Ikhtiati, Dulu, Sekarang Dan Masa Datang

Dimaksud ikhtiyati disini, adalah menambah/mengurangi sambil membulatkan terhadap hasil hitungan matematis atas awal waktu shalat,dalam rangka berhati hati agar jadwal yang dibuat itu berlaku juga untuk daerah sekitarnya dalam radius tertentu. Sebagai contoh hasil hitungan matematis baik dengan menggunakan table table daftar logaritma, dengan kalkulator maupun dengan komputer, pada umumnya dalam bentuk pecahan, misalnya awal matahari terbenam pada pukul 17; 34’24.18”, kemudian dari hasil hitungan ini lalu diberi tambahan ikhtiyati sambil dibulatkan menjadi, awal maghrib pukul 17:35’ atau 17 36’.Tambahan untuk pembulatan sebesar 0;00’35.42” itu sekaligus sebagai ikhtiyati, agar pada jam itu matahari betul betul sudah tenggelam secara sempurna. Ikhtiyati diperlukan untuk lebih berhati hati, sehingga kita tidak terjerumus kedalam waktu yang meragukan. Oleh sebab itu untuk terbit matahari, ikhtiati bukan ditambahkan, tetapi dikurangkan dari hasil hitungan secara matematis, supaya matahari betul betul belum terbit, sebagai akhir waktu subuh.

Jadwal waktu shalat idealnya dibuat untuk masing masing kota, tetapi dalam praktek tidak selalu demikian, kadang kadang jadwal dibuat untuk satu kota tertentu, dan diperlakukan untuk kawasan yang cukup luas, kadang kadang juga diperlakukan untuk kota lain dengan menambah atau mengurangi dengan dasar selisih bujur dari kota kota tersebut.

Dengan demikian Ikhtiyati terhadap pembuatan jadwal yang akan diperlakukan untuk kota Yogyakarta misalnya ikhtiyatinya akan berbeda bila perhitungan dimaksud untuk diberlakukan juga bagi seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta .Ketika sebuah perhitungan yang sudah jadi kemudian akan diperlakukan bagi kota lain, maka akan terjadi ikhtiyati dua kali, karena selisih bujur dua kota ketika dikonversikan kedalam menit waktu, tidak selamanya merupakan bilangan menit yang utuh, sedang jadwal shalat biasanya selalu disajikan dalam bilangan menit yang utuh

Ada juga ahli falak yang membuat jadwal waktu shalat untuk berbagai lintang,dihitung dengan menggunakan waktu wasati. Kalau akan membuat jadwal waktu shalat untuk sebuah kota, maka diambillah dari jadwal tadi dengan memilih lintang yang paling dekat dengan   kota dimaksud, kemudian tinggal di koreksi agar masuk ke Wilayah waktu yang ada, WIB, WITA ataupun WIT.

Oleh karena itu penentuan ikhtiyati juga mengalami proses, karena dipengaruhi oleh beberapa hal yang mengalami perubahan pula. Mungkin dapat diperiodisasikan sebagai berikut.

  • Periode masa lalu, ketika belum diketemukan scientic kalkulator dan kemudian            computer
  • Periode setelah diketemukannya scientific kalkulator
  • Periode masa datang, pasca Komputer/ internet

I.        Periode masa lalu.

Periode ini terjadi ketika alat yang dipergunakan baru rubu’ mujayyab dan daptar logaritma, ikhiyati harus cukup besar, karena  ;

a.       Data utama yaitu posisi geografis suatu tempat (lintang dan bujur tempat) dan deklinasi matahari serta perata waktu, belum teliti, biasanya sangat global,dan tidak semua kota diketahui dengan mudah letak geografisnya. Paling rinci, suatu kota (konon kantorpos utama dari kota itu) disebutkan letak geografisnya, hanya sampai menit, misalnya Purwokerto, posisi geografisnya adalah 7º26’ lintang selatan dan 109 º 38’ bujur timur. Kota kecil yang ditemukan posisi geografisnya hanyalah kota yang oleh Belanda dianggap penting, seperti Purworejo Klampok, karena ada zendingnya, Sokaraja (tepatnya Kalibagor) karena ada pabrik gulanya. Ini kalau dilihat dari buku terbitan Belanda yg memuat secara detail posisi geografis kota kota diseluruh dunia. Sebaliknya kalau data yang beredar di dunia ilmu falak tradisional yg pada umumnya dari pondok pesantren, hanyalah kota yang banyak pesantrennya yang ditemukan data geografis tersebut.

b.      Alat penghitung, berupa rubu’ mujayyab hanya bisa menghitung besaran busur sampai 15’, dan tingkat akurasinya sangat dipengaruhi oleh elasitistas benang/khoithnya, lobang markaznya dan kelihaian pemakainya dalam menggunakan rubu’ mujayyab. Agak lebih akurat adalah bila menggunakan daftar logaritma ,tetapi yg banyak beredar waktu itu adalah daftar log yang hanya 4 desimal, jadi masih kurang juga akurasinya.

c.       Karena sekali menghitung satu waktu shalat cukup makan waktu dan kertas yg agak banyak, maka penghitungan dilakukan 3 hari sekali  dan hanya satu kota . Untuk hari lain dipakai hari terdekat atau kalau selisihnya lebih dari satu menit dilakukan interpolasi. Membuat jadwal untuk kota lain jadwal yang ada ditambah atau dikoreksi sebesar selisih bujur tempat x 4 menit, yang hasilnya dibulatkan lagi keatas.Akibatnya, ikhtiyati dibuat agak agak besar, bisa dua sampai tiga menit

Jadwal waktu shalat bagi kota lain yang hanya dengan menambah atau mengurangi berdasar selisih bujur, bisa berakibat dua hal :

a.       Jadwal kurang akurat, karena penyebab perbedaan waktu shalat, disamping dipengaruhi oleh perbedaan bujur, juga oleh perbedaan lintang, serta posisi matahari pada waktu itu

b.      Ikhtiyati bisa berlapis, jadi sangat besar.Namun hal itu tetap harus dilakukan untuk menghilangkan keraguan.

Secara umum dalam periode ini ikhtiyati mungkin menjadi beberapa kali, atau walau hanya sekali tetapi harus dapat menampung beberapa keperluan sehingga menjadi harus cukup besar.

II  Periode setelah diketemukannya scientific calculator

Pada periode ini penghitungan bisa semakin cepat dan dengan data deklinasi matahari dan perata waktu dari Almanak nautika (atau dari sumber lain yang sejenis) yang bersipat harian (bahkan perjam) penghitungan bisa menjadi lebih cepat, sehingga pembuatan jadwal tidak lagi tiap 3 atau 5 hari, tetapi tiap hari, lebih lebih setelah dipergunakan juga GPS yang dapat menetapkan posisi geografis dengan mudah dan tepat serta teliti, sehingga factor yang harus tetap diperhitungkan untuk menentukan minimal besarnya ikhtiati tinggallah dua faktor yaitu :

a.       Jauhnya jarak radius yang akan dicakup dalam jadwal dimaksud. Dari jarak itu diproyeksikan kedalam derajat bumi, lalu dijadikan detik waktu, sebagai pedoman menentukan minimum ikhtiyati yang diperlukan.   Misalnya Jadwal di kota Yogyakarta, yang harus mencakup bagian terbarat dari kota Yogyakarta yang berjarak 10 km. 1 derajat permukaan bumi di Katulistiwa, adalah sekitar 111 km ( Lingkaran bumi yg 360 derajat adalah 40 000 km) , maka 10 km jarak dari pusat kota kearah barat, adalah 10/111 x 1 º = 0 º 5.4’ busur, oleh matahari akan ditempuh dalam waktu 21.6 detik,yang berarti di pinggir kota Yogyakarta awal waktu baru masuk 21.6 detik kemudian setelah pusat kota Yogyakarta. Inilah ikhtiayti minimal untuk Yogyakarta. Maksudnya kalau hasil penghitungan dengan 21 detik sudah bulat maka angka itulah pembulatannya, kalau belum bulat, maka ditambah lagi sampai bulat, sehingga pembulatan berkisar  antar minimal 21detik, maksimal 1 menit 20 detik.

b.      Fariasi kerendahan ufuk dalam radius satu kota. Misalnya untuk kota Semarang, disamping dipertimbangkan luas kota yang mungkin lebih luas  atau lebih memanjang ke barat dari kota Yogyakarta, tetapi perlu pula dipertimbangkan tinggi tempat yang berbeda antara bagian utara kota yang merupakan pesisir, dengan bagian utara yang merupakan pegunungan. Untuk daerah pegunungan, karena kerendahan ufuknya lebih besar, maka matahari jadi lebih lambat terbenam, sehingga ikhtiati perlu diperbesar, oleh sebah itulah barang kali, maka ahli falak dari Semarang cenderung membuat ikhtiati lebih besar dari ahli falak Yogyakarta,  antara dua sampai 3 menit.

c.       Kalau penghitungan atas satu kota akan diperlakukan untuk satu Kabupaten, seperti menghitung kota Purwokerto, untuk dapat mencakup seluruh wilayah Banyumas, misalnya maka ihtiyati/dan pembulatannya harus lebih besar. Pernah penulis coba hitung, dari Purwokerto kedarah yang paling barat (kecamatan Lumbir) jarak geografisnya mencapai 36 km, yang berarti sekitar 0º 20’, yang berarti memerlukan 80 detik perjalanan matahari, atau 1 menit 20 detik. Inilah ikhtiyati minimal, sedang maksimalnya tentu mencapa 2 menit 19 detik.

III  Periode masa datang.

Dimasa datang, ketika jadwal shalat sudah diprogram dalam computer dan disebar luaskan lewat internet, dan jadwal waktu shalat bisa dibuat dari desa ke desa  dan ikhtiyatinyapun juga sudah dimasukkan dalam program Komputer, penulis cenderung agar ikhtiyati yang sipatnya berhati hati dari kemungkinan salah hitung tidak diperlukan lagi, tetapi masih ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian untuk dimasukkan kedalam program ikhtiyati, baik yang sekedar berupa pembulatan, maupun lainnya, yaitu :

1.      Ikhtiyati biasa yaitu ikhtiyati yang mengakomodir bagian barat dari kota yang dibuat jadwal waktu shalatnya

2.      Untuk awal waktu dzuhur sebaiknya sebelum dilakukan pembulatan dengan ikhtiyati, terhadap merrpass ( 12- perata waktu ), ditambahkan dulu semi diameter matahari, yg dijadikan detik waktu, karena zawalusysyamsi akan sempurna kalau seluruh bagian matahari sudah melewati titik kulminasi, sedang meridian pass yang ada baru titik pusat matahari yang berada dititik kulmnasi atas.

3.      Untuk waktu Ashar, rumus ketinggian matahari waktu ashar ( ha)  perlu dikoreksi lebih dahulu dengan refraksi, sesudah itu baru dihitung seperti biasa dengan koreksi  angka 1

4.      Untuk waktu lain cukup di koreksi seperti angka 1, dengan catatan untuk terbit matahari koreksinya bukan ditambahkan tetapi dikarangkan

Demikian tulisan ini dibuat, semoga dapat menjadi wacana yang selanjutnya mendapat perhatian dari para peminat ilmu falak

 Yogyakarta, 28 April 2011.

Manshur Mu’thy A Kafy

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s