Ziarah. Seri Pertama. (5)

Keluar untuk ziarah

Di Indonesia, Ziarah sering di asosiasikan dengan ziarah kubur, sehingga sambil gurau ketika di umumkan bahwa hari ini acaranya adalah ziarah , ada yang nyeletuk apa kita perlu membawa Buku Surat Yasin?. Disini ziarah bisa diartikan kunjungan kerja, silaturahim dan bahkan wisata. Oleh karena itu obyek ziarah bisa macam macam, demikian juga pakaian yang sebaiknya di kenakan. Ziarah ke Museum tentu pakaiannya bebas, tetapi ziarah KBRI pakaiannya ala Indonesia, sehingga kami mengenakan batik dan peci hitam. Sementara ziarah ke mall , pusat HP , grosir minyak harum tentu pakaiannya lebih bebas lagi.

Pada kesempatan ini yang akan saya tulis sedikit yang saya dapat tentang berbagai ziarah dalam arti jalan jalan santai dan berbau rekreatif. Saya termasuk miskin dalam hal ini, karena saya termasuk pemalas dan sebagai nomor urut tertua yang ada dalam kelompok ini, perlu juga ”jaga kondisi/kesehatan fisik”. Apalagi kalau seperti kemarin ada kunjungan kerja, sekitar pukul 11 siang, suhu cukup panas 45 derajat selsius. Namun sekali sekali pernah juga saya jalan jalan bareng teman2.

Lanjut membaca

Ditulis pada Somalangu tanah kelahiranku | Tinggalkan Komentar

Rashadul Ka’bah Di Riyadh. (4)

Beberapa bulan yang lalu saya punya rencana ingin ‘umrah, setelah pilih pilih tanggal, saya mendapatkan tanggal yang cukup baik, yaitu program ‘umrah sebelas hari, berangkat tanggal 18 Mei 2012,  pulang tanggal 29 mei. Saya katakan tanggal yang baik, karena hari itu adalah harpitnas, alias cuti bersama, sehingga saya dapat 4 hari libur termasuk Sabtu dan Ahad, dan minggu berikutnya ada dua hari libur lagi yaitu Sabtu dan Ahad, maka saya tinggal memerlukan 7 hari untuk cuti, pas sesuai jatah cuti tahun ini

Disamping itu , tanggal   28 Mei, satu hari sebelum hari terakhir perjalanan ‘umrah adalah hari rashdul ka’bah untuk seluruh dunia, karena pada hari itu matahari melintas persis diatas ka’bah, sehingga pada saat itu di belahan bumi yang sedang mengalami siang hari , bila menghadap matahari otomatis juga mengahadap ka’bah (azimuthnya). Hari yang cukup istimewa bagi para pendemen/pemerhati ilmu falak.

Oleh karena itu saya pernah curhat di fb, betapa senangnya kalau di saat matahari melintasi ka’bah saya dapat mengamatinya dari Hijir Ismail. Ada beberapa teman yang merespon curhat saya ini dengan positip.

Mujur tak dapat di raih malang tak dapat di tolak

Tadinya persiapan untuk umrah, jadnya persiapan lat ek syariah + umrah Insya Allah

Setelah persiapan untuk ‘umrah bersama keluarga siap semua termasuk suntik meningitis , paspor pun sudah saya sampaikan kepada biro perjalanan penyelenggara ‘umrah, dan tinggal menunggu perhitungan biaya keberangkatan dari Purwokerto ke Semarang karena waktu masih setengah bulan lagi, tiba tiba ada perintah dari Badilag MARI, bahwa saya harus segera menyerahkan kembali Paspor untuk segera di kirim ke Kedutaan Besar Saudi Arabia di Jakarta guna segera diurus visanya di tiket pesawat terbang ke Riyadh untuk mengikuti pelatihan ekonomi Syari’ah di Jamiah Imam di sana.Terpaksa dengan kalang kabut kami mengcensel perjalanan ‘umrah beserta keluarga, dan mengutamakan kepentingan dinas yang insya Allah ada program ‘umrahnya juga walau tidak tepat pada hari rashdul ka’bah. Kalaupun tidak bisa mengamati rashdul ka’bah dari Hijir Ismail, mudah2an dapat melakukannya dari Riyadh. Karena itu saya tetap menyiapkan kompas dan GPS yang saya pinjam dari BHR/Kemenag Kab Banyumas.

Mencari batery untuk mengisi GPS

Dari GPS saya dapat peroleh data bahwa untuk Riyadh ( mabna tempat saya tinggal) kordinatnya adalah sebagai berikut : Lintang utara 24° 49: bujur timur :46 42

Dari data itu dengan menggunakan data ephemeris di ketahui bahwa arah kiblatnya adalah  -63° 05’ atau 243° 05’ sementara  awal dzuhur  pada hari Senin 28 Mei 2012 pukul 11 53 sedang di Makkah matahari berkulminasi pada pukul 12 20 , atau 27 menit  kemudi an.  Menurut kompas yang ada di GPS, tampak jelas bahwa jarum menunjukkan ke angka 30° kurang sedikit, kalau di lihat dari barat arah keselatan, sehingga kalau itu dapat diartikan sebagai 26°55’ menit dapat dikatakan tepat. Ketika saya gunakan kompas untuk mengukur arah kiblat di dalam masjid, rasanya mrnjadi sedikit berbeda, jarum kompas disana menunjukkan angka 238°, yang kalau dihitung dari barat menjadi 32° , padahal seharusnya hanya hanya 26°55’ menit saja selisih yng dalam kompas tampak jelas sekali.

Hasil pencarian GPS disamping masjid

Oleh karena itu saya penasaran , sehingga pada hari Senin tanggal 28 Mei ini saya mencoba melihat bayang pada pukul 12 20, saat matahari persis melintasi ka’bah. Untuk itu karena mendesaknya waktu saya memilih tidak melakukan shalat ba’diyah seusai shalat Zhuhur langsung mencoba mencari bayang bayang matahari. Dari beberapa tiang bangunan yang ada di pinggir masjid dan sekitarnya, saya lihat seluruh bayang bayangnya telah lurus ke arah kiblat persis.

Penelitian saya ini sungguh tidak Valid, karena tiang2 yang ada tidak saya ukur lagi apakah benar berdiri tegak vertical terhadap alasnya yang betul betul datar, dan juga bayang bayang yg terjadi pada 27 menit setelah matahari berkulminasi masih terlalu pendek untuk digunakan sebagai bahan penelitian. Tetapi saya masih lebih percaya terhadap bayang bayang yang tidak hanya satu buah , dibanding kompas yang kita ketahui memang harus dikoreksi kalau akan mengetahui utara sejati sebagai acuan untuk menentukan azimuth arah kiblat.

Saya merasa sedikit puas karena tidak lupa melakukan pengamatan ini, sekedar obat kecewa karena belum juga sempat mengamati matahari berkulminasi diatas ka’bah dari Hijir Ismail, tetapi masih tetap berharap bisa melakukannya di bulan Ramadhan nanti saat ‘umrah beserta keluarga, insya Allah dan mudah mudahan. Sementara pada ‘umrah di akhir pelatihan ekonomi syar’iyah ini saya ingin dapat mengukur kordinat masjid nabawi , Quba maupun kiblatian, serta arah kiblatnya , dengan GPS dan kompas saja. Sekali lagi Insya Allah dan mudah mudahan.

Riyadh , Selasa 29 Mei 2012.

HR Manshur bin Mu’thy Abd Hayyi bin Abd Kafy

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Shalat Jamaah Di Riyadh (3)

Masjid dilihat dari barat laut

Baru beberapa hari berada di Masjid para thullab di Jami’ah Imam di Riyadh, saya  menemukan beberapa kebiasaan yang tidak sama dengan kebiasaan shalat di Makkah maupun Madinah, selama kami beberapa kali disana waktu berhaji maupun Umrah

Lanjut membaca

Ditulis pada Somalangu tanah kelahiranku | Tinggalkan Komentar

Setelah Semua Tertata (2)

Menuju HongkongSejak awal memang terasa semua sangat tergesa gesa. Sejak konfirmasi pertama bahwa kami jadi di berangkatkan, Rabu tgl 2 Mei 2012 menjelang Asar beritanya sangat simpang siur. Pemberitahuan  hanya lisan dari mas Makhrus dan Mas Wahyu Setiawan, Staf di Badilag, dan disusul dengan facebook . Awalnya diinformasikan bahwa kegiatan akan dimulai pada Sabtu 12 Mei 2012. Pengumuman resmi baru kamis sore 10 Mei, dimana kebanyakan peserta sudah nekad pulang kampung untuk melakukan persiapan.

Kami para peserta baru bisa kumpul dan mendapat pembekalan dari Bapak Tuada dan Bapak Dirjen pada Ahad malam di Hotel Cemara tgl 13 Mei, dimana dini hari esoknya pukul 3 WIB ,17 diantaranya sudah harus menuju Bandara untuk terbang ke Riyadh lewat Hongkong.

Di Hongkong bada shalat Dzuhur dan AsarBegitu juga di Riyadh. Rombongan terakhir baru tiba Selasa malam Rabu sekitar pukul sepuluh malam, dan baru bisa beristrahat sekitar jam 12 waktu Saudi, atau pukul 04 00 WIB, yang berarti lebih dari dua puluh empat jam barada dalam perjalanan. Jam tiga lewat sudah harus bangun, karena  subuh disana sekitar pukul setengah empat. Pagi harinya acara dimulai pukul 8 00 SAS.Walau kita disambut dengan megah, di tempatkan di ruangan bundar laksana ruang Banggar di DPR, dengan pakaian lengkap dan tempat duduk kami di tandai dengan tulisan  “Fadhilatusy Syaikh”, tetapi saya tidak bisa menikmatinya, karena hati belum tertata.

Pimpinan rombongan di Jakarta yang masih belum lengkap, pada hari libur  Kamis dan Jumah baru dapat dilengkapi. Hari Sabtu dari Jami’ah telah di edarkan dua jadwal. Pertama jadwal kuliah selama 4 minggu di salah satu ruang di Ma’had Ali lil qadha, dan yang kedua jadwal mukhadharah masai di Nadi Thulab di dekat tempat kami semua tinggal, tiap Sabtu, Senin dan Rabu malam, ba’dal magrib. Setiap Selasa ada acara Ziarah, dan yang pertama adalah ziarah ke Mahkamah Idary/Wilayatul mazdalim atau semacam PTUN di Indonesia.

Gedung Mahkamah Idari (PTUN) dari sampingSampai awal minggu kedua ini, materi yang telah kami terima antara lain tentang Shiyaghah wa tasbibul ahkam,  Attahkim, An Nawazil  fi fiqhil usrah, Almadkhal ilal anzhimah, Nizdamul murafa’at, Al qadha idari, Al mu’amalah al mashrafiyyah.dan Alamu’amalah al mashrafiyah. Diantara materi tersebut ada yg sudah selesai di mukhadharahkan, dan ada yang masih akan di sambung  lagi.Disamping itu masih ada juga beberapa materi yang baru akan di mukhadharahkan pada sesi berikutnya.

Kami para peserta pun  segera memperjelas tugas masing masing. , diantaranya adalah dibentuknya kelompok belajar yg masing masing akan melakukan kajian khusus dan menyusun khulashah dari tiap tiap mukhadharah  yang nantinya akan menjadi bagian dari laporan yang tim penyusunnya telah dibentuk pula. Juga tim penyerasi akhir. Ada juga bank foto, yang dikumpulkan oleh salah satu kawan yang ditunjuk.

Dengan demikian kegiatan kami sudah cukup jelas dan terarah. Saya angkat topi kepada teman teman yang masih muda yang semangat dan kemampuannya cukup tinggi, sementara kami yang sudah terhitung tua juga tidak mau ketinggalan karena untuk kali ini kegiatan perkuliahan tidak lagi menggunakan juru bahasa.

Kegiatan kami saat ini sudah teratur dan jelas. Seusai shalat subuh, kongkow kongkow sebentar sambil minum Syahi halab di tempat istirahat di mabna masing masing. Pukul 06 45 menuju shalatuth tha’am untuk sarapan pagi, jalan kaki sekitar 400 meter. 07 30  siap di parkiran di bawah math’am menunggu jemputan menuju tempat kuliah. Kuliah sampai pukul 11 30, dengan jeda brik di tengah tengahnya 30 menit. Tidak dapat dikatakan sebagai copy break, karena pilihannya bukan sekedar kopi atau teh, tetapi juga beberapa jus dan air putih. Sementara snacknya lebih variatif, termasuk ada juga buah buahan disitu. Pukul 11 30 dengan menggunakan bis  pulang menuju Mabna, ganti baju lalu shalat zhuhur. Dari masjid kembali jalan kaki menuju shalatuth tha’am untuk makan siang.

MakanIstirahat siang berlangsung sampai adzan Asar (sekitar setengah empat). Ba’da shalat asar sebagaian besar dari kami menuju Nadi thulab (semacam gedung serbaguna) disana ada Nadi.net , fasilitas berinternet secara gratis. Disana tampaknya FB sulit di akses, kalau kadang kadang berhasil membuka FB cukup senang juga, tetapi sayangnya pada saat itu teman teman di Indonesia sudah tidak begitu ramai karena di Indoneisa sudah agak malam.

Ba’da Maghrib kegiatannya adalah mengikuti Muhadharah masai. Makan malam bila tidak ada Mukhadarah di lakukan ba’da Magrib, dan bila ada mukhadharah, di lakukan ba’da Isya.

Kapan acara santainya ? Tentu di sela sela kegiatan tersebut. Lebih lebih sekarang oleh Jami’ah  telah di sediakan sopir orang Indonesia, satu diantaranya  di antaranya Pak Herman dari Mergasari Brebes. Lumayan wonge dewek, bisa dijak rembugan bab mendoan.

Hari Kamis 24 Mei kemarin kami rekreasi ke sebuah Musium yang didekatnya ada pusat belanja minyak harum, Jumatnya Shalat jumat di Ar Rajhi, konon masjid terbesar di Riyadh. Tentang ziarah ceritanya ada di kesempatan lain.

Yang masih kami tunggu tunggu adalah kapan kami berkesempatan untuk menunaikan ibadah umrah, konon ada pada akhir kegiatan nanti. Mudah mudahan.

Riyadh 27 Mei 2012.

Ditulis pada Somalangu tanah kelahiranku | Tinggalkan Komentar

Kritik Terhadap “Hisab Modern”.

Saya pernah bertanya kepada beberapa ahli falak, tentang perlu tidaknya menjadikan semi diameter (s.d) bulan sebagai salah satu unsur pengkoreksi ketinggian hilal (bulan baru). Jawabnya ber beda beda. Kepada saya juga ada beberapa teman yang menanyakan hal itu, dan kepada mereka saya jawab sesuai pendapat orang yang berbeda beda itu.

Disamping itu, sekitar tahun 1980/1981 saya pernah menjadi mustami’ dalam sebuah seminar kecil2an yg diselenggarakan oleh Ditbinbapera/BHR? , yang waktu itu hasilnya dirumuskan kalau tidak salah oleh Pak Darsa (dulu dari BMG) pak Wahyu ( sekarang Dirjen Badilag Mahkamah Agung) dan Pak Rahim (Almarhum Drs Abd Rahim tokoh Falak kita) yaitu rumus koreksi hilal berdasar semi diameter bulan.

Lanjut membaca

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Melengkapi Jadwal Waktu Shalat, Menurut Syeikh Zakaria Al Anshary

Untuk bahan pengajian fiqih yang harus saya isi setiap Ahad Pon, saya mencoba membuka kitab Fathul Wahab syarakh Minhajuth thullab karya Zakaria al Anshari bab waktu waktu shalat. Setelah saya cermati tiba tiba saya tertarik pada dua hal :
1. Pada setiap waktu shalat ada pembagian waktu menjadi waktu fadhilah, ikhtiyar, jawaz bila karahati, jawaz bilkarahah dan sebagainya, yang rasa rasanya luput dari perhatian ahli falak, padahal bisa dilakukan.
2. Pada pembahasan syafak (al ahmar) yg diubah dari kalimat aslinya (asysyafak) berbentuk isim ma’rifat ( dengan alif lam) dan ada qayidnya yaitu al ahmar menjadi nakirah (tanpa alif lam) dan tanpa qayyid al ahmar. Sehingga, akhir waktu maghrib, ditandai dgn hilangnya syafak keseluruhan , yakni syafak ahmar/mega merah, dan dua syafak sesudahnya, yaitu syafak asfar/mega kuning dan syafak abyadh/mega putih. Ini menjadi menarik bila dikaitkan dengan waktu subuh yang situasi langitnya juga ada tiga tahap setelah fajar sidik, yaitu adanya proses langit menguning (ishfar) sebagai akhir waktu ikjhtiyar, dan proses langit memerah (ihmirar) yaitu langit memerah, sebagai akhir dari tahap waktu jawaz bila karahah.
Disini saya akan coba membahasnya sebagai berikut :
Lanjut membaca

Ditulis pada Falak | Tinggalkan Komentar

Terkesima (Belajar Ngotak Atik)

Salah satu tulisan saya mendapat komentar yg mengatakan bahwa si pekomentar merasa terkesima ketika dibagian akhir tulisan saya tiba tiba berbelok arah. Terhadap komentar itu saya jadi ikut terkesima dalam dua hal.
Pertama karena saya tidak menyangka, bahwa anak kalimat pendek dan terselip dibagian akhir tulisan kami yang berjudul Mencari Arah barat di “Muzdalifah” sempat juga dibaca dan mendapat perhatian serta menyebabkan pembacanya terkesima.
Kedua saya tiba tiba menemukan satu kalimat yg tepat untuk mengungkapkan perasaan yang beberapa kali saya alami sepanjang saya belajar ilmu hisab. Dulu saya menganggapnya sebagai terkejut, tetapi sekarang telah menemukan kata yang lebih tepat yaitu terkesima. Saya memang pernah beberapa kali terkesima oleh sesuatu yg tiba tiba ada dihadapan saya , berkaitan dengan ilmu hisab/ Falak yang waktu itu sedang saya pelajari. Dari pada terbuang sayang, beberapa keterkesimaan saya itu ingin saya tuliskan disini.

Lanjut membaca

Ditulis pada anekdot | Di-tag , , | 3 Komentar