Menebak Penemuan Drs Slamet A Hambali Tentang Pengukuran Arah Kiblat.

Disebutkan dalam Koran Suara Merdeka tanggal 11 Juni 2011 bahwa Bapak Drs Slamet Hambali, Dosen Ilmu Falak di IAIN Walisanga Semarang telah menemukan metode praktis dan mudah dalam meluruskan arah kiblat, yaitu hanya dengan bayang bayang matahari dari penggaris siku siku. Akurasi dari metode ini sangat dipengaruhi oleh akurasi arloji yg dipergunakan, lurus dan tegak lurusnya tongkat yang ditancapkan ke bidang datar yang akan dijadikan acuan untuk meluruskan arah kiblat tersebut. Metode itu akan diberi nama Metode “Slamet Hmbali”. Penemuan itu mungkin akan dapat sedikit memberikan pencerahan yang dapat meredakan hiruk pikuknya diskusi akibat fatwa  MUI no 3 th 2010 yang di refisi dengan fatwa no 5 tahun 2010,

Penulis yang alumni IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, jadi teringat waktu masih bekerja di PA Banyumas, ketika bersama sama teman sejawat yang alumni IAIN Walisanga Semarang yaitu  Bpk Salafuddin (sekarang karyawan PTA di Jambi kalau tidak salah). Dia waktu membuat garis azimuth bulan di lokasi rukyat,   ternyata metodenya sedikit berbeda. Saya yakin bahw Bpk Salafudin menggunakan metode itu tentu dari Bpk Slamet Hambali sebagai gurunya. Hanya karena secara struktrual di Kantor saya lebih senior, akhirnya dia mengikuti apa yang saya kerjakan. Saya menduga bahwa metode Slamet Hambali tidak jauh dari itu , karena baik mencari azimth hilal, maupun mengukur arah kiblat, pada dasarnya adalah sama , yaitu sama sama mengukur sebuah azimuth yg diproyeksikan ke ufuk.

Dengan demikian, walau saya belum pernah melihat cara kerja metode Slamet Hambali tersebut, saya  ingin mencoba menduga seperti apa kira kira urutan mengukur arah kiblat dengan metode itu. Kalau betul saya akan berbangga, karena saya bisa menebak sebuah penemuan ilmah dari seorang pakar, tetapi kalau tebakan saya salah saya juga berbangga, karena saya dapat juga mengaku punya penemuan, Cuma belum diuji dan belum teruji.

Adapun urutan pengukuran menurut dugaan saya adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai persiapan adalah arloji dibetulkan/dicocokkan dulu sesuai standar, ditegakkan benda yg betul betul lurus, ditancapkan tegak lurus disebuah dataran yg relative rata dan dapat menangkap sinar matahari
  2. Tentukan lintang dan bujur tempat yg akan diukur arah kiblatnya, dengan diukur pula sudut arah kiblatnya
  3. Pada saat sudah didapat bayang bayang dari benda itu, buat garis sesuai arah bayang bayang tersebut, dan tandai waktu terjadinya bayang bayang itu, jam menit dan detiknya.
  4. Dengan bantuan data Ephemeris(atau dengan mencari dta sendiri), dapat diketahui arah atau azimuth bayang bayang tersebut. Yaitu dengan Rumus Cot A =Sin φ /tan t-cos φ i.tan δ /sin t, bila diketahui φ adalah lintang tempat, δ deklinasi matahari, dan t adalah sudut waktu yaitu selisih waktu penandaan bayang2 dengan merpass (dalam WIB) setempat dikalikan 15 .
  5. Cari selisih sudut arah kiblat yakni  selisih azimuth bayang itu dengan azimuth arah kiblat.
  6. Buat segitiga siku siku  yang salah satu sudut lancipnya sebesar selisih arah kiblat sebagaimana dimaksud pada point 5, dengan terlebih dulu menandai pangkal bayang2 tersebut dgn o, lalu pada jarak tertentu ( 30 cm misalnya) ditandai dgn x.
  7. Buat sudut siku siku dengan membuat garis tegak lurus atas garis bayang pada titik x yang panjangnya sama dengan tg selisih sudut kali ox dan pada ujungnya ditandai dgn huruf q
  8. buat garis  dari titik o ke  q sebagai sisi miring dari segitiga siku siku q x o. Sisi miring itulah  arah kiblat.
  9. Bisa juga dengan fariasi lain yaitu dengan menandai tinggi dan alas penggaris siku siku yang panjangnya masing  masing perbandingannya  sama dengan tangen selisih sudut. Kemudian tanda tersebut diletakkan berimpit pada garis bayang2, maka salah satu kaki segitiga tersebut adalah arah kiblat, dan kaki lannya adalah garis shaf.

Cara ini dapat juga untuk membuat mata angin, dengan mengubah point 5 menjadi  selisih sudut salah satu mata angin (utara misalnya) dengan azimuth bayang bayang.

Cara ini memang sangat sederhana, dan saya pahami dari ceramah Bapak Nabhan mas putra waktu memberikan kuliah  dengan materi cara menentukan arah kiblat  dengan teodolit. pada pelatihan Hisab rukyat MABIMS 2 tahun 2000 di Tugu Bogor.

Sebagai ilustrasi dapat saya buat contoh penghitungan sebagai berikut :

Menurut data ephemeris pada tanggal 30 Juni 2011 pukul 08 GMT atau pukul 15 WIB. diketahui bahwa :

δ      23º10 39”

Eq   – 0 3’34”

Sedang Yogyakarta

Φ yogyakarta = -7º 46’

λ.                    = 110º 20

Arah kiblat     = 65º 17’ dari utara arah ke barat

Koreksi WIB ( 110º 20 – 105)/15 = 21 menit 20 detik

Merpass dalam WIB = 12 – (-3 mnt 34 dtk) – 21 ment 20 dtk = pukul 11;42’14”

Sudut t =  (15 00 00 – 11;42;24 )*15 =49º 26’30”

Menghitung arah bayang bayang pada saat itu dapat diselesaikan dengan rumus   Cot A = sin Φ /tan t- Cos Φ . tan δ /sin t .,

hasilnya adalah   56º 00’50.94”

Arah kiblat          65º 17’

Selisih                 09º 16’9.06”

Garis bayang bayang ;

Keterangan
Garis o x adalah garis bayang bayang pada pukul 15 WIBº

Sudut qox  =   9 º 16’09.06”

Garis o-x    = 30 cm

Garis x-q    = 4,89 cm

Sudut oxq adalah sudut siku siku.

Puwokerto,26 Juni2011.

HR Manshur Mu’thy  A Kafy

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

2 Balasan ke Menebak Penemuan Drs Slamet A Hambali Tentang Pengukuran Arah Kiblat.

  1. Kaji Joko berkata:

    sip, mbah. nderek nyemak

  2. Furqon berkata:

    Assalamualaikum. saya mahasiswa Furqon Nur Ramdhan, mahasiswa falak IAIN Walisongo Semarang. Kebetulan sedang menyelesaikan tugas akhir,skripsi,,dengan objek kajian rashdul kiblat harian,dimana hampir semua perhitungan dalam mencari rashdul kiblat harian (Bayangan matahari berimpit dgn zimuth kiblat, sehingga pd waktu itu posisi matahari dan bayangannya menunjukkan arah kiblat) ini hanya terjadi satu kali pada hari tertentu, seperti perhitungan dalam buku”Ilmu Falak dalam Teori dan Praktek” karya Muhyiddin Khazin, Namun sya menemukan satu kitab falak “Irsyad al-Muriid, karya K.H. Ahmad Ghazali,yg mana di dlm kitabnya tersebut malah diperhitungkan kemungkinan rashdul koblat terjadi dua kali dalam sehari, dan hasil perhitungannya pun termasuk kontemporer karena menggunakan teori segitiga bola pda umumnya dan dibantu dgn kalkulator ilmiah, yang ingin sya tanyakan, bagaimana menurut bpk, apakah memang mungkin terjadi rashdul kiblat harian terjadi dua kali dalam sehari??
    Mohon penjelasannya,,terima kasih,,

    Furqon Nur Ramdhan
    ((aa_assunday@yahoo.co.id))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s