Guru Guruku Dalam Ilmu Falak (1)

Ketika saya menulis beberapa  artikel  yang berkaitan dengan ilmu falak, maka saya jadi teringat akan beberapa orang yang telah membimbing  dan mengantar saya, sehngga saat ni saya sedikit mengenal llmu falak.Mereka adalah guru guru saya yang jumlahnya tidak banyak.inilah mereka:

1, Bapak dan ibu saya.

Belau bukan ahli falak. Bapak saya KH Mu’thi Abd Hayyi bin KH Abd Kafi Tsani, hanya keluaran sebuah pondok Pesantren kecil yang bernama Cempoko, yang sampai sekarang saya tidak tahu di daerah mana Cempoko itu. Ibu saya adalah seorang ibu Rumah tangga, bernama Melik Isyarah Ummi Mauludiyah,anak kedua dari Eyang Haji Muh Toyib, Glondong (kepala desa) Wareng, Butuh Purworejo. Beliau mula mula ngaji Alquran pada Embah Haji A Jazuli (pakde beliau) murid angkatan awal dari KH Munawir Krapyak Yogyakarta, dan menamatkan alQuran dibawah asuhan Mbah Ndah/NyaiAbu Darda Wareng, bibi beliau yg juga murid mbah Jazuli.

Entah bagaimana prosesnya, saya kecil sudah tahu rumus hisab urfi system Aboge, yang terhimpun dalam sebuah syi’ir  sebagai berikut : Aboge ha had pona, jangah pon zasahinga dal tugi bamis gia wanewon jangah geya.Ini adalah rumus nama nama tahun dalam satu windu berikut hari pertama  dan pasarannya tiap tahun. Sebagai contoh. kata pertama Aboge menggambarkan tahun pertama dalam siklus windu (siklus 8 tahunan) adalah tahun alif, hari pertama atau tanggal satu Muharramnya adalah hari Rabu Wage . Untuk tanggal satu pada bulan bulan berikutnya tergambar dalam syiir berikutnya : Romjiji Parluji, Nguwal patma, Ngukhir nema, Diwal tupat, Dikhir ropat ,Jablulu, Banmalu, Donnemro, Waljiro, Dahroji Jahpat ji. Artinya Rom jiji, adalah bulan Muharom siji siji,  maksudnya, awal Muharrom adalah hari pertama dan pasaran pertama dihitung dari Rabu Wage untuk tahun pertama tersebut. Hitungan seperti ini sangat akrab dilingkungan keluarga saya

Urusan hitung menghitung saya pernah mendapat tantangan dari bapak agar saya dapat membantu bapak menghitung jumlah ta’ziru ta’khiri qadlai shoumi romadon. Saat itu saya masih kelas enpat SD Saya disuruh menjumlahkan angka  10 +9+8 ….+1= ? . Sering disuruh menghitung lebih besar dari itu, Bisa dimulai dari 50 dari 45 dsb. Karena males, saya lalu timbul keinginan mencari cara yang lebih praktis. Saya memperhatikan tegel/jubin di lantai Mulangan.(tempat bapak mengajar orang orang tua). Karena saya terinspirasi oleh pelajaran berhitung di Sekolah tentang pelajaran luas segitiga dan trapesium,siapa tahu bisa membantu menyelesaikan tantangan Bapak, Setelah beberapa kali saya coba dengan alat peraga lantai jubin tersebut, maka saya dapat kesimpulan bahwa tantangan bapak dapat saya atasi dengan bantuan pelajaran sekolah mengenai luas trapesium. Sampai sekarang saya agak heran bercampur bangga, (mudah mudahan bukan ‘ujub) kenapa waktu itu saya dapat berpikir seperti itu,

Hal lain yang bersinggungan dgn ilmu falak dari Bapak dan ibu adalah ketika terjadi semacam diskusi antara beliau, Bapak menyatakan keheranannya, kenapa ahli hisab bisa mengatakan bahwa peluang hilal di Arab lebih dulu terlihat dari pada Indonesia. Padahal matahari terbenam lebih dulu di Indonesia. Ibu saya lebih dapat menerima logika ahli falak dari pada Bapak. Kalau sudah begitu bapak hanya berkata,kowe deneng ngeyel?

Hal lain, Bapak pernah berpendapat, bahwa ada beberapa peristiwa matahari  di langit ( astronomis) yg sering di lupakan ahli hisab, sehingga mempengaruhi ketelitian hitungan. Yaitu ketika beberapa kali matahari ditahan gerakannya beberapa saat, antara lain karena nabi Dawud belum sempat shalat asar, ketika kafilah yg dijanjikan oleh nabi setelah Isro,akan datang masuk Makkah sebelum terbenam pada Rabu sore ,tetapi sampai cukup gelap belum juga muncul maka matahari ditahan beberapa saat sampai kafilah dari Syam itu muncul di ufuk. Cerita ini yang setelah dewasa menggelitik saya untuk menduga bahwa pada saat itu bukan matahari ditahan gerakannya, tetapi ada gerhana menjelang senja, sehingga kelihatannya sudah gelap terang lagi baru kemudian gelap yg sesungguhnya karena matahari sudah betul betul tenggelam.

Bapak KH Kusmen

Beliau adalah guruku di madrasah Salafiyah Wonoyoso. Seharusnya yang mengajar adalah Bpk KH Mahfudz Kebadongan, tetapi waktu itu beliau sedang pergi haji (laut) yang hampir menghabiskan waktu satu semester, jadi pengampu pelajaran itu digantikan oleh Bpk Kusmen sebagai badalnya. Kami menggunakan buku wajib Durusul falakiyah, dan ketika belajar dengan rubu’ sampai kepada menghitung nishfu qaushinnahar yang menurut saya hampir sama dengan menghitung asal mutlaq untuk apa dilakukan dua kali  sekali bernama nisful fudlah, sekali bernama asal mutlaq, maka beliau bingung menjelaskannya, dan sejak saat itu beliau tidak pernah masuk lagi. Saya baru sadar, bahwa saya telah suul adab, dan kemudian baru sadar, bahwa asal mutlaq diperlukan untuk menghitung  nisful fudlah, berhubung  rubu, sebagai alat mencari fungsi fungsi goneometri, tidak bisa mencari tangen dan kotangen secara praktis, sehingga untuk mencari tangens harus mencari sinus dulu (jaibul qous) dan cosinus(jaibu tamamil qous) baru bisa mencari tangen(zhil)nya. Pak Kusmen adalah kiyai dari desa Kembaran, menantu dari K Sukhyat Kembaran Kebumen,Kiyai Sukhyat adalah teman Bapak saya dimasa mudanya.

 Drs Abd rahim.

Beliau adalah guru utama saya, sejak saya kuliah di IAIN dan beliau masih berstatus astistennya Pak Jambek sampai beberapa tahun sebelum meninggal. Hampir semua pengetahuan saya tentang ilmu falak saya peroleh atau saya tashihkan kepada beliau. Hanya ada beberapa hal lain yang saya peroleh langsung dari Pak Saadudin Jambek.

Beberapa hal yang mengesankan saya

Ketika saya mencoba mengotak atik rumus penghitungan waktu sholat dgn rubu’ untuk kita pindahkan menjadi rumus seperti pelajaran yang saya terima di IAIN, dan setelah beberapa kali keliru dan akhirnya selesai ternyata rumusnya menjadi persis dgn rumus Cosinus pada penghitungan waktu sholat modern, saya laporkan kepada beliau beliau jawabnya ringan sekali, “Memang begitu”, lalu beliau mencoret coret kertas sambil menerangkan proses penghitungan dgn rubu’ dan hasil coretannya ternyata sama dengan yang seharian saya kerjakan sendirian. Perasaan saya campur aduk, antara kagum, senang dan puas.

Skripsi saya beliau pembimbingnya, judulnya Pengaruh Perbedaan Mathla’ Terhadap Penentuan Awal dan Akhir Romadhon Menurut Syariat Islam. Oleh karena itu saya sangat intensif berinteraksi dengan beliau. Setelah selesai ujian dan di Wisuda tingkat fakultas (waktu itu istilahnya Yudisium) dan saya pamit kepada beliau, beliau berpesan dengan serius “Aku restui ilmumu semoga bermanfaat di Masyarakat”. Saya merasa seperti  mendapat ijazah model pesantren. Saya yakin bahwa beliau juga sedang berbuat seperti yang saya rasakan, karena  Pak Rahim adalah orang Madura yang sangat akrab dengan dunia dan budaya pesantren.

Akhir tahun 1974, sebagai calon pramugara haji musiman, ketika minta restu beliau agar bisa melaksanakan tugas dengan baik dan sekaligus dapat menunuaikan ibadah haji,beliau berpesan agar di Saudi Arabia saya menyempatkan diri untuk memperhatikan mayang korma yang tua (‘urjunil qadhim) , karena itulah sinyalemen al Quran terhadap bentuk bulan baru (hilal) yang muncul sesudah bulan mati /konjungsi/ ijtima’. Waktu itu saya sempat mencoba memperhatikannya, tetapi tidak punya kesan apa apa, tetapi beberapa puluh tahun kemudian ternyata telah mengilhami tulisan saya yang berjudul “Kenapa bulan sabit ?”

Pada waktu waktu berikutnya, setelah kami tidak lagi belajar di IAIN, setiap ada kesempatan saya bertemu dengan beliau selalu ada saja yang beliau ajarkan kepada saya, termasuk cara mwenghitung hisab dengan sistym New Comb, Jean Meus maupun ijtima’ hakiki tulisan Bapak KRT Wardan Diponingrat. Dengan Bapak K Wardan ini, saya punya kenangan sendiri, dimana ketika saya ke rumah beliau untuk pinjam Almanak Nautika untuk menyusun skripsi , dengan ramah beliau menerima saya di rumahnya, dan sempat terloncat curhat beliau  kurang lebih begini : Pak Jambek senang, punya banyak kader, saya sedih karena belum juga punya kader yang mengembangkan ilmu  saya. Saya nggak tahu, apakah beliau curhat betul, atau sekedar sikap tawadlu’ ciri khas ulama senior.

Nurwahid Darus.

Beliau adalah senior saya, walau akhirnya Sarjana mudanya bareng. Dia bukan dosen dan bukan Kyai, tetapi tentor mata kuliah ilmu falak pada tenteer yang diadakan oleh PMII. Saya yang pendidikan menengahnya dari madrasah swasta  sangat buta dengan segitiga goneometri, dan istilah2 sinus, cosinus tangent secan dll. Sehingga di IAIN merasa berat menerima pelajaran ilmu falak.  Mas Nurwahid, yg punya latar belakang sekolah dari STM, dapat menjelaskan dgn sangat jelas tentang hal hal itu terutama istilah istilah proyektum,proyeksi dan proyektor yang nanti dihubungkan dengan asal usul munculnya istilah sinus, cosinus dlsb., sehingga  selanjutnya tidak canggung lagi menghadapi istilah2 tersebut.

Untuk sementara ini saja dulu kenangan saya terhadap guru guru saya, biarlah disambung pada tulisan berikutnya.

Yogyakarta,20 April 2011

Manshur Mu,thi A Kafy

Pos ini dipublikasikan di kapita selekta, Somalangu tanah kelahiranku. Tandai permalink.

9 Balasan ke Guru Guruku Dalam Ilmu Falak (1)

  1. Ping balik: Guru Guruku Dalam Ilmu Falak (2) | Manshur Mu'thy A Kafy

  2. wah saya semakin kagum dengan kemampuan ilfu falak pak kyai mu’ti,..say secara pribadi melalui koment ini mengajukan diri menjadi murid panjenengan,..insyaalloh kalau pas ke semarang atau ke purwokerto mau silaturahim n belajar ilmu falak..pak yai ketika masih kelas satu aliyah saya pernah diajari oleh kyai saya tentang hitungan abajadun..atau aboge..tapi tulisannya tertinggal di ktab jurumiyah sy ketika nyantri di madura n kitabnya itu hilang,..hehhee

  3. ahmad noor sholikhin berkata:

    apakah saudara punya bencet buatan kh mahfudz

  4. Wisnu Hidayat berkata:

    Apakah tanggapan anda dengan kitab2 seperti Abu Masyar Alfalaky, Saatu syam Saatu Qomar ? Saya melihat beberapa referensi lagi ada buku2 dari luar seperti terbitan universitas di california yg berjudul Islamic Asthrology, pertanyaan saya apa pandangan anda terhadap hal ini yg berkenaan dg astrologi ??

    • Manshur Alkaf berkata:

      Saya tidak pernah mempelajari atau tertarik dgn astrologi, bagi saya astrologi islam adalah tidak ada. Mungkin ada astrologi yg populer di sebagian komunitas Muslim. Itupun saya juga tidak tahu.

  5. asslmkm.pak saya agus ramadhan asli kebumen dulu tinggal di surabaya skrang tinggal di gunungpati semarang…sya pingin ngundang bapak jadi pembicara dialog interaktif di pesantren mahasiswa tempat saya mengabdi.

  6. ini no hp saya pak yai..085741187800

  7. tema dialog interaktifnya seputar tentang ilmu falak…kulo tenggo pak yai infonya..saged langsung ngebel teng no hp im3 kulo pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s