Mengapa besar lingkaran adalah 360˚

Saya pernah merenung, kenapa bulatan itu besarnya disepakati 360˚ saja, tidak 400˚ misalnya yang tentu  lebih praktis karena  kalau seperempatnya kan menjadi 100˚ Seperempat lingkaran, atau sudut siku siku sangat berperanan dalam dunia ilmu ukur termasuk ilmu falak,  lebih enak dan mudah mengingatnya.Sekitar tahun 1984 atau tahun 1985, ketika saya mengikuti pelatihan hisab rukyat Departemen Agama di Tugu Bogor, secara sambil lalu saya tanyakan hal itu kepada  KH Tangsoban, ahli falak yg cukup malang melintang di BHR pusat. Saya kira beliau akan menjawab hal itu disesuaikan lama revolusi bumi satu kali mengitari matahari sekitar 360 hari (365.2425 hari). Diluar dugaan beliau menjawab, bahwa hal tersebut terdapat didalam Al Quran. Beliau menyebut satu kalimat yang setelah saya cari ketemu di surat Al Ghafir ayat 15 yang diawali dengan kata kata rofi’uddarajat. Dari kata kata itu sesuai petunjuk beliau saya hitung harganya menurut kaidah ilmu falak ; ra = 200, fa = 80 ya= 10 ‘ain = 70, jumlahnya persis 360. sehingga kalimat rafi’uddarajat, bisa berarti 360 darojat. Sungguh othak athik gathuk yang saya tidak menduga sebelumnya.

Pos ini dipublikasikan di anekdot. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s