Upaya penyatuan kalender Qomariyah

Pendahuluan

Usaha mempersatukan kalender Qomariyah dalam hal ini kalender hijriyah , tidaklah semudah mempersatukan kalender Syamsiyah / miladiyah, karena kalender hijriyah berhubungan dengan beberapa ritual/ibadah yang berimplikasi pada hukum haram versus wajib, seperti dalam kasus ifthor dan shiyam pada idul fitri dan sunnah versus haram pada idul adha. Oleh sebab itu perlu ada kajian lebih mendalam bukan semata mata dari aspek ilmu falak, tetapi juga dari aspek hukum fiqih dan cara melakukan istimbath hukum dari dalilnya, serta nawaitu yang ikhlas tanpa memvonis lebih dahulu bahwa pendapat sendiri telah final. Tulisan ini mencoba mengetengahkan beberapa hal yang perlu dikaji ulang dari aspek Ilmu Falak dan dari aspek metodologi Istimbath hukum

Aspek Ilmu Falak

Ada beberapa hal dalam ilmu falak yang perlu dikaji ulang yang berkaitan dengan awal bulan hijriyah yang pada saatnya perlu dicarikan kesepakatan antara lain :

1.      Istilah Qomar dan Hilal.

Qomar adalah benda langit yang merupakan satelit bumi yang ujudnya tetap, sedang Hilal adalah bagian terang dari  qomar yang terlihat dari bumi pada tiga hari pertama dan tiga hari terahir tiap bulan (bulan/Syahr disini adalah satuan waktu yang berumur 29 atau 30 hari , dan bagian dari tahun ).

2.      Tinggi hilal.

Dahulu ada dua terminology tentang tinggi hilal, yaitu
a.       Jarak dari Bulan  ke Matahari sepanjang ekliptika  saat matahari terbenam
b.       Jarak dari bulan ke ufuk sepanjang lingkaran fertikal saat matahari terbenam.

Keduanya memang mirip , karena saat matahari terbenam bulan berada diufuk, tetapi dengan adanya dekinasi dan azimuth bulan yang berbeda dan kemiringan ekliptika akibat dari lintang tempat yang berbeda , maka maka jarak itu menjadi berbeda pula. Alhamdulilah saat ini perbedaan dimaksud  sudah menuju penyatuan walau belum final

3.      Wujudul hilal. Hampir seluruh ahli Falak di Indonesia berpendapat bahwa asal saat matahari bulan sudah diatas ufuk maka hilal dinyatakan sudah wujud  Sedikit perbedaan hanya pada perlu tidaknya atau bagaimana semi diameter bulan /qomar/moon dipergunakan untuk mengkoreksi ketinggian bulan tersebut.. Tetapi disini sebenarnya ada kerancuan terhadap bulan/moon Kapan dikatakan sebagai qomar, dan kapan dikatakan sebagai hilal.  Hilal menurut terminology Al Quran adalah adalah bagian qomar yang kena sinar matahari dan menghadap ke bumi sehingga kelihatan bercahaya, kembali terlihat sesudah bulan mati dan sudah berbentuk bulan sabit seperti mayang yang tua/kal ‘urjunil qodim. Besaran bagian bulan yang bercahaya seperti itu disebut dengan nurul hilal atau friction illumination.  Dalam ilmu falak besarannya dihitung dengan persen , dengan pengertian bulan purnama adalah 100% dan bulan mati adalah 0%  Akan tetapi belum ada yang memperhitungkan kadar prosentase minimal dari friction illumination yang dapat membentuk format bulan sabit. Sebab dalam kadar yg sangat kecil cahaya tersebut tentu belum dapat membentuk bulan sabit/ ‘urjunil qodim. Ini yang belum pernah dibahas ,dan  berdasar hal itu nanti akan berbeda kapan qomar wujud dan kapan hilal wujud. Selama ini wujudul qomar selalu dikatakan sebagai wujudul hilal. .  padahal seharusnya wujudul hilal tidak identik dengan wujudul qomar. Qamar wujud asal saat matahari terbenam qomar sudah diatas ufuk, dan hilal baru dikatakan wujud kalau nurul qomar/ nurul hilal / friction illumination sudah berbentuk urjunul qadim / bulan sabit . Dengan demikian dapat terjadi qomar sudah wujud tetapi hilal belum , Disinilah perlu dicari minimal berapa persen friction illumination yang dapat membentuk bulan sabit, sehingga akan dapat diketahui kapan hilal akan wujud. Tugas berat dari ilmuwan falak untuk melakukan penelitian dan percobaan dalam hal ini.

.

4.      Tentang ‘Urjunil qadim apakah sudah tepat diterjemahkan dengan bulan sabit? Dalam buku tafsir seperti Tafsir Jalalain dan Al Qurtubi disebutkan bahwa  bulan baru yang dipersamakan dengan mayang tua (urjunulqadim) dalam tiga hal yaitu yaqirru, yataqwwasu dan yanfiru, mengecil/meruncing, melengkung/membungkuk /membusur dan menguning . Bentuk cahaya yang kuning, kecil dan melengkung inilah ciri cahaya qomar yang dikatakan sebagai hilal. Dan gambaran inilah yang ada dalam bulan sabit, sehingga tepatlah kalau hilal yang di terjemahkan sebagai bulan sabit , itu merupakan ciri dari bulan baru yang dalam al Quran dikatakan sebagai kal urjunil qadim. Sebelum cahaya qomar memenuhi syarat ini maka belum dapat dikatakan sebagai hilal. Walau mungkin sudh wujud diatas ufuk.

5.      Imkanurrukyah. Ini juga perlu dikaji lebih dalam oleh ilmuwan falak , karena selama ini pengakuan telah melihat hilal belum teruji secara nyata karena hanya didasarkan pada kepercayaan semata terhadap orang yang telah mengaku berhasil melihat hilal, belum ada bukti seperti hasil foto misalnya. Karena dengan hasil kajian yang mendalam dan empirik terhadap batas imkanurrukyah , kalau nantinya ahli fiqih memerlukannya para ilmuwan falak sudah siap saji, karena logikanya ilmuwan falak harus netral , dan yang memberi kata putus dari segi hukum adalah para ahli  hukum.

Aspek Metodologi Istimbath hukum.

Ada dua hal penting pada aspek ini, yaitu :

  1. Pemilihan sumber hukum yang lebih tepat. Surat Yunus ayat 5, Yasin 38,39 dan 40 serta surat Al Baqarah 189 menurut hemat penulis adalah ayat kauniyah yang sangat diperlukan bagi pengembangan ilmu Falak, ilmuwan falak perlu membahas kenapa pada satu saat terhadap planet bumi yang bernama bulan itu al Quran menyebutnya dengan Qomar, pada saat lainnya dengan ahillah. Sementara ahli fiqih tentu dapat membedakan kekuatan dalalahnya , karena ada yang berkaitan langsung dengan waktu ibadah, dan ada yang netral saja.
  2. Persinggungan antara dan antar ayat dan hadits dalam saling menjelaskan antara yang mutlaq, muqayyad , mujmal mubayyan dlsb, tentu tetap berpegang pada kaidah kaidah standar , bukan tanpa metode

Dengan kajian ulang terhadap hal seperti tersebut terdahulu , diharapkan akan dapat ditemukan criteria criteria baru yang disepakati baik terhadap terminologi2 ilmu falak maupun pengambilan istimbath hukum, yang pada gilirannya ditemukan criteria  yang sama untuk menetapkan tanggal satu bulan bulan Hijriyah..

Demikian sumbangan pemikiran ini dibuat mudah mudahan dapat membuka dialog iilmiah lebih lanjut bagi para pemerhati ilmu falak

Banten, Agustus 2008

HR Manshur Mu’thi A Kafy

Pos ini dipublikasikan di Falak. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s