Guru Guruku Dalam Ilmu Falak (2)

Meneruskan tulisan saya beberapa waktu yang lalu tentang guru guru saya dalam ilmu falak, pada kesempatan ini saya ingin tuliskan beberapa guru saya yang lain, yaitu :

Lik Hadi .

Nama sebenarnya K Abdul Hadi bin KH Abu Darda, anak dari Mbah Ndah guru ngaji ibu saya.

Setiap bulan Puasa ia mengajar Kitab Sulam Nayirain di Masjidnya di Wareng Kidul, kec Butuh Kab Purworejo. Sebelumnya santri disuruh nulis materi kitab itu dan tabel tabel yang dibutuhkan. Tabel tabel itu semuanya dengan angka “Arab”, maksudnya angka angka yang menggunakan lambang lambang huruf Arab, semisal alif = 1 , jim =3, ha = 5, nun 50 dst.

Dikampus saya sudah belajar ilmu falak, tetapi belum belajar hisab awal bulan. Saya diam diam menulis kitab dan tabel2 dimaksud, lalu pada satu hari saya menghadap dan mengutarakan keinginan saya, dan saya minta beliau yg membaca kitab itu, saya gak usah menirukan seperti lazimnya ngaji sorogan, tetapi kalau ada yg tidak jelas saya akan interupsi. Beliau setuju, lalu jam sembilan pagi beliau mulai membaca kitab setebal 16 halaman itu, sambil menjelaskan hal yang dianggap perlu dan menunjukkan contoh cara menghitungnya. Jam sebelas selesai, dan saya diberi PR untuk mencoba menghitung bulan Romadon yang akan  datang. Saya pulang ketempat kakak (kira kira seratus meter dari tempat beliau) lalu saya praktek menghitung, Menjelang jam dua , saya ke Masjid untuk sholat dzuhur, dan ketemu beliau sedang istrirahat di Masjid. Saya  sodorkan hasil kerja saya, dan beliau agak heran, karena hitungan saya sudah benar. Pada kesempatan lain Mbah Endah (ibunya LIK Hadi) bilang sama ibu saya. “Itu lo anakmu, belajar falak kok Cuma sedina wis rampung lan bisa” , padahal banyak yang sebulan tapi tidak berhasil  . Orang orang tua yang sedikit terkagum kagum itu, tidak tahu, bahwa waktu nulis kitabnya saja kan saya sudah sambil mempelajari, dan ada beberapa istilah saya sedikit banyak sudah tahu sebelumnya, artinya saya tidak belajar dari nol. Saya jelaskan hal itu kepada ibu, agar ibu saya tidak over estimit kepada saya.

Pada waktu waktu selanjutnya  kalau ketemu, beliau selalu ngajak saya berdiskusi tentang ilmu Falak. Diantaranya beliau pernah mengemukakan, bahwa pranoto mongso, perhitungannya dengan rumus bayang bayang . Bila bayang bayang kita saat tengah hari, panjangnya tepat 4 pecak kita (panjang telapak kaki dari ujung jari sampai tumit) disebelah selatan , itulah awal mongso ke 1 (kasa) , dan pindah ke mongso kedua (karo) bila panjang bayang bayang tepat tiga pecak. Hal itu pernah saya konfirmasikan kepada Pak Rohim, dan beliau jelaskan lebih lanjut tentang bagaimana dan mengapanya.

Di Masjid Wareng yang asuhan Lik Hadi tersebut, ada satu hal yang khusus.Pada salah satu genteng di Serambi Masjid, ada yang deberi lobang, sehingga bila tengah hari dan lanbgit terik, maka akan masuk sinar matahari lewat lobang itu. Pada lantai persis dibawah lobang itu dibuat dua garis sejajar, arah utara-selatan, yang jaraknya satu sama lain sama dengan garis tengah bulatan sinar matahari yang masuk lewat lobang genteng tersebut. Dengan demikian dengan mudah dapat ditetapkan, bahwa bila sinar matahari yang masuk lewat lobang genteng tersebut berada diantara dua garis sejajar utara selatan tadi, maka itulah tengah hari atau pukul 12 waktu istiwa. Tidak perlu lagi membuat bencet di tengah halaman Masjid. Beberapa puluh tahun kemudian, ketika saya shalat dzuhur dimasjid itu, ternyata genteng berlobang dan lantai  bergaris dibawahnya, masih ada tetapi konon telah diperbarui.

Bapak Saaduddin Jambek.

Secara formal, dosen ilmu falak di IAIN Sunan Kalijaga,s emasa saya kuliah disana adalah Bapak Saaduddin Jambek, walau dalam kenyataannya yang sehari hari mengajar kami adalah Bapak Drs Abd Rahim (waktu itu masih Bapak Abd Rahim BA), Kadang kadang Pak Jambek (begitu biasa kami memanggilnya) sekali sekali datang dan mengajar. Yang sangat mengesankan bagi saya, adalah satu saat ketika beliau mengajar kelas angkatannya Bapak Wahyu Widiana ( Dirjen Badilag sekarang) Saya sudah mahasiswa doctoral .Para asisten dosen juga hadir. Yang saya ingat antara lain Pak Habiburrhaman( Hakim Agung sekarang) dan Pak Zainal Arifin Nurdin dan pak Basrowi, entah dimana sekarang, dan tentu hadir Juga Pak Rahim. Pak Jambek menerangkan tentang perihal waktu shalat dengan kondisi khusus karena berada ditempat yg khusus.Misalnya disatu tempat ada waktu maghrib, tetapi tidak ada waktu Isya. Sebagaimana dimaklumi bahwa awal waktu magrib dimulai sejak matahari berada pada posisi satu derajat dibawah ufuk, dan akan berakhir bersamaan dengan awal waktu Isya, yaitu pada saat posisi matahari ada pada ketinggian 18 derajat dibawah ufuk (-18). Untuk daerah yang berada pada posisi lintang utara 60 derajat  misalnya, pada tanggal 22 Juni, dimana matahari berada pada deklinasi sekitar 23 derajat lintang utara ,maka  siang akan sangat panjang, matahari berada di titik kulminasi bawah  hanya sekitar 7 derajat dibawah ufuk.Matahari tidak mencapai batas akhir waktu magrib /atau awal Isya, yakni 18 derajat dibawah ufuk, juga tidak mencapai ketinggian awal subuh (-20 derajat) . Dengan demikian akhir maghrib tidak ada, waktu Isya tidak ada, sedang waktu Subuh ada sedikit, tetapi tidak jelas awalnya. Kemudian Pak Jambek memberikan rumus yang kurang lebihnya berisi kondisi tersebut akan terjadi pada tempat dan saat kumulasi antara lintang tempat dan deklinasi matahari  mencapai 78 derajat atau lebih. (Karena ini hanya ingatan peristiwa 30 tahun yang lalu, maka ingatan saya akan rumusan itu perlu diteliti ulang ).

.Saya tercenung beberapa lama, dan ketika ada waktu Tanya jawab, saya memberanikan diri  untuk bertanya, tentang kemungkinan  terjadinya, ada awal waktu dzuhur, tapi tidak ada waktu asar. Dasar pertanyaan saya adalah, berhubung waktu Asar rumusnya adalah bila bayang benda yg tegak lurus  sama dengan bayang bayang awal dzuhur ditambah panjang benda itu sendiri, logikanya, bila matahari berada diatas ufuk sebentar sekali, semisal daerah sekitar kutub utara pada waktu matahari jauh di selatan, maka bayang awal dzuhur, waktu matahari berkulminasi sudah sangat panjang, dan ujungnya sudah sangat dekat dengan ufuk, maka bisa terjadi sebelum bayang bayang bertambah panjang  sepanjang benda itu, maka ujungnya sudah sampai ufuk, dan otomatis panjang bayang bayang menjadi tak terhingga. Pak Jambek waktu itu kelihatan agak terkejut, sangat paham akan pertanyaan saya  dan beliau membenarkan adanya kemungkinan itu, namun setelah mencoba mencoret coret di papan tulis, akhirnya beliau menunda rumus jawabannya tersebut sampai besok paginya. Keesokan harinya, saya ke kampus agak pagi, para mahasiswa masih belum pada datang, tetapi  Pak Jambek sudah ada di teras kampus , dan begitu melihat saya, langsung saya di panggilnya dan diberi tahu jawabannya. Saya sekarang sudah lupa jawabannya itu, tetapi karena kuncinya saya masih ingat, kalau mau mencari insya Allah masih dapat saya ketemukan. Rasa rasanya buku beliau ada yang menyinggung masalah itu, buku kecil yang berisi pendapat beliau tentang shalat dikutub. Sungguh pengalaman belajar kepada Pak Jambek yang sangat mengesankan.

Pak Wahyu.

Drs Wahyu Widiana MA (Dirjen Badilag Mahkamah Agung RI), beliau Masuki IAIN Sunak kaljaga kalau tidah salah sekitar tahu 1971/1972 beberapa tahun dibawah saya, tetapi pernah sama sama belajar kepada Pak Jambek. Beliau beruntung bisa belajar kepada Pak Jambek lebih lama , karena setelah tammat di IAIN dan menjadi PNS di PA Jakarta (Utara?) kemudian di rekrut ke DITBINBAPERA Dep Agama untuk menangani hal ihwal Hisab Rukyat yang Ketua BHRnya waktu itu adalah Pak Jambek. Beberapa kali beliau menjadi penatar Ilmu Hisab, dan saya menjadi peserta. Pernah terjadi, sekitar tahun 1984 atau 1985. Dalam satu diklat hisab rukyat, kami sudah hampir berangkat shalat Jumat ada teman peserta  yang minta dikoreksi hasil hitungannya atas tinggi hilal sebagaimana diajarkan pada jam jam sebelumnya. Karena mereka bertanya kepada saya dan saya merasa waktu sudah mendekati shalat jumat, saya bilang nanti saja habis jumat, kemudian ada pak Wahyu, lalu beliau  mengajak saya membantunya menghitung secara cepat, dengan menghitung rumus tinggi hilal dari belakang. Sebenarnya masalahnya sederhana saja, sebuah perkalian dikerjakan dari depan dan dari belakang sama saja dan saya langsung bisa mengikuti cara berfikir Pak Wahyu, tetapi banyak teman teman yang terheran heran, bahwa pak Wahyu ( dan mungkin saya) bisa menghitung rumus rumus ilmu falak dari belakang.

Satu lagi tentang Pak Wahyu.

Tahun 2001 saya mengikuti Pelatihan Hisab Rukyat tingkat MABIMS 2 (diselenggarakan dalam rangka kerjasama nenteri Agama Brunai,Indonesia,Malaysia dan Singapura). Saya sangat senang karena bayangan saya pesertanya dari 4 negara tersebut. Ternyata pesertanya local semua, bahkan ada yang masih tingkat dasar. Pak Wahyu yang senang bercanda  mencandai saya dengan berkata, kok mau maunya mengikuti pelatihan ini, dan karena waktu pratest dan post tess saya satu satunya yang nilainya seratus, maka dalam penutupan Pak Wahyu mengumumkan bahwa satu satunya peserta yang ilmunya tidak berkembang adalah Pak Manshur. Teman tem,an ada yang tepuk tangan, dan saya ikut tertawa (nyengir)

Demikian sedikit  nostalgia tentang guru guru saya, kalau ada waktu insya Allah disambung lagi

Yogyakarta 2 Mei 2011.

HR Manshur Mu’thy A Kafy

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

2 Balasan ke Guru Guruku Dalam Ilmu Falak (2)

  1. Ping balik: Guru Guruku Dalam Ilmu Falak (3) | Manshur Mu'thy A Kafy

  2. Huda berkata:

    Assalamualaikum. saya mahasiswa falak IAIN Walisongo Semarang. kebetulan saya sedang meneliti kajian falak di IAIN Walisongo Semarang. perkiraan saya, karena berdirinya IAIN Walisongo adalah dapat dikatakan hampir yang paling akhir, jadi studi falak pertama kali di IAIN Walisongo pasti juga banyak copy right dari IAIN sebelumnya, yakni IAIN Sunan Kalijaga (saat itu). pertanyaannya:
    1. apakah ini benar?
    2. mohon saya diberi gambaran model pengajaran falak yang ada di IAIN sunan Kalijaga dari Bapak saat kuliah sampai sekarang sepengetahuan Bapak. khususnya beberapa perubahan model kajiannya?
    terimakasih atas info dari Bapak.

    M. Chusnul Huda (h.chusnul@gmail.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s