Dari Theodolit, Hingga Gelang Karet (Serba Serbi Arah Kiblat)

Membaca berita tentang ditemukannya metode baru tentang pengukuran arah kiblat oleh Bpk Drs A Hambali, dan mendengar berita tesis yang sedang dipersiapkan oleh ahli falak muda Akhmad Syaikhu tentang koreksi dengan faktor ellipsoid terhadap rumus arah kiblat, saya menjadi ingin menuangkan memori/”kliping” saya tentang beberapa hal yang berkaitan dengan masalah arah kiblat .

Masalah arah kiblat pada dasarnya meliputi dua hal, mengenai bagaimana memperhitungkan arah kiblat dari satu tempat, dan bagaimana menentukan arah kiblat hasil perhitungan itu diterapkan menjadi garis arah kiblat ataupun garis shaf pada sebuah masjid/mushalla. Keduanya mengalami perkembangannya masing masing.

Saya pernah menulis di blog ini, bahwa Syeih Nawawi (Tanara) Banten, punya cara tersendiri, yaitu dengan memanfaatkan coin sebagai pengganti satuan derajat, yang sebenarnya lebih mudah menggunakan satuan  meter (bisa senti atau desimeter). Secara sederhana cara itu menyebutkan, coin sebanyak selisih bujur antara Makkah dan kota yang akan dicari arah kiblatnya (untuk Banten ada 66 derajat),ditata berderet membujur kearah timur. Diujung barat ditata coin ya sama besar keutara sebanyak lintang makkah 21).Diujung timur ditata keselatan sebanyak lintang tempat (untuk Banten 6). Dari ujung coin yang satu ke ujung lainnya ditarik garis lurus, itulah arah kiblat. Untuk waktu itu mungkin bisa dianggap memadai, tetapi untuk saat ini tidak akurat lagi, karena data yang dimasukkan sangat global, dan bumi masih dianggap terhampar seperti tikar.

Menghitung arah kiblat dengan rubu’ (mujayyab), sebenarnya sangat memadai. Perlu kita ketahui bersama, rubu’ dalam kasus  arah kiblat sebenarnya punya dua fungsi.

Fungsi pertama untuk mencari fungsi fungsi goneometris, dalam perhitungan yang sudah menggunakan segitiga bola.Fungsi sinus dan cosinus dapat dicari dari Rubu’ mujayyab ini .Karena fungsi tangens tidak ada maka perhitungan dengan rubu’ sering jadi panjang, yaitu untuk mencari tangens di gunakan sinus dibagi cosinus.( Sebenarnya fungi zhil dan tamamuzhil untuk satu kepentingan bisa mewakili fungsi tangens, tapi kadang kadang kurang praktis.

Fungsi kedua adalah sebagai pengukur besaran sudut, karena rubu’ sendiri adalah merupakan sudut siku2 (90 derajat, atau seperempat lingkaran. Menentukan sudut arah kiblat dengan rubu’ sesudah diketahui besarannya, harus dibantu lagi dengan Kompas, yang kadang kadang ada yang memanfaatkan silet yang menggunakan magnit sebagai penentu utara. Disini akurasinya agak terganggu oleh silet dan juga kompas, yang tidak tepat menunjuk kutub bumi, tetapi kutub magnit bumi, dan juga oleh ketelitian dan ke cermatan pengguna rubu’ ketika menggerakkan tsaqul, khoit dan muri.

Ada satu skripsi yg dibuat oleh Fuad Ngatoil, Mahasiswa Jurusan Syariah STAIN Purwokerto, yang membuat alat pengukur arah kiblat, dengan sebuah papan peraga dengan dibuat garis garis melintang dan membujur sejajar dan tegak lurus satu sama lain , dilengkapi dengan dua buah kompas, dan tali penentu sudut.

Cara pengoperasian alat ini, adalah setelah diketahui besar sudut arah kiblat dari utara ke barat lalu ditentukan besarnya sudut dari barat keutara. Kemudian dgn bantuan kompas papan peraga tersebut dibentangkan ,sedemikian rupa sehingga garis garis didalamnya membujur utara selatan, dan garis lainnya membujur arah barat timur. Garis yg membujur timur barat sudah ditentukan panjangnya 100 cm. Lalu di ujung sebelah barat dibuat garis tegal lurus ke utara yg panjangnya ditentukan dengan rumus  panjang garis = tg sudut arah kiblat kali 100 cm. Dari ujung ini dibuat garis atau dibentangkan tali ke arah pangkal garis disebelah timur. Itulah garis arah kiblat.

Sistem ini lebih maju dari cara rubu terdahulu. Tetapi keduanya masih bergantung pada kompas yang  masih perlu koreksi.

Saya pernah melihat para pakar mengukur arah kiblat. Pada dasarnya cara mengukurnya hampir sama dengan yang diatas, hanya arah kompas di koreksi terlebih dulu dengan theodolit. Disini theodolit dipergunakan untuk menentukan utara sejati atau true north, lalu diukur arah kiblat seperti cara tersebut diatas. Mengukur arah kiblat dengan menggunakan theodolit semata mata juga bisa, yaitu setelah diketahui utara sejati , theodolit digeser kearah kiblat sebesar sudut arah kiblat itu sendiri. Menurut mereka waktu menghitung arah kiblat sebelum pengukuran telah memasukkan koreksi ellipsoed, yakni adanya kenyataan bahwa bumi tidak betul betul bulat seperti bola, tapi agak lonjong seperti  karena di kutub2 utara dan selatan bumi agak pepat.

Methode Bpk Slamet Hambali lebih maju lagi, karena setelah dilakukan penentuan azimuth matahari pada jam tertentu (dengan diukur bayang2nya), kemudian langsung dibuat garis arah kiblat dengan menggunakan  segitiga siku siku dengan rumus tangens (itu tebakan saya). Jadi lebih praktis tidak muter muter.

Yang agak unik, adalah pengalaman pribadi saya, ketika saya bercakap cakap dengan paman saya Drs HA Riyanto  di Jakarta. Baliau cerita punya kenalan yang ketika di Los Angeles berbeda pendapat dengan temannya Muslim Amerika tentang arah Kiblat, dan karena tidak ada titik temu, mereka shalat dengan keyakinannya masing masing. Saya kemudian teringat pelajaran dari Pak Rohim, lalu saya katakan solusinya mudah Pak Lik, cukup dengan globe dan gelang karet yg sudah putus( atau di putus). Setelah percakapan bergeser kesana kemari, Pak Lik ke belakang sebentar, lalu datang dengan membawa globe dan gelang karet. Saya terkejut juga, karena saya pikir beliau tidak memperhatikan apa yang saya katakan tadi. Gloobe saya letakkan di meja, gelang karet yg sudah diputus, saya tarik dan bentangkan, satu ujung saya letakkan di Kota Makkah dalam Gloobe, dan ujung lain saya letakkan di Los Angeles. Karet saya gerak gerakkan dan setelah lurus di permukaan globe, itulah arah kiblat dari  kota Los Angeles. Ternyata menurut Paman saya tadi, yang betul adalah pendapat si Muslim Amerika. Iseng iseng, kalau gelang karet kita bentangkan ke Makkah dari Hongkong yang lintang tempatnya relatif sama, maka hasil bentangannya tidak lurus ke barat, tetapi miring ke utara. Ini sesuai pula dengan hasil hitungan dan ukur segitiga bola. Wallahu a’lam

Yogyakarta, 6 Juli 2011.

 HR Manshur Mu’thy A Kafy.

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

2 Balasan ke Dari Theodolit, Hingga Gelang Karet (Serba Serbi Arah Kiblat)

  1. Joe Pai berkata:

    ini juga menarik bagi saya pak,
    yang ingin saya mintakan pendapat ato tanggapan dari bapak, adalah bagaimana arah qiblat yang diukur dengan trigonometri segitia datar, yaitu dengan tg Qiblat = selisih lintang/selisih bujur.
    hampir saja saya berdebat namun ketika saya tahu bahwa metode perhitungannya berbeda, beliau mungkin berpandangan bahwa bumi sebagai bidang datar, sementara lebih mempercayai sebagai semacam bola raksasa, sehingga rumusnya juga juga segitiga bola, maka say pikir tidak akan ketemu, kemudian saya diam.
    ini saya copaskan peristiwa tersebut :

    كميل الحسني
    apakah yang di cari pada pengukurann arah kiblat
    sekitar 4 bulan yang lalu · Laporkan
    Zakian Ihsan
    Untuk yang posisinya di Indonesia, yang di cari adalah sudut yang dibentuk antara garis equator dengan garis ke arah Ka’bah
    sekitar 4 bulan yang lalu · Laporkan
    Joe Pai
    masak equator, bukan lah tetapi titik barat mas
    Sabtu lalu · Hapus Kiriman
    Joe Pai
    saya dah buat file dalam ms excel semacam tutorial yang bisa menjelaskan ini. jika berminat bisa inboks saya dilengkapi alamat email, insya Alloh saya kirim lewat email
    Sabtu lalu · Hapus Kiriman
    Zakian Ihsan
    Perhatikan teori trigonometri bola, yang telah kami buat di
    http://www.youtube.com/myzakian#p/u/4/UZnDgQqCMsg
    posisi ka’bah dan posisi lokasi kita ada di lapisan bola terluar, jadi arah kiblat ditentukan dari permukaan bola yang sejajar equator menyudut ke arah kiblat (belum tentu dari titik barat) dan tergantung posisi kita apakah ada di sebelah barat ka’bah atau di sebelah timur ka’bah. nanti perumusannya akan berbeda untuk dari arah barat atau arah timur, atau di atas equator atau di bawah equator, nanti tergantung penurunan rumus yang didapat.
    Sabtu lalu · Laporkan
    Joe Pai
    ya betul tidak mesti dari titik barat, komentar saya di atas konteksnya mengomentari posisi indonesia yang berada di sebelah timur ka’bah.
    lazimnya arah qiblat dihitung dari titik barat atau timur tergantung posisinya di sebelaha barat atau timur makkah kemudian serong ke utara atau ke selatan juga tergantung posisi lokasai dalam bola bumi.
    titik barat atau timur suatu tempat berimpit dengan lingkaran besar yang berpotongan siku-siku dengan garis meridian lokasi tersebut, jika lokasi tersebut pada lontang 0 (ekuator) maka lingkaran tersebut juga berimpit dengan ekuator,
    namun jika lokasi tersebut lebih ke utara atau ke seletan maka lingkaran besar tersebut tidak berimpit lagi dengan ekuator, juga tidak sejajar dengan ekuator juga bukan merupakan lingkaran pararel ekuator.
    sekali lagi lingkaran ini berpotongan dengan dengan meridian atau garis bujur dengan membentuk sudut siku-siku .
    sudut arah qiblat dibentuk oleh lingkaran tersebut dan lingkaran besar yang melewati lokasi tersebut dan kota makkah sekaligus merupakan lingkaran untuk mengukur jarak kota.
    jadi arah qiblat dihitung bukan sudut yang terbentuk dari garis ekuator dengan dengan garis arah qiblat tetapi dari lingkaran di mana titik barat/ timur berimpit dan lingkaran ini tidak selalu berimpit dengan ekuator dan tidak selalu sejajar dengan ekuator. karena bumi sebagi bola bukan datar
    Sabtu lalu · Hapus Kiriman
    Zakian Ihsan
    memang tidak di ukur dari garis equator, tapi sejajar garis equator di sebelah utara atau di sebelah selatan.
    pada hari Minggu · Laporkan
    link percakapan tersebut : http://www.facebook.com/topic.php?uid=72416526433&topic=15339

    • Manshur Alkaf berkata:

      Mas Pei diskusinya mengasyikkan juga, walau saya banyak nggak mudeng dgn istilah lingkaran besar yg paralel dgn ekuator dlsb.
      Kalau menurut saya pencarian azimuth arah kiblat ,menghitungnya yg tepat ya dengan trigonometri segitiga bola, yg perkembangannya perlu dikoreksi dgn rumus elipsoid atau apalagi sesuai perkembangan, tetapi tindakan berikutnya yaitu membuat sudut azimut arah kiblat didalam masjid (misalnya) bisa dgn menggunakan rumus bidang datar, dgn acuan utamanya adalah titik utara (sejati).Kalau mau mengacu kepada titik barat harus barat dalam arti jarak azimut 270 derajat dari utara searah jarum jam. Ini sekedar la’llash showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s