Pemikiran Syeikh Nawawi Banten tentang Arah Kiblat. *)

Pendahuluan.

Dalam sebuah silaturrahim antara Prof Abdurahman ( hakim Agung ) dan Prof Tihami (Rektor IAINMaulana hasanudin) di Serang, saya berkesempatan untuk ikut hadir dan mendengarkan percakapan mereka tentang Syeikh Nawawi Banten Allahu yarham. Saya sangat tertarik ketika percakapan mereka sampai ke sebuah topic dimana syeikh Nawawi juga punya konsep tentang bagaimana cara menentukan arah kiblat  untuk masyarakat Banten pada khususnya dan Pulau Jawa pada umumnya. Hal tersebut terdapat pada kitab beliau yang berjudul Muraqil ‘ubudiyah hal 44 dan d5. Kata beliau kitab itu ada yang dicetak di Timur Tengah dan ada pula yang di cetak di Jawa. Walau isinya sama, tetapi dari segi artistic memang ada perbedaannya. Sebagai pencinta ilmu falak saya sangat tertarik, kemudian saya membelinya dan di Serang sangat mudah mencarinya.(Ketika kemudian saya melihat kitab itu di Purwokerto, ternyata berbeda, syarah kitab itu di Purwokerto isinya adalah Bidayatul hidayah, dan tidak ada  kaitannya dengan penentuan arah kiblat.) Setelah saya  baca dan pahami  , maka saya ingin coba rangkum isinya  sebagai berikut.

 

Beberapa pandangan beliau tentang arah kiblat.

  1. Shalat wajib menghadap kearah ‘ainul ka’bah, secara yakin bagi yang dekat dari ka’bah, dan secara dzanni bagi yang jauh darinya
  2. Dimaksud dengan arah kiblat adalah arah yang didapati dari prinsip qa’dah mutsalats, atau segitiga sama sisi dimana salah satu sudutnya adalah wajah musholli, dan sudut lainnya adalah dua buah titik di ufuk, dan ditengah tengah dua titik diufuk itulah  arah ka’bah yang sebenarnya
  3. Dimaksud dengan ka’bah disini bukan bangunan fisiknya, tetapi azimuthnya, termasuk tanah dibawahnya dan udara diatasnya , sampai bumi dan langit yang tujuh.
  4. Untuk Banten, sudutnya adalah 26º ke utara dari arah barat
  5. Cara sederhana menentukan arah kiblat adalah sbb.

a.       buat garis dari barat ketimur se olah olah sebagai garis katulistiwa

b.      letakkan diatas garis tersebut 64 koin berjajar dari timur kebarat. Angka ini adalah selisih bujur Banten dan bujur Makkah

c.       pada ujung koin paling barat letakkan berderet keutara 21 koin (21 adalah bilang lintang Makkah)

d.      Pada ujung koin paling timur letakkan berderet ke selatan  6 koin ( 6 adalah lintang selatan Banten)

e.       Tarik dari ujung selatan koin yang enam ke arah ujung utara koin yang 21, itulah garis arah kiblat.

Komentar.

 

Point 1 isinya murni fiqih sehingga saya tidak akan membahasnya, tetapi nampaknya beliau ingin mengambil pendapat yang tengah tengah, dan tidak terlalu menyulitkan bagi rakyat awam.

 

Point 2 yang dengan memperluas sudut arah kiblat secara dzonni sebesar sudut  segi tiga sama sisi yakni 60 derajat, berakibat adanya toleransi penyimpangan sampai 30 derajat ke kiri  maupun ke kanan ,mungkin disini beliau ingin menjelaskan maksud dari jihad ka’bah, atau ainul ka’bah secara dzonni. Alasanya cukup rasional .  Yang wajib menghadap Ka’bah adalah wajah seorang musholli ( Al Baqarah Ayat  144 ) , sedang wajah bukanlah bagian tubuh yang rata, tetapi bidang yang melengkung, karena pipi kiri maupun kanan, dan bagian pinggir dahi, tidaklah se arah dengan bagian tengah dahi maupun hidung (yang kesemuanya adalah bagian dari wajah). Dengan demikian dengan toleransi 30 º ke kiri ataupun kekanan berarti masih ada bagian wajah kita yang menghadap kea rah ka’abah . Misalnya, disuatu tempat arah kiblat secara tepat adalah azimuth 296 º (  26 º dari barat ke utara). Kalau kita berdiri menghadap ke barat lurus, maka bagian pinggir wajah kita (pinggir pipi Kanan) masih menghadap kea rah azimuth 300 derajat ( 30 derajat dari barat arah ke utara). Berarti tentu ada bagian wajah yang mengarah ke Azimuth 296 Derajat. Ini bisa dianggap sebagai jihad ka’bah atau ainul ka’bah secara dzonni.

 

Point   3 yang mengatakan bahwa dimaksud ainul ka’bah adalah azimuthnya, ini juga sangat rasional, karena kalau kita berada di lantai atas hotel di sekitar masjidil haram saja, dengan berdiri tegak kita tidak lagi menghadap ka’bah, tetapi menghadap ke udara diatas ka’bah. Kelihatannya seperti debat kusir, tetapi untuk jarak jauh  dibumi , misalnya dari Madinatunnabi , kalau kita berdiri tegak kita hanya dapat menghadap ke azimuth ka’bah. Dengan berdiri tegak arah lurus horizontal di Madinah, sampai ke Makkah tentu sudah berada jauh diatas ka’bah. Ini terjadi karena permukaan kulit bumi yang melengkung berhubung bentuk bumi yg bulat laksana bola raksasa.  Bapak Sa’aduddin Jambek dulu pernah berpendapat, bahwa arah kiblat bagi musholli yang ada di angkasa (planet bulan misalnya) adalah azimuth bumi . Pendapat ini saya kira parallel dengan pendapat Syekh Nawawi tadi, karena ketika bumi tampak tinggal sebuah titik , maka Ka’bah hanya merupakan sebuah titik yang berimpit dengan bumi yang juga hanya tampak seperti sebuah titik juga. Sehingga, menghadap azimuth bumi sama dengan menghadap bumi, dan menghadap bumi sama juga menghadap Ka’bah yang ada dalam bumi itu.

 

Point 4 Arah Kiblat sebesar 26 º dari barat arah ke utara atau 64 dari utara arah kebarat adalah hitungan kasar untuk daerah Banten, yang mungkin bisa juga bagi seluruh Jawa, ini adalah konsekwensi kalau kita menghitung memakai system beliau sebagaimana terdapat dalam point 5

 

Point 5 hitungannya sangat kasar. Untuk saat ini ada dua hali yang perlu diperbaiki yaitu  :

1.      Pengambilan data pada poin  5 huruf c dan d yaitu  21º, 66 º dan 6 º adalah lambang dari jumlah derajat dari lintang Makkah, lintang Banten (Serang)dan  selisih antara bujur Banten (Serang) dan bujur Makkah. Setelah saya coba menghitungnya dengan system tersebut, hasilnya adalah 24 º 08’52”.  Untuk saat ini sudah diketahui secara lebih detil, bahwa lintang Banten bukan 6 º lintang selatan, tetapi 6 º 08’, lintang makkah bukan  21 º  lintang utara, tetai 21 º25’, sedang selisih bujur bukan 66 º, tetapi 66 º19’.Dengan data yang lebih akurat, maka hasilnya tentu lebih teliti. Dan ketika saya coba dengan data tersebut, hasilnya adalah 24 º32’47”

2.      Perhitungan menurut Syeikh Nawawi, masih dilandaskan pada anggapan bahwa  bumi itu datar bagai tikar yang terhampar, sehingga perhitungan dilakukan dengan rumus “tangens” pada segitiga bidang datar, padahal kenyataan  bumi bulat, sehingga perhitungan haruslah didasarkan pada rumus rumus goneometri. Untuk sekarang dari data tersebut diatas kalau dihitung dengn rumus terakhir ini didapatkan hasil  25 º 18’. Tidak terlalu besar memang hanya selisih sekitar 1 º 08’ apalagi kalau dikaitkan dengan poin 2 yang mengenal toleransi sampai dengan 30 º.

 

Bahwa oleh karena itu untuk kepentingan praktis maka perhitungan sederhana inicukuplah memadai, lebih lebih bila koin sebagaimana dimaksud Oleh Syeikh Nawawi ,diganti dengan hitungan sentimeter, desimeter atau bilangan tegel di masjid, sungguh sangat praktis. Untuk hal ini saja saya harus angkat topi atas penemuannya itu, padahal itu hanya sebuah pemikiran kecil beliau yang tertulis dalam salah satu dari sekian kitab kitabnya. Sayang saya belum pernah jadi murid  beliau langsung atau tidak langsung ,dan selama 3,5 tahun di Banten juga belum pernah berjumpa dengan keturunannya, tetapi kalau salah seorang cucunya, sewaktu kecil saya pernah melihatnya, yaitu yang biasa disebut oleh Bapak saya (KH Mu’thi bin KH Abd kafi Tsani) dengan “Ibu Kaltsum”,isteri kepala desa  Tersobo Kebumen, ketika beliau silaturahmi kerumah Bapak sekitar tahun 1955. Beliau pernah mengajari keluarga kami doa mohon dipelihara kesehatan penglihatan dan pendengaran kita Itupun kalau saya tidak salah ingat. Wallahu a’lam

 

Purwokerto, 20 Pebruari 2011.

 

 

 

*) Di tulis oleh Manshur Mu’thi A kafi, sebagai kenagnan selama tiga setengah tahun mengabdi di PTA Banten

Pos ini dipublikasikan di kapita selekta. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s