Mengkritisi Hisab Tradisional « Petang Wilujengan »

Petang wilujengan, adalah usaha menyederhanakan penghitungan peringatan selamatan pasca kematian seseorang dalam tradisi Jawa yang terungkap dalam sebait kidung/pupuh sebagai berikut :

Siji – siji  Anyur tanah                                  ( 1 – 1 Sur tanah )

Telu – telu nelung ari                                   ( 3 – 3 tiga hari )

Pitu – loro mitung dino                                ( 7 – 2 Tujuh hari )

Limo – limo ngawan ndesi                           ( 5 – 5 empatpuluh hari )

Loro – limo Nyatusi                                      ( 2 – 5 Seratus hari )

Papat – papat Pendhakipun                         ( 4 – 4 Setahunnya )

Telu – limo Dwiwarso                                   ( 3 – 5 Dua tahun )

Enem – limo Nyewu ari                                 ( 6 – 5 Seribu hari )

Sampun Jengkap Pangetunge wilujengan.    

( Sudah lengkap perhitungan selamatannya )

Satu bait lagu Jawa diatas adalah rumus kapan selamatan memperingati wafatnya seseorang dilakukan. Angka pertama dari kata kata siji siji ( demikian juga untuk baris  baris berikutnya) , melambangkan simbol hari dan angka kedua melambangkan simbol pasaran .Penghitungan hari (Ahad, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu) dan pasaran (legi/Manis, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon) dihitung dari hari dan pasaran saat yang bersangkutan meninggal.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat penulis kepada pencetus pupuh tersebut,penulis hanya ingin mengkritisi, apakah rumus tersebut sudah tepat, kalau ditinjau dari  hisab urfi, terutama hisab urfinya orang Jawa., yakni Penanggalan system Aboge, dengan refisinya menjadi Asapon, dan barangkali selanjutnya nanti dengan Anen Hing.

Konsep ini memperkenalkan delapan macam slametan , yaitu hari kematian itu sendiri, hari ketiga, hari ketujuh, ke empat puluh, ke sertus, satu tahun, dua tahun dan hari ke seribu.

Cara penghitungannya cukup sederhana, yaitu jumlah hari dari hari saat meninggal, sampai hari peringatan . Otomatis untuk peringatan 40 hari ( hari ke empatpuluh) jumlah harinya  adalah 40, demikian juga untuk peringatan 100 hari, jumlah harinya adalah 100, untuk seribu hari , jumlahnya adalah 1000.

Angka tersebut dibagi dengan 7  ,  lalu diambil sisanya. Kalau  dibagi tujuh habis, sisanya dianggap 7. Itulah rumus hari peringatan. Kemudian  angka yang tadi, dibagi 5 , diambil sisanya, kalau dibagi 5 habis, sisanya adalah 5. Itulah rumus s pasaran hari peringatan. Itulah sebabnya, rumus  peringatan 3 hari simbolnya 3 dan 3, karena angka tersebut belum sampai  lima dan tujuh. Dan peringatan 7 hari dinyatakan dengan7 dan 2, karena angka tujuh dibagi tujuh habis berarti sisanya adalah 7 dan kalau dibagi 5 sisannya  adalah 2.

Angka 40 kalau dibagi tujuh  bersisa 5 ( 40 : 7 = mendapat 5 sisanya 5) dan kalau dibagi 5 habis berarti sisanya adalah  5.

Peringatan seratus hari  angka 100 dibagi 7 sisanya  2 ( 100:7 mendapat 14 sisa 2), dan kalau dibagi 5 , habis, berarti sisanya lima.

Seribu hari kalau dibagi 7 sisanya  6 ( 1000:7 mendapat 142 sisa 6) dan kalau dibagi 5 mendapat 200 , habis berarti sisanya 5

Untuk peringatan satu tahun  dan dua tahun perlu pembahasan lebih lanjut.

Dalam bait lagu tersebut untuk satu tahun tertulis ”papat papat pendakipun” . Angka yang dibagi 7 dan dibagi lima sisanya empat yaitu 354.

Sedang pendak pindo (dua tahun) ditulis ”tiga  lima dwiwarsa”. Angka yang tepat yg bila dibagi tujuh bersisa 3 dan dibagi lima bersisa 5 adalah 710..

Sebelum melakukan analisa lebih lanjut, baiklah dilihat terlebih dulu sistim penanggalan Islam Jawa. Ada satu siklus dalam bilangan tahun yaitu siklus delapan tahunan yang dikenal dengan istilah satu windu. Tahun tahun didalam satu windu , mendapat nama nama tersendiri, dan ini berhubungan dengan jumlah hari untuk masing masing tahun.

Dalam satu windu terdiri atas 5 tahun pendek (Basitah) dan tiga tahun panjang ( kabisat)yang rinciannya adalah sebagai berikut :

No Nama th Awal th Akhir th Umur th
1 alif Rabu Wage Sabtu Pahing 354 hari
2 K Ha Ahad Pon Kamis Pahing 355 hari
3 Jim Awwal Jumat Pon Senin Legi 354 hari
4 Zae Selasa Pahing Jumat Kliwon 354 hari
5 K Dal Sabtu Legi Rabu Kliwon 355 hari
6 Ba’ Kamis Legi Ahad Wage 354 hari
7 Wawu Senin Kliwon Kamis Pon 354 hari
8 K Jim akhir Jumat Wage Selasa  Pon 355 hari

Dalam hitungan hari, ”pendak dina” tidak sama dengan satu minggu. Kalau pendak dina, dimulai dari Ahad ( misalnya ) harus sampai Ahad (8 hari), sedang satu minggu dari Ahad hanya sampai Sabtu (7 hari) . Dua minggu berarti 14 hari, sedang rong pendak (dua pendak) Dari Ahad sampai ahad dan sampai ahad berikutnya berarti 15 hari.

Dalam konsep Slametane wong mati kelihatannya rancu,  satu tahunnya disebut pendakipun, sedang dua tahunnya disebut dwiwarsa. Kalau mengikuti konsep ini berati satu tahun pertama adalah pendak tahun berarti kalau dari tanggal satu  Suro misalnya harusnya pendak pisannya adalah satu Suro tahun berikutnya, sedang dua tahunnya karena menggunakan istilah dwi warsa berarti harusnya adalah  sebelum tanggal satu suro, yaitu tanggal 29/30 Besar tergantung tahun kabisat atau basitah.

Dengan demikian kalau mau konsisten , menentukan hari hari tersebut dapat diikuti dua pilihan:

  1. Peringatan satu tahun dan dua tahun,
  2. Peringatan mendak pisan dan mendak pindo.

Baik pilihan pertama maupun kedua, kalau mau dihitung jumlah harinya, sehubungan adanya tahun  tahun kabisat dan basitah , maka akan terdapat beberapa fariasi , yaitu untuk pilihan pertama :

  1. tahun pertama dan tahun kedua, dua duanya tahun pendek (basitah ), yaitu bila meninggalnya di tahun Jim awal atau tahun Ba. Jumlah harinya satu tahun 354 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  4-4, dua tahun 708 bila dimasukkan ke rumus  menjadi   1-3
  2. Tahun pertama basitah tahun kedua kabisat, yaitu bila meninggalnya di tahun Alif, Zae dan Wawu. Jumlah harinya satu tahun adalah 354 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  4-4 dan dua tahun 709 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  2-4
  3. Tahun pertama kabisat, dan tahun kedua basitah, yaitu bila meninggalnya di tahun  ha, tahun dal dan tahun Jim akhir. Jumlah harinya satu tahun 305 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  5-5 dan dua tahun 709 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  2-4

Untuk pilihan kedua yaitu :

  1. tahun pertama dan tahun kedua ,dua duanya tahun pendek (basitah), bila meninggalnya di tahun Jim awal atau tahun Ba. Jumlah harinya untuk mendak pisan 355 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  5-5, untuk mendak pindo 709 bila dimasukkan ke rumus  menjadi   2-5
  2. Tahun pertama basitah tahun kedua kabisat, yaituu bila meninggalnya di tahun alif, Zae dan wawu. Jumlah harinya untuk mendak pisan adalah 355 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  5-5 dan mendak pindonya 710 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  3-5
  3. Tahun pertama kabisat, dan tahun kedua basitah, yaitu bila meninggalnya di tahun  ha, tahun dal dan  Jim akhir. Jumlah harinya untuk mendak pisan 306 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  6-1 dan mendak pindonya 710 bila dimasukkan ke rumus  menjadi  3-5

Hal tersebut kalau di tabulasikan menjadi sbb. :

tahun I th Hari 2 th/ Hari Mendak pisan/hari Mendak pindo/Hari
Jim awal , ba 354 (4-4) 708 (  2 – 4) 355  (5-5) 709 ( 2-5)
Alif, Zae & Wawu 354 (4-4) 709 (2-4) 355  (5-5) 710 (3-5)
Ha,Dal &Jim akhir 305 (5-5) 709 (2-4) 306 (6-1) 710 (3-5)

Kalau dibandingkan dengan rumus dalam pupuh yang sedang kita bicarakan,  yakni  4-4 dan 3 -5, yang cocok secara keseluruhan tidak ada.

Rumus 4-4, hanya tepat apabila  untuk tahun pertama peringatannya adalah peringatan satu tahun dan untuk mereka yang meninggalnya ada di tahun basitah, dan 3-5  hanya cocok untuk peringatan mendak pindo  bagi mereka yang meninggal di tahun kabisah, atau di tahun sebelum tahun kabisah.

Kalau mau disingkronkan, karena ada empat   hal  dan harus disinkronkan, maka untuk memperbaikinya menjadi tidak bisa sederhana, sebagaimana maksud dari pupuh tersebut. Mungkinkah, bahwa penemu rumus itu sebenarnya memang mengabaikan semuanya, tapi ada maksud filosofis lain yang ingin di kemukakan, yaitu adanya kenyataan bahwa rumus itu telah menampilkan seluruh hari nyang tujuh, dalam peringatan slametane wong mati , yaitu  kalau misalnya seseorang meninggal pada hari Ahad :

Hari pertama  (Ahad )  diperingati pada slametan sur tanah

Hari kedua  (Senin )  diperingati pada slametan seratus hari

Hari ketiga  (Selasa )  diperingati pada slametan tigahari  dan dua tahun

Hari Ke empat)  (Rabu )  diperingati pada slametan Seribu hari

Hari Ke lima)  (Kamis )  diperingati pada slametan 40 hari

Hari ke enam (Jumat )  diperingati pada slametan seribu hari

Hari ke tujuh  (Sabtu )  diperingati pada slametan tujuh hari

Kalau rumus tadi disesuaikan dengan kaidah ilmu hisab (’urfi) maka ada hari yang terlewatkan, yaitu hari ke empat.

Mungkinkah Itu sengaja dilakukan agar tercapai simbolisasi secara utuh bahwa memperingati/ selamatan peringatan orang mati dalam arti mendoakan, hendaklah dilakukan setiap hari . dan setiap saat, karena ingat mati akan dapat meningkatkan kwalitas keberimanan sesorang  dan implementasinya dalam laku amal shalih? Wallahu a’lam.

Purwokerto, 11 Juni 2011.

Manshur Mu’thi.

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

2 Balasan ke Mengkritisi Hisab Tradisional « Petang Wilujengan »

  1. 15 November 2012
    12 / 12 / 12
    31 Desember 2012
    2012

  2. rini berkata:

    minta tolong dihitungkan bp saya wafat tgl 28 des’12,mendak 1 jatuh tanggal brp?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s