KENAPA BULAN SABIT ?

Dalam Al Quran, Bulan sebagai benda langit diformulasikan dalam kata Qomar dan ahillah. Kata Qomar dengan Syamsun( matahari) merupakan dua ayat ayat Tuhan yang dapat digunakan sebagai acuan berbagai perhitungan dan perhitungan tahun. Bulan ketika dikaitkan dengan waktu waktu ibadah Al Qur’an menggunakan istilah ahillah (jama’ dari hilal) .Hilal sendiri di masyarakat Arab dipergunakan untuk menamai bulan pada dua hari pertama dan dua hari terakhir tiap bulan yang bentuknya nyaris sama, hanya bedanya di awal bulan hilal muncul disebelah barat pada sore hari dan pada akhir bulan mencul dini hari di arah timur.
Bulan sendiri di masyarakat Arab ditinjau dari bentuk cahayanya yang tampak dari bumi mempunyai nama yang ber beda beda, tiga hari sekali berganti nama. Ini dapat dilihat di tafsir Al Qurtubi ysng menyebutkan nama nama bulan dari tiga hari pertema bernama gurrah lalu berturut turut setiap 3 hari sekali yaitu . ghurur,naqlu,tas’u, ‘usyr,albaidh, dzar’u,dzulmu, hanadis,daadi dan muhaq . Timbullah pertanyaan kenapa dengan hilal yang dipertanyakan masyarakat Quraisy dan al Quran menjawabnya? Dan dalam tulisan terdahulu(pernah dimuat di Badilag net) penulis mensyaratkan hilal dinyatakan wujud harus sudah berupa bulan sabit ?
Dalam al Quran hilal dinyatakan sebagai pertanda berbagai waktu bagi manusia dan pertanda ibadah haji (Al Baqarah ayat 189). Al Quran menyebut bahwa musim haji adalah beberapa bulan yang telah diketahui ( Al Baqarah 197), dan masyarakatpun tahu bahwa musim haji adalah bulan bulan Syawwal, Dzul Qa’dah dan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Al Quran juga menyebutkan bahwa ibadah shiyam wajib dilakukan pada bulan Ramadhan ( Al Baqarah 185). Dengan demikian bulan bulan Ramadhan, Syawwal, Dzul Qa’dah dan Dzulhijjah hendaklah selalu berhubungan dengan hilal.
AlQuran juga menjelaskan bahwa bulan dalam beredar pada manzilah manzilahnya ( yang jumlahnya 28 ) akhirnya akan kembali ke keadaannya semula yaitu seperti urjunul qadim/ pelepah korma/mayang yang tua.(Yasin ayat 39) Dalam kenyataan secara inderawi bulan sabit seperti yang kita kenal itu memang tampak pada akhir bulan, lalu ada malam tanpa bulan ( bulan mati karena sedang ijtima atau dekat sekali dengan posisi waktu ijtima ) lalu muncul lagi di awal bulan yang lalu membesar sehingga tidak pantas lagi disebut sebagai bulan sabit.
Sampai disini memang belum jelas kaitan antara bulan sabit sebagai bulan baru yang ditandai dengan urjun qadim yakni bulan bagai mayang tua. Dalam buku tafsir lama disebutkan bahwa bulan yang baru tampak dipersamakan dengan mayang tua dalam tiga hal yaitu yaqirru, yataqawwashu dan yashfaru. Yang artinya, mengecil/meruncing, melengkung/membungkuk /membusur dan menguning . Bentuk cahaya yang kuning, kecil dan melengkung inilah ciri cahaya qomar yang dikatakan sebagai hilal. Dan gambaran inilah yang ada pada sabit, terutama melengkung dan meruncingnya, sehingga bula dalam ujudnya seperti itu dikatakan sebagai bulan sabit, sehingga tepatlah kalau hilal diterjemahkan sebagai bulan sabit , itu merupakan ciri dari bulan baru yang dalam al Quran dikatakan sebagai kal urjunil qadim. Sebelum cahaya qomar memenuhi syarat ini maka belum dapat dikatakan sebagai hilal.
Disinilah dalam tulisan terdahulu penulis berpendapat, bahwa bisa terjadi walau qomar sudah wujud belum berarti hilal sudah wujud sebelum tiga syarat terdahulu terpenuhi.yaitu mengecil/meruncing, melengkung dan menguning.
Dalam berbagai literatur memang sudah ada disebutkan, persyaratan hilal dapat dilihat adalah berjarak tujuh derajat dari matahari,yang berarti makin dekat azimuth matahari dan azimuth bulan maka ketinggian minimal bulan harus lebih besar . Hal ini adalah persyaratan untuk dapat dilihatnya hilal dengan mata, bukan persyaratan bulan sudah membentuk menjadi hilal. Tentu dapat dilakukan penelitian mungkin dengan anomasi kadar fraction illumination berapa persenkah batas minimal hilal dapat terbentuk. Walau anatara ketinggian hilal minimal untuk imkanurrukyah dan kadar minimal qamar yang bercahaya dapat membentuk hilal tidak sama, apakah hal ini dapat paralel , juga belum dilakukan penelitian. Mudah mudahan ada peneliti yang melakukan untuk mengungkap` hal ini.

Yogyakarta, 11 Maret 2010;

Manshur bin Mu’thi bin Abd kafi

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

Satu Balasan ke KENAPA BULAN SABIT ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s