Sedikit Tentang Hisab Urfi

Sedikit Tentang Hisab Urfi

Masalah rutin, menjelang awal Ramadon/Syawwal  selalu timbul perbedaan pendapat kapan puasa harus dimulai kapan pula diakhiri dan berhari raya. Perbedaan pendapat antara pengikut aliran rukyat dan hisab hakiki, sudah sangat di maklumi , yang masalah pokoknya adalah berbagai interpetasi tentang hadist sumu lirukyatih,walau makna hadist itu sendiri sudah sangat sharih/jelas.

Tulisan ini sengaja saya buat agak jauh dari bulan Ramadhan/Syawwal dengan maksud agar tidak terjebak dari hiruk pikuknya suasana “agak” controversial pada saat itu karena saya tidak ingin membicarakan tentang hal hal tersebut, tetapi pada kesempatan ini saya ingin membahas dan sedikit mengkritisi aliran yang konon berkembang di Sulawesi, yang menandai bulan baru dengan gelombang air pasang di laut,dan beberapa aliran hisab urfi yang saya kenal.

Air Pasang dan bulan baru.

Memang  ada kaitan  antara air pasang dengan bulan baru, secara riil kami lihat pada saat saya bertugas di Tanah Grogot Kalimantan Timur, dimana Sungai Kandilo yang melintasi kota tersebut, airnya  pasang surut karena pengaruh dari pasang surutnya laut, dan air pasang sangat maksimal, ketika bulan mati  dan ketika bulan purnama. Demikian pula keadaannya yang saya alami ketika saya sedang berada di Banjarmasin dan Samarinda. Dalam kitab Badai’udzuhur yang berisi aneka keajaiban di dunia dimasa lalu, terdapat judul yang membahas tentang keajaiban sungai Nil. Antara lain disebutkan, bahwa karakter sungai Nil, adalah air pasang sangat tinggi tiap bulan mati dan bulan purnama. Sebenarnya itu bukan karakter sungai nil saja, tetapi juga sungai besar di dekat laut dan laut itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh gaya grafitasi bulan dan matahari yang karena posisi masing masing pada saat itu berpengaruh sangat kuat terhadap air yang dibumi merupakan bagian bumi yang paling mudah terpengaruh oleh tarikan grafitasi  matahari dan bulan yang sedang bergabung.

Para pelaut, dan mereka yang berada di pantai sangat memperhatikan kaitan antara kalender qomariah, dengan pasang surutnya air, yg berarti dangkal dalamnya suatu lintasan perjalanan pelayaran mereka. Saya pernah melihat jadwal kedalaman air di beberapa pantai dan muara sungai di Kalimantan timur tiap jamnya pada tanggal tanggal tertentu. Saya melihatnya ketika mengikuti suatu pelayaran dari Kabupaten Pasir (sekarang Paser) menuju Tanjungredep Kabupaten Berau, bersama rombongan kafilah MTQ sekitar tahun 1980.

Dari akrabnya mereka dengan hal hal tersebut, maka logika mereka menjadi terbalik. Mereka menandai munculnya bulan baru berdasar keadaan pasangnya air laut yang maksimal.Pada saat air pasang maksimal, itulah bulan mati dan esok hari tanggal satu.

Padahal walau kaitannya memang ada tapi tidak bisa sampai detail, karena tidak bisa diketahui secara tepat posisi matahari dan bulan, apa lagi jam dan menit saat ijtima terjadi, hanya semata dengan pengamatan inderawi terhadap besar kecilnya air pasang.Ilmu titen (pemahaman berdasarkan kebiasaan) seperti ini hanya tepat untuk kepentingan pelayaran local saja.

Tentang hisab Urfi, saya mengenal setidak tidaknya ada tiga macam.

Aboge

Hisab urfi dengan system Aboge, dirumuskan di zaman Sultan Agung, dimana penanggalan dikelompokkan dalam satu siklus delapan tahunan (windu), masing masing tahun diberi nama dengan huruf hijaiyah , yaitu tahun pertama alif, tahun kedua ha, tahun ketiga Jim Awwal tahun ke empat zay, tahun ke lima  dal, tahun ke enam ba, tahun ke tujuh wawu dan tahun ke delapan jim akhir, lalu kembali ke tahun alif sebagai tahun pertama untuk windu (siklus) berikutnya . Setiap satu windu yang terdiri atas delapan tahun itu, terdiri atas 3 tahun kabisat(panjang) dengan umur 355 hari yaitu tahun tahun Ha Dal dan Jim akhir,dan 5 tahun basitah (pendek) dengan umur 354 hari ,yaitu tahun tahun Alif, Jim awal, Zay,Ba  dan Wawu .  Dengan demikian dalam satu windu terdiri atas 2835 hari yang terdiri atas 5 X 354 =   1770 hari ditambah 3 X 355 = 1065 hari.

Nama nama bulan yang dua belas, diberi nama yang lebih akrab dengan lidah jawa, Yaitu 1.Suro untuk Muharom,2. Sapar untuk Shafar, 3. Mulud untu Rabi’ul awwal, 4. Bakdo Mulud untuk Rabi’ul Akhir, 5. Jumadilawal untuk Jumadil Ula,6. Jumadilakir untuk Jumaditsaaniyah, 7. Rejeb untuk Rajab,8. Ruwah untuk Sya’ban, 9. Pasa untuk Ramadhan,10 Sela untuk Syawwal, 11.  Apit atau Dulkaidah  untuk Dzul Qa’dah, dan 12. Besar untuk Dzul hijjah.

Untuk tahun tahun ganjil berumur 30 hari sedang tahun genap berumur 29. Khusus untuk tahun Kabisah, Bulan Dzul hijah/Besar berusia 30.

Dalam tradisi Jawa di samping di kenal nama hari yang tujuh yaitu Ahad, Senin, Selasa, Rabu , Kamis, Jumat dan Sabtu, juga dikenal nama rangkapan atau pasaran yang lima yaitu Legi , Pahing , Pon, Wage  dan Kliwon. Dari gabungan nama hari dan Pasaran tersebut, maka ada siklus yang diberi nama selapan dina, yang terdiri atas 35 hari (7 nama hari X 5 nama pasaran) dimana setelah 35 hari nama hari dan pasaran kembali nama yang sama, misalnya kalau hari pertama Adalah Rabu Wage (gabungan antara hari Rabu, dan rangkapan/pasarannya Wage) maka 35 hari berikutnya akan muncul nama Rabu Wage  lagi.

Telah disebut terdahulu, bahwa satu windu terdiri atas 2835 hari. Angka 2835 hari tersebut kalau dibagi  dengan 35 akan habis , sehingga kalau tanggal satu Suro pada awal windu adalah hari Rabu Wage misalnya, maka   pada windu berikutnya akan jatuh pada hari Rabu wage juga.

Dengan demikian maka untuk masing   masing awal tahun sesuai namanya, maka tanggal satu Suronya  akan tetap, sedang tanggal satu untuk bulan bulan lain ada rumus tetap yang mengacu pada tanggal satu Suronya..Nama hari, pasaran untuk tiap awal tahun dan awal bulan dirumuskan dalam susunan kalimat pendek, sebagaimana telah disebutkan dalam tulisan saya terdahulu

Karena berdasar penelitian rumus itu kurang teliti, maka perlu dilakukan koreksi setiap 120 tahun ada kelebihan satu hari, sehinggat tahun ke seratus dua puluh ( atau tahun pada windu ke 15 , tahun Jimakir yang seharusnya kabisat menjadi basitah, dan rumus tahunnya menjadi maju satu hari. Pada awalnya dizaman Sulitan Agung, kalender di mulai tanggal satu bulan Sura tahun Alif jatuh pada hari Jumat legi. 120 tahun kemudian berubah menjadi Kamis Kliwon, 120 tahun berikutnya berturut turut menjadi Rabu Wage (disingkat Aboge), Selasa Pahing (disingkat Asapon) dan seterusnya.  Entah kenapa yang populer di masyarakat justru  Aboge itu, padahal saat ini seharusnya yang berlaku adalah rumus Asapon (alif Selasan Pon) yaitu sejak tahun 1989 (tahun 1867 tahun Jawa)

Sebagai hisab urufi, system ini cukup mudah, apalagi rumusnya disusun dalam beberapa bait syair yang enak didendangkan , Yaitu :

Untuk rumus awal tahun yg delapan, berbunyi sbb. Aboge, Hahadpona, Jangahpon, Zasahinga, Daltugi Bamisgia, Wanenwon Jangahgeya.

Untuk awal bulan sebagai berikut, Rom jiji, Par luji, Nguwal patma, Ngukhir nema, Diwal tupat , Dikhir ropat , Jab lulu, Ban malu , Don nemro, Wal jiro Dah roji, Jah patji

Kalau untuk keperluan ibadah, hisab system ini, yang dapat dipastikan kekeliruannya adalah, bulan Ramadhan selalu berusia 30 hari .

System lain yang saya kenal adalah system yang diperkenalkan oleh H Ismail Noer dalam bukunya Perhitungan Penanggalan Islam yg diterbitkan oleh Wihdah press tahun 2007 M.

Buku ini pada dasarnya hampir sama dengan Penanggalan Aboge, yaitu setiap satu siklus yg terdiri 8 tahun masing masing punya nama (lambang huruf0 yg sekaligus sebagai penanda hitungan hari awal tahun. Adapun nama nama tahun tersebut adalah disesuaikan dengan kode kode huruf, yaitu  wawu (6), dal (4),alif (1),ha (5),jim (3),zay (7), dal (4) dan ba (2)..bila pembacaannya dimulai dari alif, urutannya jadi hamper sama dengan urutan aboge, bedanya dalam aboge sebelum tahun alif adalah tahun jim akir, maka disini sebelum alif adalah tahun dal. Jadi ada dua tahun dal, yaitu dal sebelum alif dan dal sebelum ba. Untuk tiap siklusnya, tahun pertama berumur 355 hari (Kabisat),tahun kedua 354 hari (Basitah) ,tahun ketiga 354 hari (Basitah), kt ke empat 355 hari (Kabisat) ,tahun ke lima 354 hari (Basitah) , tahun ke enam  354 hari (Basitah), tahun ke tujuh 355 hari (Kabisat) , tahun ke delapan 354 hari (Basitah). Jadi dalam delapan tahun ada  3 tahun kabisat, dan 5 tahun basitah .

Untuk bulan yang dua belas juga masing masing punya lambang bilangan yaitu   bulan Muharram. 7, Shafar 2, Rabiul awal 4, Rabiutsani 5,Jumadil ula 6, Jumaditsaniyah 1 , Rajab2, Sya’ban 4, Ramadhan 5, Syawal 7, Dzul Qa’dah 1dan Dzulhijjah 3..

Caranya, tahun yang akan dicari tgl satunya, dibagi delapan sisanya ditandai, Misalnya tahun 1432 dibagi 8 mendapat 179 tidk berissa atau mendapat 178 dengan sisa delapan. Dalam lambang  angka tahun ke delapan adalah ba atau dua, kalau akan mencari awal Syawal maka lambang bulan sebelum syawal adalah 5. , jadi jumlahnya dua ditambah 5 sama dengan tujuh dihitung dari Rabu hasilnya adalah Selasa.

Hitungan ini pada prinsipnya hamper sama dengan aboge , hanya beda dalam dua hal.

  1. Dalam Aboge tahun bulan ganjil berusia 30 hari, bulan tahun genap  29 hari, sementara sistim ini sebaliknya. Tahun ganjil . berusia 29 hari, bulan tahun genap  30 hari .
  2. untuk tahun kabisat, di penanggalan aboge, yg ditambah adalah usia bulan dzulhijjah dari 29 menjadi 30 hari, sedang di system ini yg ditambah adalah umur bulan Muharram dari 29 hari menjadi 30 hari

Akibat dari ini semua, maka perbedaan yg pasti dan prinsip adalah, Aboge bulan Ramadhan selalu berumur  30 hari, dan sistim ini, bulan Ramadhan selalu berumur 29 hari. Sehingga keduanya akan selalu bertentangan dengan hadits yg mengatakan bahwa  bulan itu bisa 29 hari bisa pula 30, hari yg berarti bulan  Ramadhanpun bisa 29 hari maupun 30 hari. Prinsip Bulan Ramadhan bisa 29 hari atau 30 hari, diakui kebenarannya oleh ahli rukyat maupun ahli hisab yang mengikuti aliran wujudul hilal, aliran imkanurrukyah yg mengacu pada teori vibilitas maupun lain lainnya.

Hisab sistim Aboge, agak lebih teliti, karena mengakui keterbatasannya, dengan dibuatnya koreksi tiap 120 tahun, sehingga sejak dipergunakannya sistim ini sudah mengalami koreksi/ refisi 3 kali. Adapun  system yang diperkenalkan oleh H Ismail Noer yg di aku sebagai terjadi sejaki zaman Rasulullah dan selalu bersesuaian dengan puasa di Makkah, tidak pernah ada koreksi sampai akhir zaman istilah beliau “sampai lenyap langit dan bumi” (buku beliau halaman 53), padahal jumlah harinya setiap satu windu sama dengan Aboge, oleh karena itu dipastikan satu saat perlu koreksi. Dan penulis pernah mendapatinya berbeda dengan puasa dan di Makkah. Saya lupa tetapi itu terjadi ketika saya bekerja di Banten, yaitu antara tahun 2006 hingga 2009.

Hisab urfi yg paling modern adalah yang kami peroleh ketika mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Bapak Drs Absd Rahim, baik semasa masih kuliah di IAIN dulu, maupun dalam berbagai pelatihan yang beliau bertindak sebagai Nara sumber. Hisab ini saya gak tahu namanya, tetapi pada dasarnya tiap  30 tahun (satu siklus/daur) terdiri atas 19 tahun pendek (berumur 354 hari) dan sebelas tahun panjang/Kabisat ( berumur 355 hari) . Tahun tahun panjang tersebar pada tahun tahun ke 2,5,7,10,13,16,18,21,24,26 dan 29 pada masing masing siklus/daur. Tahun tahun lainnya adalah tahun pendek. Pada bulan bulan ganjil usian 30 hari, sedang pada bulan bulan genap usianya 29 hari, kecuali pada tahun kabisat/panjang, bulan dzulhijjah, walau bulan genap usianya 30 hari. Kelemahan sistim ini, sebagaimana hisab urfi terdahulu, usia bulan Ramadhannya selalu tetap, yaitu 30 hari.

Dibawah ini saya kemukakan beberapa contoh  yang menyebutkan bahwa berdasarkan  hisab tahkiki berbagai aliran pernah menetapkan bulan Ramadhan berusia 29 hari ataupun 30 hari.Data Hisab saya ambil dari HumpunanMusyawarah Penyelarasanrukyat dan taqwim Islam Negara ”MABIMS” ke 1 s/d 10

  1. Tahun 2000, tinggi hilal akhir Sya’ban pada tanggal 26 Nopember 2000 adalah antara 3,5 sampai 6 derajat, sehingga Aliran Wujudul hilal maupun aliran imkanurrukyah yg mengacu pada teori visibilitas sepakat tanggal 1 Romadhan 1421 adalah tanggal 27 Nopember 2000 hari Senin. Tinggi hilal akhir Ramadhan pada tanggal 26 Desember 2000 adalah antara 6 sampai 8 derajat, sehingga baik aliran Wujudul hilal maupun aliran imkanurrukyah yg mengacu pada teori visibilitas sepakat tanggal 1 Syawwal 1421 adalah tanggal 27 Nopember 2000 hari Rabu., dan saat itu kebetulan puasa sudah genap 30 hari.
  1. Tahun 2003, tinggi hilal akhir Sya’ban pada tanggal 25 Oktober 2003 masih dibawah ufuk antara -1,5 sampai -3.5 derajat, sehingga Aliran Wujudul hilal maupun aliran imkanurrukyah yg mengacu pada teori visibilitas sepakat tanggal 1 Romadhan 1424 adalah tanggal 27 Nopember 2000 hari Senin. Tinggi hilal akhir Ramadhan pada tanggal 24 Nopember 2003 adalah antara 4 sampai 6 derajat, sehingga baik aliran Wujudul hilal maupun aliran imkanurrukyah yg mengacu pada teori visibilitas sepakat tanggal 1 Syawwal 1424 adalah tanggal 25 Nopember 2003 hari Selasa, berarti tahun ini aliran2 tersebut sepakat  puasa 29 hari.
  1. Tahun 2011, tinggi hilal akhir Sya’ban pada tanggal 31 Juli 2011 adalah antara 5,5 sampai 7.5 derajat, sehingga baik aliran Wujudul hilal maupun aliran imkanurrukyah yg mengacu pada teori visibilitas sepakat tanggal 1 Romadhan 1432 adalah tanggal 1 Agustus 2011 hari Senin. Tinggi hilal akhir Ramadhan pada tanggal 29 Agustus 2011 adalah antara 0 sampai 2 derajat, sehingga aliran Wujudul hilal berpendapat karena hilal sudah wujud maka tgl 1 Syawwal jatuh pada tanggal 30 Agustus 2011 hari Selasa sehingga usia puasa hanya 29 hari, sedangkan aliran imkanurrukyah yg mengacu pada teori visibilitas berpendapat bahwa meskipun hilal sudah wujud tetapi karena belum mencapai diatas 2 derajat sehingga belum imkanurrukyah, maka tanggal 1 Syawwal 1432 jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011 hari Rabu., dan sehingga umur  puasa sudah genap 30 hari.

Aliran rukyat tidak perlu dibuatkan contoh, karena pada dasarnya aliran inilah yang paling berpeluang untuk berbulan Ramadhan 30 hari ataupun 29 hari sesuai keadaan di lokasi saat dilakukan rukyah.

Dengan membuat tabulasi selama beberapa tahun tentang puasa Ramadhan yang berusia 30 hari  berdasar aliran imkanurrukyah misalnya, mukinkah disusun hisab urfi, yang tambahan hari pada tahun kabisatnya ada pada bulan Ramadhan yang umur rata ratanya adalah 29 hari? Rasa rasanya sangat kecil kemungkinannya, karena akan segera membuka beda pendapat baru, yaitu pertanyaan, kenapa yang dipakai acuan adalah aliran ini bukan aliran lain.

Wallahu a’lam.

Yogyakarta, 2 Desember 2011

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

9 Balasan ke Sedikit Tentang Hisab Urfi

  1. zuhair zahid berkata:

    Pak Yai, saya pengen tanya tentang waktu dzuhur…
    kebetulan saya tinggal di masjid (tukang adzan)
    kalender di sini rata2 menunjukkan waktu 11.30 sebagai waktu dzuhur, sehingga masjid2 tetangga banyak yang adzan pada waktu tersebut.
    sementara menurut pengamatan saya, bayangan bergerak ke timur (yg berarti matahari mulai condong ke barat) dimulai ketika jam 11.45 …
    bagaimana saya menyikapi hal ini pak yai?

    • Pak Zuhair Zahid, terima kasih, anda mau berkunjung.
      Apa iya begitu? Saya lihat jadwal abadi di tempat saya (dongkelan Yogya), waktu dhuhur turun naik bagai grafik sebagai berikut, angka tertinggi pada bulan Pebruari dari tgl 5 s/d tgl 18, waktu dzuhur pukul 11 58 WIB, terus menurun sampai bulan Mei terendah dari tgl 3 s/d 25 Mei awal dzuhur pukul 11 37 WIB, terus naik lagi sampai akhir Juli. Tgl 16 juli s/d 5 Agustus waktu dhuhur pukul 11 47 WIB, turun lagi sampai bulan Oktober. Awal dhuhur tgl 27 Oktober hingga 11 Nopember pukul 11 24 WIB, terus naik lagi sampai bula Pebrauri.

  2. hassan shukri berkata:

    pak boleh tak tunjukkan satu sontoh pengiraan ijtimak dan hilal dengan menggunakan kaedah sulamun.juga kalau tidak keberatan kirimkan kitab arab dan tarjamahnnya sekali.saya pun masih mencari makna-makna yang digunakan dalm kitab sulamun dan dipadankan dengan astronomi moden

  3. Manshur Alkaf berkata:

    Maaf pak Hasan shukri, mungkin saya salah dalam memahami maksud komentar Bapak, Kalaau bapak maksudnya ingin menunjukkan satu contoh kepada saya, saya sangat berterima kasih. kalau kitab Sulam dengan terjemahannya saya tidak punya, kalau teks Berbahasa Arab saya ada , juga petnjuk penggunaannya dalam bahasa Jawa pegon saya juga ada, silahkan kalau mau fotocopi, tetapi kalau softwer saya tidak punya

    • hassan berkata:

      maf pak ,kalau ada dalam bahasa indonesia sila titipkan pada saya contoh pengiraanya.lagipun saya belum faham dengan istilah spt hissoh.khossah dan sebagainya dan kalau boleh minta bapak jelaskan dan juga apa maksud dalam astronomi moden.terikasih banyak pak

  4. akhmadjafar berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb
    Om….. .
    Gimana cara menentukan puasa/lebaran…sebaiknya dengan ru’yah/hisab atau ikut ikutan saja….atau sekarang ini ada rumus modern yang lebih jos….Waallahua’lam.itu kalau banyak pendapat pilih yang mana……???? yang enak../.yang diyakini……saya takutnya dengan kata kata waallahua’lam…yang niatnya benar tapi jadinya kok mirip sekuler.,sedangkan para ilmuwan kan harus berani mempertanggungjawabkan pendapatnya..terus sebagai orang awam yang kepengin selamat caranya gimana ya…..

    • Manshur Alkaf berkata:

      Untuk ananda Ahmad Jafar.Alaikum salam
      Nek kepengin terkenal, ngarang dewek, mbuh bener mbuh ora.
      Nek kepengin slamet ikuti sesuai dengan keyakinan yg berdasar dalil dalil sya’i

  5. H Bakri Syam berkata:

    Assalamu’alaikum wr wb salam kenal pak Manshur, saya H Bakri Syam dari pakanbaru riau, setelah saya simak paparan di atas tampaknya perhitungan urfi ada persamaan dengan perhitungan rasullulah saw, tetapi ada perbedannya yg saya ketahui diantaranya : 1) tahun 1 bukan huruf Alif tetapi huruf Ha. 2) uruf tahu yg ke 7 bukan jin 3 tetapi urufnya Dal 4 . yg mau saya tanyakan ,apa dasar perhitungan / landasannya kok dapat ketetapan seperti itu, dari saya seperti ini :
    ” Telah berkata Rasulullah SAW:
    “Aku lihat dimalam Israk denganku akan sej umlah kalimat di tiang Arasy sebagai berikut : “Allahul Hadi” satu kali, “Hudallah” lima kali, “Jamalul Fi’li” tiga kali, “Zara’allahu Zar’an bilabazrin” tujuh kali, “Dinullah” empat kali, “ Badi ussamawati walArdhi” dua kali, “Wailun liman asha” enam kali
    , “Dinullah” empat kali, “Zara’allahu Zar’an bilabazrin” tujuh kali,“Ba’di’ussamawati” dua kali, “Jamalul fi’li” tiga kali, “Hudallah” lima kali, “Wailun Liman asha” enam kali, “allahul hadi” satu
    kali,“Ba’di’ussamawati” dua kali ,“Dinullah” empat kali,“Hudallah” lima kali, Zara’allahu Zar’an bilabazrin” tujuh kali,“Allahul Hadi” satu kali “Jamalul Fi’li”tiga kali.”
    Berkata Rasulullah SAW:
    “Ambil olehmu awal kalimat yang delapan pertama menjadi huruf Tahun dan awal kalimat yang sebanyak dua belas kedua menjadi huruf Bulan, maka himpunlah huruf tahun dengan huruf bulan, artinya jumlahkanlah, maka mulailah membilang dari hari Rabu atau Kamis , dan dihari mana sampai bilangan, maka hari itu adalah awal bulan itu
    ”, dan Rasulullah SAW berkata:

    “Takwim adalah jalanku, selain puasa Ramadhan”.

  6. muflih berkata:

    apa perbedaan hisab urfi dan hisab hakiki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s