, salam sembah sungkem karo sedulur kabeh nek ana kesalahan sepisan maning pangapurane, nomer hpku. 085374733245 ( DIDIK PURWANTI, ST) ..(sipur undangane) tulung sampekna salam karo mbah parman sklg lutfi sklg, pakde sekang sumatera. deweke kerep main nag umahku,

  13. Manshur Alkaf berkata:

    Mas Widodo, kulone persis kan alm Pak Muhlan, terus titipan sepeda? atau keluarga alm Pak Daldiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s