Trik Menjadi “Santri Cerdas”

Dalam Pertemuan/Pelatihan ilmu Falak  Drs Slamet Hambali, Dosen Ilmu Falak di IAIN Walisanga, pernah membuka rahasia/triknya  mengapa beliau bisa menghitung dengan cepat., Triknya sangat sederhana tapi saya mengagumi trik tersebut, dan saya jadi teringat akan beberapa trik  kaum santri yang saya ketahui agar kelihatan cerdas, diantaranya seperti yang tersebut dibawah ini

Sekitar tahun 1967 saya ikut ngaji puasanan ( Ngaji husus di bulan Ramadhan) di Pondok Gunung mujil dibawah Asuhan KH M Ihsan, pondok mana sekarang diteruskan oleh putranya yaitu KH Muhyidin

 Yang dibacanya adalah Kitab Ummul Barohin liddasuki tentang ilmu Tauhid, yang di Kebumen lebih dikenal dengan nama Kitab Sanusi ( bukan Sanusiah). Beliau membaca kitab itu dengan posisi duduk menghadap kiblat dengan bersandar di salah satu tiang di mesjid dekat pintu penghubung antara masjid dan  serambi. Sedang para santri mengelilingi beliau dengan sikap santai, sedang saya biasanya mengambil posisi di belakangnya, biar dapat lebih santai, bahkan sering berebahan sampai tertidur. Kalau saya terbangun dari tidur saya biasanya tidak langsung membuka mata, tetapi mencoba mendengar apa yang sedang dibahas  oleh Pak kiyai, sesudah tahu topic yang sedang dibahasnya, bab sipat Allah Hayat misalnya, maka perlahan lahan saya sedikit membuka mata sambil melirik ke teman terdekat yang sedang menyimak bacaan pak kiyai, kearah mana mata teman saya itu tertuju,  kea rah bagian kanan, kiri atas atau bawah dari kitab. Sesudah pasti, lalu saya seperti tiba tiba terbangun langsung duduk, membuka kitab  dan dengan cepat mencari topik yg membahas sipat Allah Hayat tadi, kemudian mata saya tujukan sesuai arah pandangan mata teman saya tadi, Biasanya langsung ketemu, dan segera ikut menyima bacaan kitab tersebut. Begita saya  lakukan beberapa kali. Pada satu saat ketika saya sedang tidur dikamar (guthekan)dan terbangun tapi mata masih terpejam, saya dengar teman teman dengan suara pelan sedang membicarakan saya, yang katanya aneh. Ngaji sering tertidur, tetapi begitu terbangun bisa langsung menemukan bagian kitab yang sedang dibaca oleh Pak Kiyai, padahal santri lamapun agak sulit menangkap bacaan beliau karena suaranya, memang tidak lantang dan  seperti orang menggumam. Saya tidak jadi bangun, dan membiarkan teman teman mengagumi saya dan mengguman dalam hati. bahwa mereka tidak tahu kalau itu cuma trik saya.

Seorang senior saya di IAIN yang berasal dari Prembun, pernah bercerita ketika di Pondok Mranggen dia ngaji kitab alfiyah ibnu Malik, dan tiap hari harus menghapal beberapa bait yang diajarkan hari sebelumnya, ia tidak tampak serius berusaha menghapal luar kepala, tetapi pada saat dihadapan guru, ia selalu sudah hapal.  Teman temannya tidak tahu bahwa kalau ia pergi mancing, diam diam  dibalik bajunya ia membawa korasan kitab, dan ia belajar menghapalnya di sungai sambil mancing. Sudah tentu tidak seorangpun yang tahu.

Kembali kepada Bapak Drs Slamet Hambali ( Saya tidak tahu gelar lengkapnya sekarang) waktu  itu membuat intermezzo dengan mengajar cara cepat mencari tanggal satu bulan Januari tahun berapa saja terserah,  sesuai keinginan. Caranya sangat mudah.

Pertama tahun sebelum tahun yang akan kita cari tanggal satunya, dibagi dengan 28, lalu sisanya kita catat.

Sisa tersebut ditambah seperempatnya,

Bila hasilnya ada pecahan ,maka pecahan itu di hilangkan lalu ditambah satu.

Bila hasilnya bulat (tidak ada pecahan) lalu ditambah satu.

Jumlahnya dibagi 7 dan sisanya dihitung mulai dari hari Ahad.

Misalnya dicari tanggal 1 Jan 2008.

Tahun sebelumnya, yakni 2007 dibagi 28 sisanya 19 . Lalu ditambah seperempatnya yaitu 4 lalu ditambah lagi satu,  jumlahnya (19+4+1) adalah 24, dibagi 7 sisanya 3 dihitung dari Ahad, ketemunya Selasa.

Contoh lagi dicari tanggal 1 Januari tahun 2012. Tahun sebelumnya, 2011 dibagi 28 sisanya 23. ditambah seperempatnya yaitu  5, lalu ditambah lagi dengan  1 jumlahnya (23 + 5 +1)=29.   29 : 7  sisanya 1, dihitung dari Ahad ketemu Ahad.

Ketika teori ini di praktekkan, teman teman sudah siap dengan kalkulatornya, sementara Pak Slamet Hambali mengucapkan soalnya  dengan pelan. Dalam contoh diatas, maka dengan aksen pengucapan yang pelan Beliau bisa langsung berkata 2007 dibagi 28 sisanya 19. Sementara yg menggunakan kalkulatror ketika memijat kalkulator 2007 dibagi 28 dilayar kalkulator muncul angka 71.6785714.langkah berikutnya angka dibelakang koma di buang tinggal 71  X 28 = 1988, langkah berikutnya 2007 – 1988 =    19. Jadi pengguna kalkulator selalu kalah dulu dengan beliau , apalagi bagi yang menggunakan coretan coretan secara manual model paragapit. Saya bertanya, bagaimana caranya supaya bisa menghitung cepat sekali. Beliau tertawa terpingkal pingkal dan dia bilang, “wah kalau rahasia ini di buka maka gurunya tidak kelihatan cerdas lagi”. Tetapi setelah sedikit dipaksa, lalu beliau buka rahasianya. Ternyata yang beliau lakukan tidak betul betul membagi angka 2007 dengan angka 28. Beliau hanya mengingat saja satu angka yang habis 28. Di abad 20 ini , tahun yg bulat dibagi 28 adalah tahun 1960. Kemudian kalau angka itu ditambah 28, adalah 1988, kalau dikurang 28 adalah th 1932.

Kemudian kalau akan membagi tahun tertentu dengn angka  28, lihat saja diantara angka angka tersebut diatas yang habis dibagi 28, angka mana yang terdekat dibawahnya. Dalam contoh tadi, maka angka terdekat dari angka yg habis dibagi 28 yang berada dibawah angka 2007 adalah 1988. Oleh karena itu ketika dengan pelan pelan beliau mengucapkan kata kata 2007 dibagi 28 sisanya adalah maka yg bekerja dipikiran beliau adalah 2007 dikurang 1988. Dan tidak terlalu sulit untuk segera menemukan angka 19. Ketika kami mencoba mempraktekkan hal itu ternyata mudah dan praktis memang.

Kalau ingin mengetahui bulan lain, ada rumus selanjutnya, yaitu untuk tahun basitah maka untuk bulan bulan selanjutnya ditambah sebagai berikut

No Bulan tambah No Bulan Tambah
1 Januari 0 7 Juli 6
2 Pebruari 3 8 Agustus 2
3 Maret 3 9 September 5
4 April 6 10 Oktober 7
5 Mei 1 11 Npember 3
6 Juni 4 12 Desember 5

Dapat diringkas menjadi  0,3,3,   6,1,4,  6,2,5,  dan 7,3,5

Kalau untuk tahun kabisat tambahannya adalah sebagai berikut

No Bulan tambah No Bulan Tambah
1 Januari 0 7 Juli 7
2 Pebruari 3 8 Agustus 3
3 Maret 4 9 September 6
4 April 7 10 Oktober 1
5 Mei 2 11 Npember 4
6 Juni 5 12 Desember 6

Dapat diringkas menjadi 0,3,4, 7,2,5, 7,3,6 dan 1,4,6.

Dapat kita coba unutk mencari tanggal 17 Agustus 1945. Tahun sebelum tahun 1945, ádalah 1944 dibagi 28 sisanya 12 ditambah seperempatnya 3, ditambah 1 jumlahnya (12 +3 +1) =16. Untuk 1 Agustus ditambah 2, untuk tanggal 17 ditambah 16 jumlahnya ada 34.  34: 7 sisanya 6 dihitung dari Ahad  hasilnya Jumat.

Metode yang cukup sederhana ditambah trik yg sederhana juga , hasilnya seperti orang Cerdas. Trik ini bisa juga dipakai oleh yang bukan Santri. Silahkan dicoba sendiri bila pembaca berminat.

Yogyakarta,30 Mei 2011.

HRManshur Mu’thy A Kafy

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s